Konten dari Pengguna

Di Tengah Indonesia Hari Ini, Masihkah Kita Menjunjung Nilai Kemanusiaan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alisha Jasmine Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi by Nick Agus Arya via Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi by Nick Agus Arya via Unsplash

Bayangkan kamu hidup di negara yang tidak menjunjung nilai kemanusiaan. Setiap pribadi bebas saling memaki, merendahkan, bahkan saling menjatuhkan tanpa mempedulikan hak dan martabat orang lain. Mungkin itulah gambaran negara yang jauh dari nilai kemanusiaan. Beruntungnya, kita terlahir sebagai warga negara Indonesia yang menjadikan nilai-nilai Pancasila, termasuk nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, jika kita melihat Indonesia hari ini, pertanyaannya menjadi lebih dekat: sejauh mana nilai kemanusiaan benar-benar kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Beberapa waktu belakangan, Indonesia dapat dikatakan sedang mengalami darurat kesadaran dalam pengamalan nilai kemanusiaan. Hal tersebut dapat dilihat dari maraknya kasus perundungan secara verbal, nonverbal, bahkan perundungan siber yang dilakukan di media sosial. Apakah hal tersebut pantas dilakukan oleh masyarakat yang hidup di negara yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila?

Ilustrasi by Road Ahead via Unsplash

Maraknya kasus perundungan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia masih minim kesadaran dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Memang, setiap individu di Indonesia sejak masih berada di tingkat pendidikan sekolah dasar sudah dibekali teori tentang nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, tidak semua individu diberikan contoh nyata mengenai penerapan setiap nilai Pancasila sehingga dapat tumbuh menjadi individu yang hanya mengetahui teori tanpa mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Perundungan seharusnya tidak dijadikan hal yang lumrah, apalagi tindakan tersebut menyangkut martabat seseorang. Contoh nyata yang dapat kita lihat adalah kasus perundungan yang terjadi pada seorang siswa SMP di Semarang. Mungkin bagi pelaku, hal tersebut hanyalah lelucon, tetapi bagi korban, tindakan itu merupakan sesuatu yang dapat membuatnya ketakutan dan tidak berani berangkat ke sekolah sampai tiga bulan lamanya. Hal tersebut menjadi bukti bahwa seorang pelajar sekalipun, yang masih dibekali teori mengenai nilai-nilai Pancasila setiap minggunya, belum tentu mampu mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.

Ilustrasi by Zhivko Minkov via Unsplash

Selain berasal dari tindakan pelaku, permasalahan perundungan juga berkaitan dengan sikap orang-orang di sekitarnya. Tidak sedikit siswa yang memilih diam ketika melihat temannya dirundung karena menganggap hal tersebut bukan urusan mereka atau hanya sebuah lelucon. Padahal, membiarkan tindakan tersebut terjadi berarti memberikan ruang bagi perilaku yang bertentangan dengan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk belajar dan berkembang tanpa rasa takut.

Oleh karena itu, selain membekali murid dengan teori mengenai nilai-nilai Pancasila, seharusnya lingkungan sekolah juga lebih sering memberikan kesempatan kepada murid untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari tentang nilai-nilai Pancasila. Nilai Pancasila bukan hanya tentang nilai Ketuhanan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan, tetapi juga nilai Kemanusiaan yang harus selalu diingat dan dijadikan landasan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, menerapkan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab bukanlah sesuatu yang cukup dilakukan dengan menghafalkan teori Pancasila. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan menghargai dan memperlakukan orang lain dengan baik. Perundungan tidak seharusnya dianggap sebagai candaan. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya menjadi sesuatu yang kita pelajari di dalam kelas, tetapi juga menjadi pedoman yang benar-benar kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.