Konten dari Pengguna

Hoaks Berkedok Hadis: Mengapa Kita Gampang Share Tanpa Tabayyun?

aliyahdzatilhimmah aliyah

aliyahdzatilhimmah aliyah

MAHASISWA UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aliyahdzatilhimmah aliyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Generated by AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Generated by AI (Gemini)

Pernah menerima pesan berantai di grup keluarga seperti ini? "Rasulullah bersabda: siapa yang menyebarkan pesan ini, rezekinya dilancarkan. Yang tidak menyebarkan akan tertimpa musibah." Biasanya ada tambahan: "Jangan berhenti di kamu."

Banyak dari kita langsung menekan tombol bagikan. Alasannya sederhana: takut rugi, ingin dapat pahala, atau tidak enak kalau tidak ikut menyebarkan. Pertanyaannya, apakah itu benar-benar hadis?

Kenapa Kita Mudah Terjebak?

Ada tiga alasan utama.

Pertama, kata "hadis" terasa sakral. Begitu sebuah kalimat diberi label sabda Nabi, banyak orang merasa tidak pantas memeriksanya. Memeriksa terasa seperti meragukan agama.

Kedua, pahala instan. Cukup satu klik, kita merasa sudah berdakwah. Pesan berantai pun sengaja dibuat seperti itu, dengan janji untung bagi yang membagikan dan ancaman bagi yang mengabaikan.

Ketiga, malas verifikasi. Di era informasi yang bergerak cepat, mengecek terasa merepotkan, padahal membagikan hanya butuh beberapa detik.

Tradisi Cek Fakta yang Sudah Ada Sejak Dulu

Kabar baiknya, umat Islam sebenarnya punya tradisi verifikasi yang sangat kuat. Al-Qur'an dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan kita memeriksa dengan teliti (tabayyun) ketika menerima kabar dari orang yang tidak jelas kredibilitasnya.

Para ulama hadis menerjemahkan perintah itu menjadi sebuah ilmu yang rumit dan ketat. Hadis tidak diterima begitu saja. Ia diperiksa dari dua sisi:

Sanad, yaitu rantai orang-orang yang menyampaikannya. Siapa saja perawinya? Apakah mereka jujur dan kuat hafalannya? Apakah mereka benar-benar bertemu satu sama lain?

Matan, yaitu isi hadisnya. Apakah masuk akal dan tidak bertentangan dengan Al-Qur'an atau hadis lain yang lebih kuat?

Bayangkan sebuah kabar yang harus melewati puluhan "pos pemeriksaan" sebelum dianggap layak. Jauh lebih ketat daripada sekadar tulisan "diteruskan berkali-kali" di WhatsApp.

Peringatan yang Tidak Boleh Dianggap Sepele

Ada hadis yang sangat terkenal dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Maknanya: siapa yang sengaja berdusta atas nama Nabi, hendaklah ia bersiap menempati tempat duduknya di neraka.

Perhatikan, yang diancam bukan hanya orang yang membuat hadis palsu. Orang yang menyebarkannya tanpa memeriksa pun ikut menanggung risiko menyampaikan sesuatu yang tidak pernah dikatakan Nabi. Jadi, "niatnya kan baik" saja tidak cukup.

Langkah Sederhana Sebelum Membagikan

Kamu tidak harus menjadi ahli hadis. Cukup lakukan lima hal ini:

Cek apakah ada sumbernya. Hadis yang benar biasanya disebutkan dari kitab mana, misalnya Bukhari, Muslim, atau Tirmidzi. Kalau hanya tertulis "kata Nabi" tanpa sumber, curigai.

Waspadai janji yang berlebihan. Hadis palsu sering menjanjikan pahala sangat besar untuk amalan yang sangat ringan, atau ancaman yang sangat seram.

Waspadai kalimat "sebarkan atau celaka". Ajaran Islam tidak mengancam orang karena tidak menekan tombol bagikan.

Tanyakan kepada ustaz atau pengajar yang paham hadis. Cari yang berilmu, bukan sekadar yang populer.

Kalau ragu, tahan jempolmu. Tidak membagikan lebih aman daripada ikut menyebarkan kebohongan.

Penutup

Di era digital, setiap orang adalah penyiar. Satu klik bisa membuat pesan sampai ke ratusan orang. Karena itu, kita perlu menjadi penyaring, bukan sekadar penyambung.

Ulama terdahulu rela menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya untuk memastikan satu hadis. Kita cukup meluangkan satu menit untuk mengecek sebelum membagikan. Itu bukan meragukan agama, tapi menjaganya.