Konten dari Pengguna

Mahasiswa, AI, dan Ancaman Krisis Berpikir Kritis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Allbardo Immanuel Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence melalui OpenAI ChatGPT Image Generator
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan Artificial Intelligence melalui OpenAI ChatGPT Image Generator

Menjadi seorang mahasiswa adalah previlage intelektual yang tidak dapat dirasakan oleh semua anak muda. Status ini bukan sekadar identitas akademik, melainkan tanggung jawab moral dan sosial yang melekat pada diri mahasiswa sebagai kelompok terdidik di tengah masyarakat. Karena itulah, mahasiswa setidaknya memiliki 3 peran penting, yaitu: (1) Agen of Change, (2) Social Control, dan (3) Iron Stock.

Peran istimewa tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan kesadaran intelektual yang berlandaskan pada budaya dialektika. Dialektika inilah yang memunculkan perdebatan sehat dalam kelas, organisasi, ataupun terkadang dikantin kampus, hal ini di anggap lazim karena menjadi bagian penting dalam proses pembentukan intelektualitas mahasiswa.

Namun, dialektika ini kian memudar bahkan bukan tidak mungkin perlahan menghilang. Pasalnya pertanyaan yang akan melahirkan diskusi panjang kini berakhir pada satu hal: "Mengetik Prompt kepada Artificial Intelligence (AI)". Penulis merasakan, ketika terdapat presentasi didalam kelas, hal yang paling dominan bukan lagi dialektika dua arah, melainkan bertanya dengan pemikiran, dan dijawab satu arah dengan prompt AI. Ruang dialektika yang dahulu hidup diruang lingkup mahasiswa kini kian tergeser oleh interaksi antar manusia dan mesin.

"Technology is a useful servant but a dangerous master" - Christian Lous Lange.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan AI membawa banyak kemudahan. Banyak manfaat positif yang dapat dirasakan mahasiswa dengan hadirnya AI. Dalam konteks tertentu, AI memang menjadi alat bantu yang sangat positif. Penulis merasakan manfaat positif dari adanya AI ini, seperti melakukan brainstorming dengan AI.

Dengan demikian, akar persoalan ini tidak terletak pada keberadaan AI, melainkan cara mahasiswa menggunakannya. AI bukan segalanya untuk menggantikan proses berpikir mahasiswa. Proses berpikir harus tetap jalan dengan dialektika, namun ketika mahasiswa memposisikan AI sebagai jalan dialektika, disitulah problem intelektual mulai muncul. Mahasiswa menjadi terbiasa dengan hal yang pragmatis, seperti mendapatkan jawaban yang instan tanpa adanya proses membaca, menguji argumentasi, maupun berdiskusi secara kritis.

Permasalahan ini akan menimbulkan krisis dialektika di lingkungan kampus. Budaya bertanya mulai menurun karena jawaban dianggap selalu tersedia di layar gawai. Forum diskusi kehilangan minat, kajian ilmiah semakin sepi, dan perdebatan akademik tidak lagi menjadi kebutuhann intelektual mahasiswa.

Padahal esensi dari pendidikan bukan hanya memperoleh informasi, melainkan melatih kemampuan berpikir kritis. Albert Einstein pernah mengatakan: "Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think."

Pendidikan sejati itu membentuk cara berpikir, bukan hanya kemampuan untuk mengumpulkan jawaban. Artinya, dalam diskusi tidak ada kebenaran yang absolut, yang ada hanyalah perspektif. Ketergantungan berlebihan terhadap AI justru berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kitis mahasiswa. Mahasiswa dapat kehilangan keberanian jika ingin bertanya ataupun melakukan diskusi diruang kelas ataupun organisasi karena ketergantungan dengan AI.

Karena itu, budaya dialektika dilingkungan kampus harus dihidupkan kembali dengan akal sehat. Keberanian akan berpendapat adalah suatu hal yang istimewa sebagai mahasiswa, karena sejatinya mahasiswa adalah ruang berisik yang harus terus berisik. Namun, tetap harus berlandaskan dengan proses intelektual yang kuat. Sebab pada akhirnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap perubahan bangsa, kontrol sosial, serta pemimpin masa depan bangsa Indonesia.