GTR Ultra 2026 Sukses Digelar, Cerita Pelari 12K: Harapan Soal Marka dan Marshal

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Alive Nuragni Atmadja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

BANYUBIRU, KABUPATEN SEMARANG – Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 resmi digelar pada Minggu (27/9/2026) di Lapangan Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Lapangan ini menjadi titik start dan finish seluruh kategori lomba. Para pelari menempuh jalur pegunungan dengan tantangan yang beragam.
GTR Ultra 2026 adalah event lari lintas alam yang diadakan di Kawasan Wisata Gunung Gajah Telomoyo, Nogosaren, Kabupaten Semarang, event ini merupakan kompetisi tahunan komunitas. Event ini diselenggarakan oleh Escape Nice yang dikenal sebagai BeNice Adventure dan Tarra Adventure, event ini juga berkolaborasi dengan karang taruna setempat.
GTR Ultra 2026 membuka empat kategori jarak:
• 7K (Short/Pelajar)
• 12K (Medium)
• 30K (Advanced)
• 52K (Ultra Endurance)
Kategori 52K menjadi yang paling menantang, pelari harus mendaki tiga gunung sekaligus, yakni Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil. Di sepanjang lintasan, peserta juga melewati sejumlah titik ikonis setempat, antara lain Karangbawang, Pagergedog, kawasan Sepakung, Bukit Sekorini, dan Gumuk Reco.
Rangkaian kegiatan dimulai sehari sebelum lomba, Sabtu (26/9/2026), dengan pengambilan nomor peserta atau race pack collection (RPC). Hari perlombaan berlangsung pada Minggu (27/9/2026) dengan perkiraan 900 peserta dari tujuh negara.
Salah satu peserta, Believe Firdauzahroni Atmadja (17) yang akrab disapa Billy, asal Surakarta, berhasil menuntaskan kategori 12K dan finish di urutan ke-36. Billy menceritakan pengalamannya menghadapi perubahan cuaca dari pagi yang dingin hingga siang yang lebih terik, serta jalur yang lebih banyak berupa makadam dan cor.
"Cuaca sepanjang lomba lumayan bersahabat, pagi udaranya terasa lebih dingin. Menuju siang suhunya naik dan terasa panas, tetapi tetap sejuk karena lokasi di kaki bukit. Dari sisi medan, justru lebih banyak rute makadam dan jalan cor, bukan jalur tanah." Ujar Billy.
Dari pernyataan Billy, bahwa justru jalur lebih didominasi permukaan makadam dan jalan cor, hal tersebut membuat pelari perlu mengatur langkah dan tenaga, terutama di tanjakan dan turunan.
Billy menambahkan, "Sebenarnya yang perlu diperhatikan kembali bagi panitia untuk event GTR Ultra selanjutnya itu kurangnya marking dan juga marshall di sepanjang rute, jadi karena itu bisa menyebabkan beberapa runner mengalami salah jalan atau tersesat."
Berdasarkan penilaian Billy, sepanjang rute jumlah marka jalur (marking) dan petugas lapangan (marshall) belum memadai, sehingga banyak pelari kehilangan arah dan tersasar. Hal tersebut dapat membuat peserta menjadi kurang enjoy saat pelaksanaan lomba.
"Yang pasti saya dan peserta lainnya berharap event GTR Ultra selanjutnya bisa lebih maksimal dalam pembagian jobdesk panitia, dan memperhatikan marka jalur, jadi kalau bisa jumlahnya ditambah di sepanjang rute. Sehingga peserta bisa lebih aman dan nyaman waktu lomba, jadi lebih enjoy lebih tenang juga selama event GTR Ultra." Ucap Billy.
Masukan Billy, menjadi harapan dari peserta kepada panitia sebagai bahan perbaikan bagi panitia agar GTR Ultra edisi berikutnya dapat berjalan lebih aman dan nyaman bagi seluruh peserta. Meskipun event ini sudah menjadi agenda tahunan, tetapi tetap ada harapan agar terus berkembang menjadi lebih baik bagi peserta, terutama pesertanya dari berbagai negara. Diharapkan bisa menumbuhkan rasa percaya bagi para peserta kepada panitia serta pada event GTR Ultra selanjutnya.
