Mau Sampai Kapan Perusahaan Minta Pengalaman Kerja 2 Tahun ke Fresh Graduate?

Mahasiswa semester 5 program studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aliya Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak lulusan, mencari lowongan kerja seringkali terasa membebani dan membingungkan. Label "Fresh Graduate" pada lowongan kerja sangat banyak, tetapi ironisnya perusahaan mencantumkan kriteria yang tidak masuk akal. Hampir setiap lowongan untuk fresh graduate selalu tertulis persyaratan pengalaman kerja minimal satu hingga dua tahun. kontradiksi ini membuat banyak pelamar bertanya-tanya, sebenarnya lowongan tersebut ditujukan untuk siapa?
Seolah-olah perusahaan ingin mendapatkan kandidat yang baru lulus, tetapi sekaligus sudah memiliki pengalaman kerja formal. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa syarat pengalaman kerja yang tidak realistis justru membuat pelamar secara psikologis merasa tidak cukup, sehingga menurunkan kepercayaan diri. Dengan meminta pengalaman 2 tahun kepada fresh graduate, perusahaan sebenarnya sedang mencari kandidat yang sudah “jadi”, bukan menciptakan kesempatan kerja baru.
Pada akhirnya, label “Fresh Graduate” hanya menjadi formalitas. Syarat pengalaman tetap menjadi standar utama, sehingga kesan terbuka bagi lulusan baru menjadi tidak sejalan dengan pernyataan.
Bagaimana indonesia bisa menurunkan tingkat pengangguran kalau lowongan kerja memerlukan persyaratan pengalaman kerja bagi fresh graduate, menurut data Badan Pusat Statistik pada waktu November 2025, Februari 2026, dan Mei 2026 tingkat pengangguran terbuka pada rentan umur 15-24 mencapai kenaikan 1,00 persen pada periode tersebut. Hal ini mendukung pernyataan di mana lowongan kerja bagi fresh graduate bersyarat minimal pengalaman kerja dapat menghambat upaya penurunan tingkat pengangguran di Indonesia.
Padahal masih banyak opsi persyaratan lainnya yang menguntungkan perusahaan. Seharusnya kriteria pengalaman kerja bisa diganti dengan memiliki pengalaman magang, organisasi, proyek kampus, atau portofolio yang relevan yang bisa dibuktikan. Dengan tetap memaksakan syarat pengalaman, perusahaan justru mengabaikan potensi tenaga kerja muda yang siap dikembangkan.
Label “fresh graduate” seharusnya menjadi harapan bagi generasi penerus, bukan sekedar iming-iming. Relevansi persyaratan lowongan kerja diperlukan saat ini dan hal itu sangat berarti bagi ribuan pejuang rupiah yang lagi berjuang mendapatkan kesempatan pertama mereka.
