Tekno & Sains
·
11 Juni 2021 15:19
·
waktu baca 3 menit

Filsafat di Mata Pelajar: Benarkah Begitu?

Konten ini diproduksi oleh Aliyyah Sahirah
Filsafat di Mata Pelajar: Benarkah Begitu? (38767)
Ilmu Pendidikan Filsafat https://images.unsplash.com/photo-1509021436665-8f07dbf5bf1d?ixid=MnwxMjA3fDB8MHxwaG90by1wYWdlfHx8fGVufDB8fHx8&ixlib=rb-1.2.1&auto=format&fit=crop&w=667&q=80
Apa yang Anda pikirkan saat pertama kali mendengar kata filsafat? Apakah Anda berpikir itu adalah ilmu alam? Atau ilmu yang berhubungan dengan pola pemikiran? Dahulu saya dibuat kewalahan dengan pertanyaan yang ada di dalam kepala saya tentang “Apa itu filsafat?” untuk mengetahui jawabannya mari kita kilas balik menuju pengalaman teman saya.
ADVERTISEMENT
Sewaktu itu pertama kali teman saya merasa penasaran dengan ilmu filsafat saat dia berada di tingkat 3 SMA. Pagi-pagi dengan penuh semangat teman saya menuju ke ruang BK untuk bertanya tentang SNMPTN dan SBMPTN. Sesekali ia bertanya tentang jurusan yang ada di dunia perkuliahan, dan dia mulai tertarik ketika guru BK menjelaskan tentang jurusan Ilmu Filsafat. Beliau mengatakan jurusan Filsafat dan Ilmu Filsafat ini belum banyak tersedia di PTN dan PTS di Indonesia. Jurusan ini salah satu jurusan yang unik namun memang memiliki sedikit peminatnya. ia terdiam sejenak mendengar cerita dari guru BK.
Katanya, saat sudah memasuki program studi tersebut kita dituntut untuk berpikir dari banyak sisi. Maksudnya, apa yang kita yakini dan orang lain yakini itu benar adanya. Ia semakin bingung maksud dari apa yang dibicarakan oleh guru BK beliau. “Ilmu filsafat itu ilmu kebenaran. Apa yang kamu yakini itu benar, tapi kamu juga tidak bisa menghakimi keyakinan orang lain karena keyakinan mereka juga benar.” Wah, saya semakin dibuat bingung oleh beliau. Saya sempat berpikir kalau memang semuanya dianggap benar, lalu apa gunanya belajar filsafat? "begitu kata teman saya dalam hati"
ADVERTISEMENT
“Di dalam filsafat itu, kita belajar untuk berpikir kritis, memahami asal-usul suatu hal. Teman bapak juga cerita kalau dia belajar asal-usul mengapa ‘ini’ diciptakan? Mengapa ‘itu’ diciptakan? Mengapa hal ‘ini’ bisa terjadi? Dan lain-lain”, pungkas guru BK tersebut.
Lalu teman saya bilang “Kalau gitu, Saya mau coba daftar ke Filsafat saja”. Beliau pun tertawa, sambil berkata “Ya boleh saja kalau iman kamu kuat.” ”Teman bapak juga ada yang sampai murtad karena belajar filsafat. Itu juga belajar bareng dosen, sudah ada ilmunya. Apalagi ini belajar sendiri.” sambungnya. Teman saya semakin dibuat bingung dan ngeri. Beliau mengatakan memang ada kasus orang yang murtad atau pindah keyakinan karena terlalu mendalami belajar Ilmu Filsafat tanpa diiringi dengan keyakinan dan iman yang kuat juga. Pertama kali teman saya mendengar filsafat, sungguh terkejut dan bingung. Ia berpikir kalau filsafat ini tidak akan mempengaruhi kehidupan, namun setelah ia mendengar cerita dari guru BK-nya dia mulai paham bahwa kita akan menemukan konsep filsafat dalam kehidupan kita sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Mulai dari hari itu teman saya berpikir kalau filsafat adalah ilmu kebenaran, kebijaksanaan, akal, dan pikiran. Karena dari cerita yang guru BK-nya sampaikan, semua pengalaman teman-teman beliau adalah tentang mencari dan meyakini kebenaran, ideologi, pandangan hidup yang digunakan untuk memecahkan keingintahuan atau suatu persoalan seperti eksistensi, pengetahuan, nilai-nilai kehidupan, dan lain-lain.
Setelah Anda membaca pengalaman teman saya, apa yang dapat Anda simpulkan? Rasa kemauan dan penasaran yang tinggi membuat teman saya tak habis akal untuk mencari pembuktian. Menurut Aristoteles filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang berisi ilmu metafisika, retorika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).