Santri; Menjaga Nyala Literasi di Balik Tembok Pesantren yang Minim Teknologi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SYARIFHIDAYATULLAH JAKARTA
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari alifa zuqni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang harus kita lakukan ketika teknologi mulai dibatasi atau bahkan dilarang?
Fenomena ini lazim ditemukan di lingkungan pondok pesantren. Hingga saat ini, banyak lembaga pesantren yang belum mengadopsi teknologi digital. Mereka memilih mempertahankan metode pembelajaran tradisional berbasis ceramah (wetonan/bandongan), mendengarkan, dan mencatat secara manual.
Kebijakan pembatasan teknologi ini tentu melahirkan berbagai opini, baik positif maupun negatif. Dari sudut pandang positif, banyak orang tua sengaja memilih pesantren agar anak-anak mereka tidak kecanduan gawai dan media sosial. Di rumah, keterbatasan waktu orang tua dalam mengawasi anak sering kali membuat penggunaan gawai lepas kendali. Oleh karena itu, pesantren dianggap sebagai "benteng" terbaik untuk menyelamatkan anak dari kecanduan digital.
Sebaliknya, pandangan negatif juga bermunculan. Sebagian pihak berpendapat bahwa penutupan akses terhadap teknologi membuat para santri gagap teknologi (gaptek) dan ketinggalan zaman. Padahal, pendidikan modern idealnya berjalan beriringan dengan perkembangan era digital. Selain itu, metode pembelajaran konvensional yang monoton dikhawatirkan membuat santri cepat bosan dan mengantuk karena kurangnya media pembelajaran yang interaktif.
Namun, benarkah santri di pesantren sekutubuku dan seketinggalan zaman itu?
Kenyataannya, keterbatasan akses gawai tidak membuat para santri kehilangan informasi. Mereka justru menemukan jendela dunia melalui jalur lain, yaitu buku. Mulai dari buku edukasi, novel, ensiklopedia, hingga kitab-kitab klasik (kitab kuning) menjadi santapan sehari-hari. Keterbatasan teknologi ini secara tidak langsung mendorong tumbuhnya budaya membaca di lingkungan pesantren.
Menariknya, para santri tidak sekadar membaca, tetapi juga mengaktualisasikan apa yang mereka serap. Santri yang gemar membaca novel, misalnya, terinspirasi untuk menulis karya mereka sendiri di buku tulis. Sementara itu, mereka yang kerap melahap buku edukasi dan agama, mengasah kemampuan tersebut melalui keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) dalam kegiatan muhadharah (latihan pidato mingguan).
Fenomena ini membuktikan bahwa pesantren memiliki ekosistem literasi yang sangat subur. Di setiap sudut pesantren mulai dari balai, teras masjid, bawah pepohonan, kantin, hingga lorong asrama mudah sekali dijumpai pemandangan para santri yang berkumpul, berdiskusi, dan menenteng buku bacaan mereka masing-masing. Di tengah gempuran arus digitalisasi, pesantren berhasil membuktikan bahwa budaya literasi belum mati. Literasi tersebut justru hidup dan menghidupi akal budi para santri.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pesantren menunjukkan bahwa literasi tidak selalu bergantung pada teknologi. Ketika gawai dibatasi, buku mengambil peran sebagai jendela dunia. Dari halaman-halaman buku itulah para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun daya pikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan tradisi intelektual yang terus hidup dari generasi ke generasi.
