Konten dari Pengguna

8 Peribahasa Eropa yang Cocok Diterapkan saat Harus Work From Home

Allessandro Bernama

Allessandro Bernama

Penulis amatir. PNS. Diplomat.

clock
comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Allessandro Bernama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia saat ini memasuki masa darurat bencana Corona hingga dua bulan ke depan. Kebanyakan dari kita pun harus ikut aturan work from home, bekerja dari rumah dan menghindari keramaian.

Memang di dunia yang saling terhubung (interconnected), berbagai aktivitas dapat kita lakukan dengan mudah. Cukup dengan menyentilkan jari ke layar telepon seluler atau laptop.

Sent, delivered, read. Typing...

Meski begitu tak dapat dipungkiri, setelah seharian di rumah, tentu cepat atau lambat kita dihinggapi rasa bosan.

Satu tips jitu mengusir rasa bosan adalah belajar bahasa asing.

Hobi belajar bahasa asing jugalah yang mengantarkan saya untuk menekuni profesi diplomat, hingga diterima bekerja pada KBRI Brussel di Belgia merangkap Luksemburg dan Uni Eropa.

Bermitra dengan rekan kerja dari 28 (27 setelah Brexit) negara anggota Uni Eropa, mau tidak mau saya harus menguasai sedikit bahasa mereka.

Meski Bahasa Inggris lazim dipergunakan di lingkungan Uni Eropa, pemahaman dasar tentang berbagai bahasa Eropa sangat membantu mengerti “gosip lokal”, karena kita menjadi lebih paham konteks dan suasana kebatinan.

Dan tentu saja, bagi para diplomat lajang seperti saya, fasih berbahasa asing menjadi jurus ampuh mengambil hati rekan kerja yang “unyu-unyu”.

Sejumlah peribahasa dalam berbagai bahasa Eropa berikut, dapat menjadi inspirasi untuk mulai belajar bahasa asing. Terutama kala terpaksa mengurung diri di rumah selama masa work from home.

1. Mieux vaut prévenir que guérir

Apa pun dalam Bahasa Prancis memang terdengar romantis dan puitis. Jika diterjemahkan apa adanya, istilah satu ini artinya kurang lebih “sedia payung sebelum hujan”: lebih baik mengantisipasi ketimbang menyembuhkan.

Di tengah wabah COVID-19, prioritas pertama adalah menjaga kesehatan. Dan jangan lupa, selalu lakukan langkah-langkah pencegahan termasuk sering mencuci tangan dengan sabun, menggunakan hand sanitizer, memakai masker jika batuk atau flu, dan hindari pusat keramaian.

Selalu berpikir dua tiga kali sebelum mengambil risiko. Jangan sampai menyesal kemudian hari, sambil mengurut kepala membayar tagihan.

Pemandangan kota Paris yang indah dan menjadi favorit turis dunia. Foto: koleksi pribadi

2. Chi dorme non piglia pesci

Peribahasa Italia satu ini dalam bahasa Inggris padanannya berarti “you snooze, you lose”. Artinya bukan kalau kena flu dan bersin-bersin berarti positif Corona ya.

Ambil sisi positifnya, jangan pernah lengah atau kekalahan/nasib buruk akan menghampirimu.

Jadi biar pun harus seharian di rumah, tetap produktif, selalu waspada dan antisipatif. Ikuti terus berita dan informasi resmi yang beredar. Awas, hati-hati hoax!

Senja di Spanish Steps, salah satu pusat keramaian di tengah kota Roma, Italia. Foto: koleksi pribadi

3. Arbeit ist die beste Jacke

Bangsa Jerman memang terkenal pekerja keras dan disiplin. Sampai-sampai, mereka punya peribahasa yang satu ini, yang artinya “cara terbaik untuk menghangatkan tubuhmu adalah dengan mengerjakan hal yang berguna”.

Dinginnya musim dingin di Jerman memang menusuk hingga ke tulang. Tidak heran bagi orang Jerman, bekerja membakar kalori dianggap “jaket” terbaik untuk melindungi mereka dari cuaca minus saat musim dingin.

Bosan di rumah? Tirulah orang Jerman dengan melakukan berbagai hal produktif, misalnya berolahraga, menyapu rumah, membersihkan gudang, mencuci mobil, dan lain-lain.

Perhatikan juga lingkungan di sekitar rumah, apakah barang-barang sudah tertata rapi? Apakah akses keluar masuk dapat dilalui dengan mudah?

