Konten dari Pengguna

Genderang Bharatayuda: Seni Sastra Drama yang Mengangkat Kisah Legenda Rakyat

Aliyyah Azmi Afiqah

Aliyyah Azmi Afiqah

Siswi SMPN 7 Depok

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aliyyah Azmi Afiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover buku Genderang Bharatayuda. Sumber foto: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cover buku Genderang Bharatayuda. Sumber foto: Dokumen Pribadi

Drama merupakan bentuk seni yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan aksi dan emosi melalui lakon dan dialog. Bidang seni dalam drama terbagi menjadi dua, yaitu: Seni sastra (naskah drama) dan seni pentas (pertunjukan drama) Seni sastra merupakan suatu bidang seni yang bertujuan untuk mengekspresikan gagasan, perasaan, dan objek dalam bentuk sebuah tulisan. Lantas, apa sajakah bagian-bagian dari seni sastra? Salah satu bagian dari seni sastra yaitu naskah dalam lakon drama yang tersusun dalam bentuk dialog-dialog antar tokoh dan mengikuti alur yang diceritakan. Seperti yang tertulis dalam sebuah buku berjudul "Genderang Bharatayuda" Karangan seorang seniman teater di Indonesia, Sri Murtono. Buku tersebut mengisahkan empat antologi cerita tentang lakon-lakon pewayangan dan legenda rakyat. Seperti; Lara Jonggrang, sebuah legenda masyhur tentang awal muasal candi Prambanan.

Sumber foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: pixabay.com

Putri Andayaprana, petualangan Panji Kudawanengpati di Bali. Namun, disini lebih banyak menyoroti putri mahkota dari kerajaan Bali, Andayaprana yang merupakan gambaran nyata tentang emansipasi wanita sudah ada sejak dahulu kala.

Kidung Dwi Pantara, kisah perjuangan Gajah Mada mempersatukan Nusantara, yang tidak seluruhnya bersih dari kesalahan. Sehingga riwayat putri sunda ini memang satu titik hitam dalam perjuangannya.

Genderang Bharatayuda dan Candra Kirana, sebuah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, kerajaan Amarta dan Hastinapura. Perang batin antara kekasih, saudara, menantu dan ipar.



Identitas Buku

ilustrasi pertunjukan drama. Sumber foto: pixabay.com

Judul buku: Genderang Bharatayuda

Penulis: Sri Murtono

Penerbit: NAVILA

Tahun terbit: 2008

Tebal halaman : 270 halaman

ISBN: 979 971 325-0



"Kata orang, telah tertulis dalam bintang-bintang oleh Dewa-dewa, bila gunung Mahameru mengeluarkan asap tebal bergumpal-gumpal mengepal mendung meliputi seluruh buana, bila halilintar menyabung tiada berkilat dan hujan deras turun dimusim kemarau, tibalah waktunya penumpasan yang maha besar antara Amarta dan Hastina. Darah akan membanjir menenggelamkan gelanggang kuru, mayat dan bangkai akan bertimbun-timbun sundul angkasa. Bharatayuda akan meletus."



Kelebihan dan Kekurangan

Ilustrasi buku. Sumber foto: pixabay.com

"Sedetik waktu tuan abaikan, selama hidup menjadi penyesalan" Halaman 9

Buku Genderang Bharatayuda mengangkat kisah-kisah legenda dengan berbagai pesan moral kehidupan. Plot yang disajikan menarik, mudah dipahami, tetapi tidak membosankan. Mengangkat konflik bertemakan konvensional dan adat istiadat yang masih sangat kental. Memiliki gaya kebahasaan berbentuk dialog langsung yang mengajarkan makna kekeluargaan, persahabatan dan cinta kasih kehidupan membuat buku ini layak untuk dibaca para penggemar. Sayangnya, penerbitan buku ini tidak dicetak secara massal, kurangnya minat masyarakat terhadap karya sastra drama menjadi salah satu penyebabnya. Masyarakat hanya mengetahui dan tertarik tentang seni pertunjukan drama tetapi tidak dengan naskah dramanya. Padahal, mempelajari karya sastra drama memiliki keunikan tersendiri bagi para pembaca.