Konten dari Pengguna

Candaan Telor Ceplok Anak Krakatau dan Ingatan Kelam Tragedi Sang Ibu

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ALIFIA PUTRI AZAHARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cr: hasil karya Alifia Putri
zoom-in-whitePerbesar
cr: hasil karya Alifia Putri

Mengapa lelucon telor ceplok Anak Krakatau di TikTok justru memancing ingatan pada sejarah kelam masa lalu? Belakangan ini lini masa media sosial sering diramaikan oleh celetukan warganet yang berkomentar, mau bikin telor ceplok doang abunya ke mana-mana, saat melihat video aktivitas Anak Krakatau. Menurut saya pribadi, gaya bercanda ini memang menjadi cara khas masyarakat kita untuk mencairkan ketegangan di tengah ancaman alam. Namun, di balik tawa tersebut, guyonan ini seolah menarik kembali memori kolektif kita pada sang ibu, yakni Gunung Krakatau purba, yang pada masa lalu memiliki rekam jejak serupa namun dengan akhir yang jauh lebih mematikan. Seberapa mengerikan dampak nyata dari amukan letusan sang ibu pada tahun silam? Catatan sejarah menunjukkan bahwa erupsi Krakatau pada Agustus 1883 bukanlah sekadar letusan yang menyebar

kan abu biasa. Erupsi tersebut memicu gelombang tsunami raksasa yang menyapu pesisir Banten dan Lampung, serta merenggut puluhan ribu korban jiwa. Bahkan, material vulkanik dari letusan itu sempat menutupi atmosfer dan menurunkan suhu iklim dunia selama beberapa waktu. Fakta sejarah inilah yang membuat banyak orang selalu bersikap sangat waspada setiap kali sang anak mulai menyemburkan abunya. Apakah pantas kita merespons potensi bencana dari pewaris Krakatau ini dengan sekadar candaan? Saya rasa sah saja jika warganet menggunakan humor untuk meredam kepanikan, asalkan hal itu tidak membuat kita lengah sama sekali. Sindiran receh soal abu yang bertebaran itu sejatinya harus menjadi alarm pengingat bahwa gunung ini mewarisi bahaya dari entitas yang pernah menggelapkan bumi. Kita boleh saja tertawa membaca komentar lucu di TikTok, tetapi kewaspadaan masyarakat pesisir serta sistem peringatan dini bencana harus tetap disiagakan dengan serius tanpa kompromi.