Apakah ada genangan air dengan jentik nyamuk di taman? Jangan lupa, wabah demam berdarah juga sama berbahayanya dengan COVID-19, khususnya di musim hujan seperti sekarang.

Konser musik musim semi di kota Trier di Jerman bagian Barat, dekat perbatasan dengan Luksemburg. Foto: koleksi pribadi

4. Kdo se moc ptá, moc se dozví

Istilah bangsa Ceko ini mirip dengan lirik soundtrack film Disney Frozen, “let it go… let it gooooo…”

Arti peribahasa ini adalah, “orang yang bertanya terlalu banyak, mengetahui terlalu banyak”. Akibatnya, kita justru semakin banyak diliputi pikiran negatif.

Memang cara terbaik untuk tetap berpikir positif di tengah hiruk-pikuk yang ada adalah dengan tawakal dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Yakinlah, setiap ujian apa pun pasti mampu dilewati dengan baik.

Pemandangan Charles Bridge menuju pusat kota Praha, Ceko. Foto: Pixabay

5. Obras son amores y no buenas razones

Peribahasa Spanyol satu ini sama artinya dengan “actions speak louder than words” alias “sedikit bicara, banyak berbuat”.

Ini penting untuk dicamkan, khususnya saat membuka media sosial. Ketimbang “julid”, nyinyir atau berdebat tanpa ujung di media sosial, fokuskan energi kita untuk berbuat kebaikan.

Berbagi alat pelindung kesehatan, obat dan multivitamin kepada yang memerlukan, sebagai contoh. Tapi ingat, tetap harus waspada dan jaga social distance ya.

Musim panas di Sevilla, kota bersejarah dengan pengaruh Islam di Selatan Spanyol. Foto: koleksi pribadi

6. Tinfaxxax rasek cabel taqsama

Bahasa Malta adalah salah satu bahasa Eropa yang paling unik, antara lain dipengaruhi Bahasa Italia dan Arab. Peribahasa satu ini berarti “jangan membanderol kepalamu sebelum kepalamu terluka”.

Dengan kata lain, jangan membesar-besarkan masalah dan melakukan sesuatu secara berlebihan.

Ingat, antisipasi penting tapi jangan sampai panic buying hanya karena terpengaruh berita hoax. Justru kita jadi merugikan dan mengancam keselamatan jiwa orang lain yang lebih membutuhkan.

Waktu terasa berjalan lambat dalam suasana santai di pusat kota Valetta, Malta. Foto: koleksi pribadi

7. A necessidade é a mãe da invenção

Peribahasa Portugis ini mengingatkan kita, “kebutuhan adalah ibu dari semua inovasi”.

Situasi yang sulit dan mendesak, seringkali justru melahirkan kreativitas dan solusi yang inovatif. Hal ini penting, karena orang Indonesia sejatinya sangat kreatif dan ringan tangan.

Banyak masyarakat yang belum mengetahui atau memiliki kesadaran tentang bahaya wabah COVID-19. Anda bisa membantu menyebarkan informasi dan petunjuk perlindungan diri ke lingkungan terdekat.

Mulailah dari yang sederhana. Membuat video Tik-tok yang edukatif sekaligus menghibur, misalnya. Bagi para fitness freaks, berbagi tips olahraga di YouTube juga tentu bermanfaat bagi masyarakat luas.

Iklim Lisbon yang bersahabat di Barat Portugal, menjadikan masyarakatnya hangat dan punya jiwa petualang. Foto: koleksi pribadi

8. Ljubo doma, kdor ga ima

Istilah dalam Bahasa Slovenia ini berarti “home sweet home”.

Memang, apa pun yang terjadi, seberat apa pun masalah yang melanda, pada akhirnya rumah sendiri menjadi tempat terbaik untuk beristirahat, mengadu dan menjadi diri sendiri.

Jadi, selagi bisa, manfaatkan waktu Anda di rumah semaksimal mungkin, berkumpul bersama dan menjaga kesehatan serta keselamatan keluarga di rumah.

Panorama Pulau Bled yang indah di Slovenia. Foto: Pixabay

Jadi, ambil Kamus atau gadget Anda, buka Youtube atau aplikasi Duolingo, dan isilah hari dengan lebih produktif: Belajar bahasa asing.

Siapa tahu, Anda pun bisa jadi diplomat suatu saat nanti.