Konten dari Pengguna

Gombloh dan suara untuk Indonesia

Aliffathan Arti

Aliffathan Arti

Mahasiswa

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aliffathan Arti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar diambil di laman Facebook Memories of Gombloh
zoom-in-whitePerbesar
Gambar diambil di laman Facebook Memories of Gombloh

Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh adalah musisi asal kota Pahlawan–Surabaya yang selalu menyuarakan kelestarian dan dekat dengan rakyat kecil juga berjiwa patriotis. Lagu-lagu yang ditulis olehnya mencerminkan hal demikian, walau di luaran sanaorang-orang tidak begitu familiar.

Memasuki momentum perayaan HUT RI kali ini nama Gombloh kembali hangat dibicarakan. Melalui lagu-lagu ciptaannya yang diputar kembali, seperti Kebyar-kebyar, Kami Anak Negeri Ini, Indonesia Kami IndonesiaKu IndonesiaMu dan Merah Putih (Berkibarlah Benderaku) yang pertama kali dinyanyikan oleh Tyas Dratistiana, serta masih ada beberapa lagu bertemakan alam dan jiwa anak muda dengan judul Berita Cuaca (Lestari Alamku), HIjau Hijau, Lintas Alam, Musim Panen di Desa, Pesan Buat Kaum Belia, dan Untuk Pemuda. Beberapa lagu tersebut erat kaitannya dengan momen perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Selain beberapa lagu tadi terdapat lagu lain yang tak kalah pamornya seperti Kugadaikan Cintaku, Apel, dan Lepen yang merupakan Gombloh bergenre pop dengan lirik jenaka seperti pada lagu Lepen dengan potongan lirik …kalau cinta melekat tai kucing rasa coklat… yang masih sering didengar bahkan di tongkrongan sekalipun. Lagu-lagu tersebut sempat menjadi hits di tanah air disamping lagu Kebyar-kebyar dan Merah Putih (Berkibarlah Benderaku).

Gombloh terbentuk dalam grup Lemon Tree’s Anno ‘69 yang seiring berjalannya waktu berganti-ganti juga personelnya. Grup ini terbentuk di tahun 1969 dan terdapat musisi terkenal yang sempat terhimpun di dalamnya seperti Leo Kristi dan Franky Sahilatua. Album yang dirilis oleh Gombloh bersama Lemon Tree’s Anno ‘69 antara lain:

● Nadia & Atmospheer (1978)

● Mawar Desa (1978)

● Kader Bangsaku (1979)

● Kebyar-Kebyar (1979)

● Pesan buat Negeriku (1980)

● Sekar Mayang (1981)

● Terima Kasih Indonesia (1981)

● Pesan Buat Kaum Belia (1982)

● Berita Cuaca (1982)

● Kami Anak Negeri Ini (1983)

Sumber: Facebook Memories of Gombloh. Salah satu album yang dirilis Gombloh & Lemon Tree's Anno '69.

Dari judul beberapa lagu dan album Gombloh bersama Lemon Tree’s Anno ‘69 tentu ada lagu yang menjadi kesukaan penulis lima diantaranya adalah Menembus Dimensi, Selamat Pagi Kotaku, Konsumsi Cinta, Hijau-Hijau, dan tentu saja Kugadaikan Cintaku.

Bagi penulis lagu-lagu Gombloh membawa pesan yang sarat akan nilai, dan sebagai karya seni tentu esensinya begitu dalam. Dari beberapa lagu tadi Gombloh menjabarkan nilai yang bagi penulis bisa menjadi pengingat atau bahkan teguran dalam menyikapi berbagai macam hal yang terjadi di sekitar. Ambil saja contoh lagu Hijau Hijau, yang adalah kritik sosial dan ajakan untuk melestarikan lingkungan, tetapi juga membawa pesan kecintaan kepada kesuburan dan keindahan bumi nusantara.

Adapun judul lagu berikut Selamat Pagi Kotaku yang didedikasikan untuk rakyat kecil. Lagu ini merupakan gambaran atas ketimpangan dan kerasnya kehidupan kota. Di satu sisi orang memimpikan hidup yang adil dan merata, namun semua itu buyar seketika.

Kugadaikan Cintaku, karya satu ini memang karya yang ditulis dan dirilis di tahun 1986 ini adalah lagu paling populer milik Gombloh, kenapa tidak? Pasalnya lagu bertemakan cinta ini begitu ikonik. Terinspirasi dari pengalaman pribadi dari Gombloh sendiri. Album penjualan di bawah Nirwana Records mencapai angka 500.000 kaset dan menjadikan lagu Kugadaikan Cintaku masterpiece kedua setelah Kebyar-Kebyar. Wajar bagi penulis kemudian menyukai karena begitu populernya lagu ini.

Lewat Konsumsi Cinta Gombloh menganalogikan “cinta” sebagai wabah yang bukan hanya manusia, kambing pun terkena—kelakar Gombloh dalam liriknya. Akan tetapi yang menarik bagi penulis adalah liriknya. Terdapat dua kalimat yang mengandung nilai tersendiri bagi penulis.

Tertawalah kau saat engkau tenggelam

Tersenyumlah kau saat engkau temaram

…

Singkirkan malu kalau engkau berminat

Nyatakan oh kalau engkau berhasrat

Bagi penulis lagu ini bukan hanya lagu tentang cinta atau balada pop, tapi lirik ini menegaskan bahwa lebih jauh dari itu terdapat pesan tentang kehidupan dan menyikapi kejadian yang dialami dengan bermakna.

Sedangkan dalam Menembus Dimensi Gombloh mengingatkan pada kita terutama penulis untuk pulang dan membangun peradaban setelah lama menimba ilmu nun jauh, seperti dalam liriknya

..pulang engkau anak negeri sumbangkan darma baktimu bangunlah desa dengan keringatmu demi mereka anak cucu demi mereka generasimu..

ini merupakan nilai yang begitu berharga yang penulis bagikan dan sebagai pendengar Gombloh, memori yang dibawa ini bisa kita renungkan kembali untuk menyikapi kehidupan bumi ini.

Karir memang Gombloh tidak lama bahkan hanya sedekade. Tahun 1988 tepatnya di tanggal 9 Januari Gombloh berpulang. Akan tetapi, karya-karyanya tetap dan selalu dikenang oleh kami anak negeri ini dan menjaga nyanyian nyala api. Gombloh membawa spirit, spirit yang digerakkan bersama–Semangatmu tak sendirian kawan!

Sumber: Facebook Memories of Gombloh

Dalam momentum perayaan kemerdekaan ini semoga suara Gombloh senantiasa bergema menemani kita dalam beraktivitas dan menyentuh nuranimu. “Biarpun Bumi Berguncang Kau Tetap Indonesiaku” yang bercita-citakan gemah ripah lohjinawi tentrem kartaraharja.