Konten dari Pengguna

Bicara Itu Ada Seninya: Sebuah Seni Memikat Lawan Bicara Lewat Story Telling

Aliyyah Azmi Afiqah

Aliyyah Azmi Afiqah

Siswi SMPN 7 Depok

·waktu baca 4 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aliyyah Azmi Afiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Buku Bicara Itu Ada Seninya karya Oh Su Hyang. Foto: Dokumentasi Pribadi

Seni berkomunikasi atau biasa dikenal sebagai public speaking itu sebuah keterampilan atau kemampuan seseorang untuk berbicara di depan individu maupun sekelompok orang dengan tujuan untuk memengaruhi, mengajak, dan menarik perhatian orang lain melalui sebuah teknik atau metode komunikasi tertentu.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang gugup dan tidak tau apa yang ingin dikatakan kepada lawan bicaranya saat berkomunikasi. Hal ini tentu sangat berpengaruh signifikan terhadap pencapaian yang ingin ia buat. Terlebih lagi jika orang tersebut ialah seorang sales di perusahaan ataupun seorang ketua di organisasi sekolah.

Lebih daripada itu, komunikasi bahkan sudah menjadi kebutuhan bagi setiap individu untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari. Lantas, bagaimana cara untuk membangun komunikasi yang efektif? Bagaimana cara membangun komunikasi yang tidak membosankan hingga terkesan monoton?

Sumber foto: Dokumen Pribadi

Seperti yang tertulis dalam sebuah buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya karya seorang Dosen dan Pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan, Oh Su Hyang.

Jika dibidang musik ada orang yang 'buta nada', di dalam aktivitas berbicara pun ada orang yang 'buta ucapan', " Oh Su Hyang dalam buku Bicara Itu Ada Seninya.

Mereka ialah sekelompok orang yang tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada lawan bicaranya. Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau memadukan gaya bicara dengan gerakan tubuh?

Oh Su Hyang beranggapan, salah satu teknik dalam komunikasi untuk menarik perhatian audiens yakni story telling. Sementara itu, konsultan ahli presentasi dan pelatih teknik mengajar terbaik di Amerika, Doug Stevenson, mengatakan bahwa latihan story telling atau menyampaikan cerita sama saja seperti mengasah kemampuan komunikasi.

"Jika Anda berencana ingin menjadi pembicara, berlatih story telling akan sangat membantu. Kalaupun tidak ingin menjadi pembicara, latihan ini akan menjadi senjata besar dalam kehidupan sosial Anda," kata Doug Stevenson.

Raja Presentasi Story Telling

Pendiri Apple, Steve Jobs. Foto: AP Photo

Pada 2001, Steve Jobs memulai presentasinya tentang iPod dengan beberapa kalimat. Dirogoh kantong celana jeans-nya. Audiens pun langsung bertepuk tangan memberi reaksi takjub melihat benda sekecil itu. Lalu, ia berbicara dengan tenang.

"Saya selalu penasaran apa fungsi kantong celana jeans. Sekarang pertanyaan itu telah terjawab. Dengan berat hanya 0,1 kilogram, iPod bisa dimasukkan ke dalam kantong. Saat memakai celana jeans, aku juga bisa ke mana-mana membawa iPod di kantong sambil mendengarkan musik tanpa perlu repot. Keren sekali, kan?" katanya.

Presentasi dalam bentuk story telling ala Steve Jobs berperan besar di sini. Dengan begitu audiens dapat membayangkan betapa besar keuntungan jika ia membeli iPod tersebut, dan iPod dapat menjadi produk global yang hits menyingkirkan produk lain yang lebih murah dan berkapasitas lebih besar.

Steve Jobs menggunakan story telling dalam berbagai aspek saat memperkenalkan produk. Jika iPhone terjual sebanyak 4 juta unit, maka ia mengatakan rata-rata 20.000 unit terjual dalam sehari, dengan begitu audiens dapat membayangkan betapa banyak produk yang terjual.

Teknik dalam Story Telling

Ilustrasi seminar politik. Foto: Shutter Stock

Story telling adalah keterampilan berbicara yang sangat bermanfaat baik saat mengajar, pertemuan bisnis, wawancara, ataupun kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana cara berbicara dengan metode story telling yang baik?

Story telling yang baik membutuhkan empat unsur dan dua faktor tambahan, yaitu sebagai berikut.

1. Tema

Penggunaan tema yang berkesan tentu sangat dibutuhkan dalam story telling. Legenda atau dongeng rakyat bertahan lama karena mengandung sebuah tema yang berkesan. Cerita yang disampaikan harus konsisten dengan satu tema.

2. Konflik

Konflik dan klimaks adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari cerita yang menarik. Konfliklah yang akan membuat orang-orang hanyut dalam cerita.

3. Simpati

Tema dan konflik saja tidak cukup, pada cerita yang dibuat kita memerlukan simpati dari pendengar. Ingat, sebuah cerita harus familiar dan mudah dipahami untuk menarik simpati.

4. Solusi

Cerita yang dramatis harus menyajikan katarsis solusi terhadap konflik. Cerita yang dinilai bagus adalah yang bisa mengatasi konfliknya.

Ilustrasi presentasi menghadap audiens. Foto: Shutterstock

Di samping empat unsur tersebut, terdapat dua faktor tambahan, yakni pembalikan dan alasan. Pembalikan berfungsi memberikan kejutan pada jalan cerita yang membosankan. Dan alasan yang membuat cerita dapat dipercayai.

Story telling tidak dilakukan dengan menceritakan apa adanya, plot yang kokoh sangat diperlukan dalam story telling. Sebuah cerita harus memiliki plot agar dapat melesat seperti anak panah dan menghunjam hati penggemar.

Story telling hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak metode dalam public speaking. Tentu saja ini hanyalah sedikit rangkuman dari buku Bicara Itu Ada Seninya. Kamu dapat membacanya sendiri untuk memahami secara detail. Semoga bermanfaat!