Menjaga Eksistensi Budaya Tradisional Indonesia

Mahasiswi Program Studi Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan Bandung.
Tulisan dari Alika Aurazaviera tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alasan Perlunya Menjaga Eksistensi Budaya Tradisional
Era globalisasi erat kaitannya dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir. Perkembangan teknologi pun memberikan dampak terhadap berbagai bidang, salah satunya dalam bidang informasi. Salah satu hal yang paling terasa dampaknya adalah informasi mengenai kebudayaan dari negara lain yang dapat kita ketahui secara cepat. Hal ini bisa menjadi peluang untuk Indonesia mengetahui bagaimana bentuk kebudayaan di negara lain. Akan tetapi, informasi mengenai kebudayaan asing yang terus cepat masuk tanpa disaring, dapat membuat Indonesia kehilangan jati dirinya dalam hal kebudayaan yang dimiliki. Budaya tradisional dapat terus menerus tergerus, sehingga diperlukan penjagaan terhadap eksistensi budaya tradisional. Oleh karena itu, terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga eksistensi budaya tradisional di era globalisasi ini.
Tiga Cara Menjaga Eksistensi Budaya Tradisional Indonesia
Secara total, Indonesia memiliki 34 provinsi yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing provinsi pun memiliki berbagai macam suku yang memiliki budayanya sendiri. Dengan banyaknya budaya yang dimiliki oleh setiap daerah, maka diperlukan penjagaan terhadap budaya tersebut.
Terdapat tiga hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga budaya tradisional. Pertama adalah pelestarian sejarah budaya itu sendiri di media sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan kolaborasi dan bantuan dari seluruh golongan tua dan muda. Golongan tua dapat memberikan pemahamannya tentang budaya yang tentu saja pasti lebih kental ilmunya. Sementara, golongan muda bisa mempublikasikan penjelasannya ke media sosial, sehingga siapapun pengguna media sosial dapat mengetahuinya. Hal ini bisa dilakukan dengan asumsi bahwa pemahaman budaya itu sendiri diambil dari beberapa sumber dari golongan tua atau budayawan, sehingga bisa terbukti kebenarannya.
Kedua adalah bagaimana sikap kita dalam menanggapi budaya asing yang masuk. Untuk tetap menjaga eksistensi dari budaya tradisional Indonesia, kita perlu melakukan penyaringan terhadap budaya asing yang masuk. Hal ini dilakukan karena tidak semua budaya asing sesuai dengan norma yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, sikap keterbukaan dan kebebasan yang ditawarkan oleh era globalisasi ini menyebabkan banyak orang menjadi cenderung cuek dengan lingkungannya dan tidak memiliki sopan santun. Hal ini tentu saja berbahaya apabila terus menerus dilakukan, padahal Indonesia terkenal dengan sopan santun dan sikap gotong royongnya. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus pintar dalam menyaring budaya asing yang masuk ke Indonesia. Pintar dalam memilih mana budaya yang sesuai dengan norma kita atau tidak.
Ketiga dan yang terakhir adalah perlunya pengenalan budaya tradisional semenjak kecil di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Hal ini bisa dilakukan dengan pemberian materi khusus mengenai kebudayaan daerah di sekolah. Sebagai contoh, para siswa yang bersekolah di daerah DKI Jakarta dapat mempelajari kebudayaan Betawi mulai dari ondel-ondel, permainan bentengan, dan sebagainya. Pemberian materi juga harus diikuti dengan praktik, sehingga dapat terus melekat di dalam pikiran siswa sampai dewasa nanti.
Selain itu, pengenalan juga dapat dilakukan melalui media animasi, seperti kartun. Sebagaimana anak kecil menyukai kartun, maka kartun yang memasukkan budaya tradisional ke dalamnya dapat menjadi salah satu media yang tepat untuk mengenalkan anak terhadap budaya tradisional. Ketika anak tersebut beranjak dewasa, mereka bisa mengingat kembali cuplikan kartun yang disisipkan adegan tentang kebudayaan Indonesia.
Penutup
Dengan demikian, kesimpulan yang dapat saya ambil adalah dengan melakukan ketiga cara yang telah dijelaskan di atas, maka kita telah turut menjaga eksistensi budaya tradisional. Perkembangan teknologi informasi bukanlah suatu hal yang dapat kita cegah, melainkan suatu hal yang dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Masuknya budaya asing pun bisa menjadi suatu hal yang positif apabila diterapkan secara bijak tanpa melanggar norma di Indonesia itu sendiri.
Selain itu, penyaringan terhadap budaya asing juga diperlukan dengan bantuan seluruh komponen di Indonesia. Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah akan menciptakan filter yang bagus untuk menyaring budaya itu sendiri. Setelah filter budaya asing dilakukan dengan baik, maka selanjutnya adalah membangkitkan kembali budaya tradisional di Indonesia. Dengan begitu, kita tidak akan kehilangan jati diri dan ciri khas budaya Indonesia.
Daftar Pustaka
Disbud, Admin. (2019, Januari 07). Pentingnya Menjaga Kebudayaan Daerah. Diambil dari disbud.bulelengkab.co.id: https://disbud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pentingnya-menjaga-kebudayaan-daerah-70
Anonim. (2016, Agustus 17). Pengaruh Budaya Asing. Diambil dari kesbangpol.riau.co.id: https://kesbangpol.riau.go.id/media.php?p=detail_artikel&id=207
Gischa, Serafica. (2020, September 23). Cara Melestarikan Budaya Indonesia. Diambil dari kompas.com : https://www.kompas.com/skola/read/2020/09/23/130000869/cara-melestarikan-budaya-indonesia?page=all
