Drama AI Meningkat: Hiburan atau Ancaman?

Berkutik di Jurusan Pendidikan Guru SD di Universitas Pamulang dengan karir sebagai Pendidik/Guru Private. Education is the heart of life.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari ALIFIA PUTRI AZAHARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah ramainya minat masyarakat menonton drama pendek hasil kecerdasan buatan, kita sering kali lupa bahwa dunia digital itu tidak sepenuhnya maya. Kita kerap berpikir bahwa internet dan data yang tersimpan adalah ruang hampa yang sama sekali tidak berdampak pada bumi. Faktanya, setiap video beresolusi tinggi yang dibuat dan diputar oleh AI menuntut tenaga listrik yang luar biasa besar dari komputer-komputer di pusat data raksasa. Sayangnya, sebagian besar mesin penyimpan data ini masih dihidupkan menggunakan energi kotor seperti batu bara. Jika kebiasaan menonton hiburan instan ini terus dibiarkan tanpa kendali, kita sebenarnya sedang menukar udara bersih dengan sekadar kepuasan visual sesaat di layar ponsel.
Pantaskah kita membuang jutaan liter air bersih hanya untuk mendinginkan mesin pembuat video?
Selain masalah polusi udara, ada satu ancaman lingkungan dari teknologi AI yang jarang disadari publik, yaitu krisis air. Mesin komputer super canggih yang bekerja tanpa henti untuk memproduksi video sangat mudah mengalami panas berlebih. Untuk mencegah mesin tersebut rusak, fasilitas pusat data harus menyedot jutaan liter air bersih setiap harinya hanya sebagai pendingin. Ini menjadi sebuah ironi yang menyedihkan ketika di berbagai pelosok negeri kita sendiri masih banyak masyarakat yang kesulitan mencari air bersih, terutama saat musim kemarau. Sangat disayangkan jika sumber kehidupan yang begitu berharga justru dikorbankan demi memproduksi video hiburan fiktif yang umurnya hanya numpang lewat di linimasa media sosial.
Siapa yang harus paling bertanggung jawab atas kerusakan alam akibat kecanduan konten digital ini?
Ketika membahas kerusakan lingkungan akibat teknologi, perdebatan sering kali hanya berujung pada menyalahkan perusahaan teknologi raksasa agar segera beralih ke energi ramah lingkungan. Namun, kita seolah lupa untuk bercermin pada diri sendiri. Sebagai pengguna yang selalu menuntut tontonan baru tanpa henti setiap hari, kitalah yang memicu mesin-mesin raksasa tersebut terus dipaksa bekerja keras. Kita tidak bisa terus-terusan lepas tangan dari tanggung jawab moral ini. Tantangan terbesarnya sekarang adalah, mampukah kita menekan hasrat konsumtif dan mulai membatasi penggunaan gawai demi menyelamatkan bumi yang kerusakannya sudah semakin parah di depan mata?
