Konten dari Pengguna

Dari Gagasan Kebersamaan Hingga Tantangan Zaman Modern

Alika Almadina Thalia Yosepa

Alika Almadina Thalia Yosepa

Mahasiswa unpam 2026

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alika Almadina Thalia Yosepa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan: Kita Lupa Cara Bersama

Dulu, kebersamaan itu bukan jargon. Itu cara hidup. Gotong royong, musyawarah, tepo seliro - semua itu adalah sistem operasi masyarakat Indonesia. Bung Karno merangkumnya dalam Pancasila, tepatnya Sila ke-3 Persatuan Indonesia dan Sila ke-4 Kerakyatan.

Tapi hari ini, jujur saja, kita sedang krisis kebersamaan. Kita hidup serumah tapi beda dunia karena sibuk dengan gawai masing-masing. Kita bertetangga tapi tidak saling kenal.

Pertanyaannya: Apakah gagasan kebersamaan itu sudah usang?

Pembahasan: 3 Tantangan Kritis Zaman Now

1. Individualisme Digital: Bersama Secara Fisik, Sendiri Secara Mental

Zaman modern menjual mimpi individualisme: "Jadilah diri sendiri, tidak perlu orang lain." Media sosial memperkuat ini. Algoritmanya membuat kita masuk ke echo chamber - hanya berteman dengan yang sepemikiran. Akibatnya, kita anti kritik dan mudah memusuhi yang berbeda.

Kebersamaan dulu: "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."

Kebersamaan sekarang: "Berat lo ya lo, ringan gua ya gua."

Ini berbahaya karena merusak esensi Sila ke-5, Keadilan Sosial. Kalau semua mikir diri sendiri, siapa yang peduli ketimpangan?

2. Musyawarah Diganti Voting dan Viralitas

Dulu ada budaya musyawarah untuk mufakat. Cari titik temu paling adil, bukan paling ramai.

Sekarang logikanya berubah jadi logika like dan viral. Siapa yang paling berisik di medsos, dia yang menang. Siapa yang paling banyak follower, dia yang paling benar. Kita kehilangan kesabaran untuk mendengarkan. Padahal kebersamaan butuh satu skill mahal: mau mengalah untuk menang bersama.

3. Gotong Royong Kalah oleh Logika Transaksional

Dulu bantu tetangga bangun rumah gratis, karena besok giliran kita dibantu. Sekarang semua dihitung: "Gue dapet apa?"

Semua jadi transaksional. Kerja kelompok di kampus saja dihitung SKS. Kepedulian sosial diukur dengan konten. Akhirnya, kebersamaan hanya jadi formalitas seremonial saat 17 Agustus, bukan nilai hidup.

Penutup: Kebersamaan Bukan Nostalgia, Tapi Strategi Bertahan

Gagasan kebersamaan tidak usang, justru semakin relevan. Di zaman modern yang penuh kecemasan, PHK karena AI, dan krisis mental, manusia butuh lagi rasa memiliki komunitas.

Tantangannya bukan menolak modernitas, tapi memodifikasi kebersamaan:

- Dari gotong royong fisik menjadi gotong royong digital:

Contohnya kolaborasi open-source, crowdfunding untuk teman sakit, atau gerakan cek fakta bersama lawan hoaks.

- Dari musyawarah di balai desa menjadi musyawarah di grup WhatsApp RT yang sehat:

Aturan mainnya jelas, tidak ada ujaran kebencian, fokus pada solusi.

Kesimpulannya, kebersamaan bukan tentang kembali ke masa lalu. Tapi tentang membawa nilai lama - yaitu peduli, empati, dan mau berbagi beban - untuk menjawab masalah baru. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi kumpulan individu yang canggih secara teknologi, tapi miskin secara kemanusiaan.