Potret Luka Emosional dan Proses Self-Healing dalam Unfinished Goodbye

Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alive Nuragni Atmadja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identitas Buku
Judul Buku: Unfinished Goodbye
Penulis: Syahid Muhammad
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: Gradien Mediatama
Genre: Novel Fiksi Psikologis / Self-Healing / Kesehatan Mental
Jumlah Halaman: 300 halaman
Sinopsis
Unfinished Goodbye bercerita tentang Ranu, seorang psikolog yang sehari-hari terbiasa membantu orang lain menghadapi berbagai persoalan emosional. Namun, di balik pekerjaannya itu, Ranu ternyata juga menyimpan luka dan trauma dari masa kecilnya yang belum benar-benar selesai.
Awalnya, Ranu merasa dirinya hanya berusaha melihat sisi baik dari orang lain. Namun, semakin jauh ia memahami dirinya sendiri, ia mulai menyadari bahwa sebenarnya ia sudah terlalu terbiasa menerima sisi buruk orang lain, bahkan sampai melewati batas yang seharusnya. Ia terus berusaha membuat orang-orang di sekitarnya baik-baik saja, sampai akhirnya justru dirinya sendiri yang perlahan kehilangan arah.
Bagian menarik dari cerita ini adalah bagaimana Ranu yang terbiasa memahami dan membantu orang lain ternyata juga harus belajar menghadapi luka dalam dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa rasa sakit tidak selalu harus disembunyikan atau ditutupi dengan berpura-pura kuat.
Resensi
Menurut saya, Unfinished Goodbye bukan hanya bercerita tentang perpisahan, tetapi juga tentang luka yang ternyata belum benar-benar selesai. Ada beberapa bagian yang membuat saya merasa bahwa luka memang tidak selalu hilang hanya karena kita sudah lama tidak membicarakannya. Terkadang, luka tersebut bisa muncul kembali ketika kita berada dalam situasi tertentu.
Hal yang cukup menarik dari novel ini adalah cara Syahid Muhammad membawa isu kesehatan mental dan hubungan antarmanusia. Penulis tidak sekadar membuat Ranu memiliki masa lalu yang kelam, tetapi menunjukkan bagaimana pengalaman tersebut terus memengaruhi cara Ranu melihat dirinya sendiri dan orang lain. Proses Ranu memahami traumanya juga terasa bertahap, sehingga pembaca bisa melihat bahwa menerima diri sendiri ternyata tidak semudah menerima orang lain.
Saya juga suka dengan gaya penulisan Syahid Muhammad yang introspektif, kalimat-kalimatnya puitis, tetapi tetap dekat dengan perasaan yang mungkin pernah dialami banyak orang. Saat membaca, ada beberapa bagian yang membuat saya berhenti sejenak karena terasa seperti sedang membicarakan sesuatu yang sebenarnya sering kita rasakan, tetapi jarang kita ungkapkan.
Salah satu hal yang paling saya rasakan dari novel ini adalah pesannya bahwa kita tidak bisa terus-menerus menjadi “obat” untuk orang lain ketika diri sendiri juga sedang membutuhkan pertolongan. Ranu terlalu sibuk memastikan orang lain baik-baik saja sampai lupa bahwa dirinya juga memiliki batas. Menurut saya, hal ini cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi orang yang terbiasa menjadi tempat cerita atau tempat orang lain mencari dukungan.
Namun, menurut saya, gaya penulisan yang sangat reflektif ini juga menjadi salah satu kekurangannya. Novel ini lebih banyak mengajak pembaca masuk ke dalam pikiran dan perasaan tokohnya daripada menghadirkan banyak aksi atau konflik yang bergerak cepat. Karena itu, beberapa bagian mungkin terasa cukup berat jika dibaca sekaligus. Intensitas emosionalnya juga cukup konsisten, sehingga ada kemungkinan beberapa bagian terasa repetitif bagi pembaca tertentu.
Menurut saya, novel ini cocok untuk pembaca yang menyukai cerita bertema kesehatan mental, self-healing, dan hubungan antarmanusia. Terutama bagi orang yang sedang belajar memahami batasan diri dalam hubungan dengan teman, pasangan, maupun orang-orang yang sering membutuhkan dukungan emosional dari kita.
Kesimpulan
Setelah membaca Unfinished Goodbye, saya merasa novel ini bukanlah bacaan yang hanya menawarkan hiburan ringan. Ada banyak hal yang membuat saya ikut berhenti dan memikirkan kembali cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri.
Melalui Ranu, saya melihat bahwa berusaha membuat orang lain baik-baik saja tidak seharusnya membuat kita kehilangan diri sendiri. Proses berdamai dengan luka juga bukan sesuatu yang langsung selesai dalam satu waktu. Ada kalanya kita merasa sudah baik-baik saja, tetapi kemudian luka lama kembali muncul. Dan menurut saya, itu bukan berarti kita gagal untuk sembuh.
Pada akhirnya, novel ini seperti mengajak pembaca untuk bertanya kepada diri sendiri “Seberapa jauh saya rela kehilangan diri sendiri demi membuat orang lain terlihat baik-baik saja?” Bagi saya, pesan itulah yang paling melekat setelah membaca Unfinished Goodbye, bahwa menerima diri sendiri juga merupakan bagian dari proses penyembuhan, dan tidak apa-apa jika proses tersebut membutuhkan waktu.
