Lulus Kuliah, Lalu Menunggu: Ketika Pendidikan Belum Menjamin Pekerjaan

haii semuanya, aku mahasiswi universitas pamulang, fakultas keguruan ilmu pendidikan, prodi pendidikan ekonomi s1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari alifia nurhikmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Sudah kerja di mana sekarang?”
Bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir, pertanyaan sederhana ini bisa terasa cukup sulit dijawab. Apalagi ketika teman-teman mulai mengunggah foto wisuda, membagikan pengalaman kerja pertama, atau menceritakan kesibukan mereka di kantor. Sementara itu, ada juga lulusan yang masih sibuk membuka situs lowongan kerja, memperbaiki CV, dan mengirim lamaran ke berbagai perusahaan.
Mereka sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar. Ada biaya kuliah yang harus dibayar, tugas yang dikerjakan sampai malam, dan ujian yang dilewati. Harapannya, setelah lulus, mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan mulai mandiri secara finansial. Namun, kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Situasi ini memunculkan pertanyaan yang menarik: jika pendidikan semakin mudah dijangkau dan jumlah lulusan terus bertambah, mengapa mendapatkan pekerjaan yang sesuai masih menjadi tantangan bagi sebagian orang?
Persoalannya ternyata bukan sekadar soal seseorang rajin belajar atau tidak. Ada kondisi perekonomian yang lebih luas yang ikut menentukan seberapa besar peluang seseorang untuk bekerja. Memiliki ijazah adalah modal penting, tetapi ketersediaan pekerjaan dan kesesuaian keterampilan juga menentukan peluang seseorang memasuki dunia kerja.
Ketika seseorang mencari pekerjaan, ia sebenarnya sedang bertemu dengan dua sisi yang harus saling cocok. Di satu sisi, ada tenaga kerja yang menawarkan kemampuan, pendidikan, dan pengalaman. Di sisi lain, ada perusahaan yang membutuhkan pekerja dengan keterampilan tertentu. Masalah muncul ketika kemampuan yang dimiliki pencari kerja tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan, atau ketika jumlah lowongan yang tersedia tidak cukup untuk menampung pencari kerja.
Dalam ekonomi makro, kondisi ini berkaitan dengan pengangguran dan penyerapan tenaga kerja. Perekonomian yang sehat bukan hanya perekonomian yang menghasilkan banyak barang dan jasa, tetapi juga yang mampu membuka kesempatan kerja secara luas. Ketika kegiatan usaha berkembang dan perusahaan membutuhkan tambahan pekerja, peluang kerja bisa meningkat. Sebaliknya, ketika perekrutan melambat, pencari kerja harus bersaing memperebutkan kesempatan yang lebih terbatas. Namun, persoalan lulusan yang belum bekerja tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh mereka menambah sertifikat atau mengikuti pelatihan. Pelatihan memang dapat membantu meningkatkan keterampilan, tetapi hasilnya akan terbatas jika kesempatan kerja yang sesuai tidak tersedia. Kita juga perlu melihat apakah pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan industri sudah berjalan beriringan.
Menurut saya, salah satu hal yang perlu diperbaiki adalah hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Mahasiswa sebaiknya tidak hanya mendapatkan teori di kelas, tetapi juga kesempatan untuk mengenal pekerjaan secara nyata melalui magang, proyek, atau pengalaman praktik yang relevan. Dengan begitu, lulusan memiliki gambaran lebih jelas tentang kemampuan yang dibutuhkan perusahaan. Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu mengevaluasi apakah keterampilan yang diajarkan masih sesuai dengan perubahan kebutuhan pasar kerja. Dunia kerja terus berkembang, termasuk karena penggunaan teknologi dan perubahan cara perusahaan menjalankan bisnis. Pendidikan tidak harus selalu mengikuti setiap tren, tetapi perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang bisa digunakan dan dikembangkan ketika kebutuhan pekerjaan berubah.
Pemerintah dan dunia usaha juga memiliki peran penting. Pertumbuhan kegiatan ekonomi perlu diikuti penciptaan pekerjaan yang produktif, peningkatan kualitas pelatihan, serta akses informasi lowongan yang lebih merata. Kesempatan kerja juga sebaiknya tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu sehingga lulusan di daerah memiliki pilihan yang lebih terbatas. Pada akhirnya, lulusan yang belum bekerja tidak selalu berarti kurang berusaha. Ada banyak faktor yang memengaruhi proses tersebut, mulai dari pengalaman, keterampilan, lokasi, hingga jumlah lowongan yang tersedia. Karena itu, membicarakan pengangguran terdidik seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan mengapa seseorang belum mendapatkan pekerjaan, tetapi juga bagaimana sistem pendidikan dan perekonomian menyediakan jalan bagi mereka untuk bekerja.
Gelar sarjana seharusnya menjadi pintu menuju kesempatan yang lebih luas, bukan sekadar dokumen yang disimpan setelah wisuda. Kita memang tidak bisa menjamin setiap lulusan langsung memperoleh pekerjaan. Namun, pendidikan yang baik, keterampilan yang relevan, dan perekonomian yang mampu menciptakan lapangan kerja dapat membuat peluang tersebut menjadi lebih nyata. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari banyaknya mahasiswa yang lulus, tetapi juga dari seberapa baik mereka dapat menggunakan pengetahuannya untuk membangun kehidupan dan berkontribusi kepada masyarakat.
