Konten dari Pengguna

Mengapa Bau Bisa Membawa Kita ke Masa Lalu?

Alisya Putri Amanda

Alisya Putri Amanda

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alisya Putri Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan memilih wangi parfum. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan memilih wangi parfum. Foto: Shutter Stock

Setiap orang pasti pernah mengalami momen ini: sekelebat aroma tak sengaja terhirup, lalu pikiran kita tiba-tiba ditarik mundur ke masa lalu. Entah itu wangi panggangan kue kering resep nenek di hari raya, aroma tanah setelah hujan, atau wangi parfum mantan pacar yang ternyata masih tertinggal di ingatan.

Seketika, emosi dan memori dari masa itu terputar ulang dengan sangat jelas di kepala kita. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak sampai sebuah wangi bisa memutar kembali memori kita secara tiba-tiba?

Neurologi Bau dan Jaringan Otak

Ilustrasi saraf otak. Foto: Axel_Kock/Shutterstock

Fenomena bangkitnya kenangan lewat penciuman (atau olfaktika) punya penjelasan ilmiah yang sangat menarik. Jika kita melihat atau mendengar sesuatu, informasi tersebut harus melewati banyak tahap dan proses di otak sebelum akhirnya kita paham maknanya. Namun, indra penciuman kita punya cara kerja yang berbeda.

Begitu sebuah aroma masuk ke hidung, reseptor penciuman akan menangkapnya dan langsung mengirimkan sinyal ke glomerulus, yakni bagian otak yang bertugas mengenali struktur kimia dari wangi tersebut.

Dari titik itu, sinyalnya tidak perlu mampir ke tahap lain, melainkan langsung menuju sistem limbik. Sistem limbik adalah area otak yang mengendalikan emosi dan ingatan kita. Di area inilah terdapat dua bagian penting yang langsung menyambut sinyal aroma tadi: amigdala (pusat pengelola emosi) dan hipokampus (pusat penyimpan memori jangka panjang).

Karena jalur penciuman ini sangat singkat dan terhubung langsung dengan pusat ingatan serta emosi, respons kita terhadap suatu wangi biasanya terjadi sangat cepat dan sering kali memancing perasaan yang kuat.

Bau Sebagai Pemicu Emosi

Keterkaitan langsung antara hidung dan perasaan ini didukung oleh berbagai penelitian. Sebuah studi dari Wahyuningtyas (2015) mencatat bahwa area di otak yang berfungsi memproses bau-bauan terhubung sangat kuat dengan pusat emosi.

Artinya, otak kita tidak sekadar mengenali wangi, tetapi secara otomatis ikut mengarsipkan perasaan yang sedang kita alami saat mencium wangi tersebut. Inilah alasannya mengapa aroma spesifik bisa menjadi pelatuk emosi yang sangat akurat.

Sebagai contoh, wangi seduhan kopi panas mungkin sekadar pengusir kantuk bagi sebagian orang, tapi bisa memicu rasa sedih jika ada memori kehilangan di baliknya. Sebaliknya, aroma buah yang segar sanggup membangkitkan perasaan bahagia atau romantis.

Otak manusia dianugerahi ratusan reseptor penciuman tingkat tinggi yang sanggup membedakan wangi yang paling halus sekalipun. Kemampuan ini membuat kita bisa merekam ribuan memori emosional dengan sangat detail.

Pada akhirnya, ketika ada wangi khas yang tiba-tiba memutar kembali ingatan tentang seseorang di masa lalu, itulah cara anatomi otak menolak lupa. Hal ini menyadarkan kita bahwa memori bukanlah sekadar data biologis, melainkan jejak dari mereka yang pernah bermakna. Melalui setiap detail aroma yang terekam di kepala, sebagian dari diri mereka akan selalu hidup dan menetap di dalam diri kita.

Daftar Pustaka

  • A. King, Laura. 2010. Psikologi Umum. Jakarta : Salemba Humanika.

  • Wahyuningtyas, B. P. (2015). Aroma sebagai Komunikasi Artifaktual Pencetus Emosi Cinta: Studi Olfactics pada Memory Recall Peristiwa Romantis. Humaniora, 6(1), 77-85.