Bioremediasi sebagai Solusi Ramah Lingkungan Atasi Limbah Berbahaya

Mahasiswi Jurusan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari allya putri adryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pencemaran tanah dan air oleh limbah berbahaya semakin menghawatirkan, namun upaya pembersihan dengan bahan kimia justru akan menambah risiko baru. Lantas bagaimana kita melakukan upaya pembersihan tersebut tanpa menambah risiko baru? Salah satu caranya yaitu bioremediasi.
Bioremediasi menawarkan solusi yang lebih aman dan berkelanjutan untuk pengolahan limbah. Penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan kadar polutan itu disebut bioremediasi.
Pada saat proses bioremediasi berlangsung, mikroorganisme menghasilkan enzim-enzim, yang akan memodifikasi struktur polutan beracun menjadi tidak kompleks sehingga polutan menjadi tidak berbahaya dan tidak beracun. Bioremediasi juga memiliki tujuan untuk mendegradasi atau mendetoksifikasi polutan organik maupun anorganik dengan tambahan agen biologi seperti ganggang, cendawan, bakteri, dan tanaman.
Selain berfungsi sebagai pengolahan limbah menjadi bahan atau polutan yang tidak berbahaya atau beracun. Bioremediasi memiliki keunggulan lainnya di antaranya yaitu lebih ramah lingkungan, lebih ekonomis, lebih efesien, dan bersifat fleksible. Adapun juga faktor-faktor yang mempengaruhi proses bioremediasi yaitu faktor mikroorganisme, nutrisi, dan lingkungan.
Faktor mikroorganisme tentu akan mempengaruhi proses bioremediasi karena mikroorganisme akan menurunkan kadar polutan pada proses bioremediasi tersebut. Selain itu mikroorganisme akan mendegradasi dan menyerap senyawa pencemar. Pada faktor nutrisi berpengaruh karena nutrisi dibutuhkan untuk mikroorganisme agar mikrooorganisme tersebut tumbuh atau berkembang biak saat proses bioremediasi tersebut. Jenis nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme yaitu unsur unsur organik di antaranya yaitu karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P). Lingkungan akan mempengaruhi oksigen, suhu, dissolvent oxygen (DO), dan pH selama proses bioremediasi.
Contoh penggunaan bioremediasi di antaranya yaitu untuk mendegradasi minyak mentah atau minyak bumi yang mencemari tanah didekat perairan. Pada jurnal milik Risdiyanto (2013) dijelaskan bahwa bakteri indigenous yang telah diisolasi menunjukkan isolat bakteri tersebut memiliki kemampuan yang signifikan dalam mendegradasi hidrokarbon.
Secara keseluruhan, penelitian milik Risdiyanto (2013) ini menjelaskan tentang potensi besar bakteri indigenous dalam proses bioremediasi tanah yang tercemar minyak. Penggunaan mikroorganisme tidak hanya efektif dalam mengurai polutan tetapi juga lebih ramah lingkungan karena mengurangi risiko gangguan ekosistem akibat pengaruh spesies asing.
