Konten dari Pengguna

Kunci Financial Well-Being Dan Ketahanan Ekonomi Nasional

Alika Almadina Thalia Yosepa

Alika Almadina Thalia Yosepa

Mahasiswa unpam 2026

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alika Almadina Thalia Yosepa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, akses terhadap produk keuangan semakin mudah, namun diiringi dengan maraknya penawaran investasi ilegal dan perilaku konsumtif akibat Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, Kuliah Umum yang diselenggarakan Universitas Pamulang pada 23 September 2026 dengan tema "Cerdas dan Bijak Mengelola Keuangan di Era Digital" menjadi sangat relevan. Kuliah ini menekankan bahwa literasi keuangan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi merupakan fondasi ketahanan ekonomi nasional.

Dampak Berantai dari Literasi Keuangan

Materi kuliah menjelaskan sebuah alur penting: Ketika individu cerdas dalam mengelola keuangan pribadi, maka tabungan dan investasi nasional akan menguat. Penguatan tersebut akan membuat sektor keuangan menjadi lebih sehat dan stabil, yang pada akhirnya akan mewujudkan perekonomian nasional yang tangguh. Visi ini dirangkum dalam tagline "Masyarakat Cerdas Keuangan, Indonesia Lebih Kuat" dan "Kelola Keuangan, Raih Masa Depan."

Lima Prinsip Fundamental Sebelum Berinvestasi

Narasumber menegaskan ada lima prinsip yang wajib dipahami mahasiswa sebelum berinvestasi:

Pertama, Tujuan Investasi. Setiap instrumen memiliki jangka waktu. Untuk kebutuhan <1 tahun gunakan pasar uang, 1-5 tahun gunakan Surat Berharga Negara (SBN) atau Reksadana, dan >5 tahun baru mempertimbangkan saham.

Kedua, Prinsip High Risk High Return. Tidak ada investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi, pasti, dan tanpa risiko. Semakin tinggi potensi keuntungannya, semakin tinggi pula risikonya.

Ketiga, Diversifikasi, Jangan menempatkan seluruh dana pada satu instrumen atau satu entitas saja. Portofolio yang terdiversifikasi akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih stabil dibanding hanya fokus pada satu aset.

Keempat, Hindari FOMO. Jangan berinvestasi hanya karena ikut-ikutan tren, terutama pada aset kripto atau saham gorengan tanpa memahami fundamental dan risikonya.

Kelima, Kenali Ciri Investasi Ilegal. Ciri utamanya adalah menjanjikan imbal hasil tinggi dan pasti dalam waktu singkat, tanpa risiko, menggunakan skema member-get-member, dan tidak memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Data yang dipaparkan sangat memprihatinkan. Sepanjang Januari 2025 hingga Maret 2026, Satgas PASTI menerima 6.904 pengaduan terkait penawaran investasi ilegal, namun baru 356 entitas atau sekitar 5,1% yang berhasil dihentikan. Artinya, jumlah entitas ilegal yang masih beredar di masyarakat diperkirakan jauh lebih besar.

Ilustrasi gambar dari AI/ChatGPT

Dari APBN Hingga SBN: Bentuk Nyata Investasi untuk Negeri

Materi juga mengulas bahwa APBN adalah #UangKita, Dari Anggaran Menjadi Manfaat. Salah satu cara masyarakat berkontribusi sekaligus berinvestasi secara aman adalah melalui Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seperti ORI, SBR, dan ST.

Sebagai contoh, SBN ORI 030 T3 dengan tenor 3 tahun menawarkan kupon tetap 5,80% per tahun. Untuk investasi sebesar Rp10.000.000, investor akan mendapatkan kupon per bulan sebesar Rp517.500 setelah dipotong PPh final 1 0%. Keunggulan SBN adalah memberikan dua manfaat sekaligus: FINANCIAL RETURN berupa kupon, dan DEVELOPMENT RETURN karena dana tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan nasional.

PIKIRKAN SEBELUM PUTUSKAN

Sebagai penutup, Kemenkeu memberikan 6 langkah cerdas sebelum mengambil keputusan keuangan: 1) Tawaran menggiurkan? 2) Tapi ada yang janggal, 3) Berhenti sejenak dan pikirkan kembali, 4) Lakukan pengecekan legalitas di OJK, 5) Tanyakan pada yang ahli, 6) Pilih yang legal dan logis.

KESIMPULAN

Akses keuangan hari ini adalah pintu, namun kesejahteraan finansial (Financial Well-Being) adalah tujuan akhir. Di era digital, teknologi hanyalah alat, kitalah yang menentukan hasilnya. Dengan meningkatkan literasi, menghindari FOMO, melakukan diversifikasi, dan selalu memilih instrumen yang legal dan logis seperti SBN, maka kita tidak hanya sedang mengamankan masa depan pribadi, tetapi juga ikut memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.