Inovasi Produk Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah menjadi Lilin Aromaterapi

TIM II KKN Universitas Diponegoro, Desa Kwayangan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alifia Nofiriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kwayangan Pekalongan (03/08/2024) - Minyak goreng merupakan bahan pangan yang paling sering digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari – hari. Dimana dalam setiap kegiatan memasak akan menghasilkan limbah minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak goreng bekas yang telah digunakan berkali – kali (lebih dari 4 kali) untuk menggoreng makanan, memiliki warna yang lebih pekat, bau dan bertekstur akibat paparan panas tinggi, sisa – sisa makanan, dan proses oksidasi. Penggunaan berulang minyak jelantah untuk menggoreng makanan dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan seperti penyakit kanker dalam jangka waktu yang panjang karena terbentuknya senyawa – senyawa berbahaya seperti akrolein yang bersifat karsinogenik yang terjadi selama proses penggorengan. Minyak jelantah sering kali oleh masyarakat langsung dibuang ke saluran pembuangan, yang mana hal tersebut secara tidak langsung dapat menyebabkan pencemaran lingkungan terutama terhadap kualitas air tanah. Melihat keresahan akibat banyaknya limbah minyak jelantah dalam kehidupan sehari – hari, Alifia Nofiriana mahasiswi KKN Tim II UNDIP memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan limbah minyak jelantah melalui program kerja monodisiplin “Pemanfaatan limbah cair dari minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi guna mencegah adanya pencemaran tanah dan air”.

Program ini dilaksanakan di Balai Desa Kwayangan pada hari Sabtu, 03 Agustus 2024 yang dihadiri oleh ibu – ibu PKK Desa Kwayangan. Kegiatan dimulai dengan edukasi mengenai dampak penggunaan minyak jelantah bagi lingkungan dan kesehatan dan dilanjutkan dengan demonstrasi produk dari pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi kemudian pemberian contoh produk jadi. Proses pengolahan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Pembuatan lilin dimulai dengan memanaskan minyak jelantah, asam stearat dan crayon hingga tercampur rata dilanjutkan memasukkan essensial oil/pewangi kemudian pendinginan. Selama kegiatan berlangsung, tanggapan dari ibu – ibu PKK sangat positif dan antusias, ibu – ibu juga aktif bertanya mengenai bahan yang digunakan.
Adanya program pelatihan pembuatan Lilin Aromaterapi dari minyak jelantah ini diharapkan masyarakat Desa Kwayangan dapat lebih peduli akan pentingnya daur ulang dan pemanfaatan limbah, khususnya limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang begitu saja yang mengakibatkan pencemaran lingkungan. Lilin aromaterapi juga memiliki manfaat relaksasi bagi kesehatan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat baik dari segi kesehatan mental maupun fisik. Tidak hanya itu, dengan memanfaatkannya menjadi lilin aromaterapi diharapkan menjadi solusi serta inovasi baru untuk membuka peluang usaha sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi bagi masyarakat sekaligus Desa Kwayangan.
