Konten dari Pengguna

Dioksin: Racun Tak Terlihat yang Mengintai dari Pembakaran Sampah

allya putri adryani
Mahasiswi Jurusan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
3 Desember 2025 12:04 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dioksin: Racun Tak Terlihat yang Mengintai dari Pembakaran Sampah
Pembakaran sampah plastik menghasilkan dioksin berbahaya yang dapat mencemari udara, tanah, hewan, hingga makanan yang kita konsumsi. Kenali risikonya dan cara mencegah paparan racun ini.
allya putri adryani
Tulisan dari allya putri adryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa pembakaran sampah bisa mencemari makanan?

ADVERTISEMENT
Pencemaran dari pembakaran sampah bukan hanya soal bau dan asap hitam, melainkan karena ada senyawa berbahaya bernama dioksin yang terbentuk saat pembakaran tidak sempurna. Senyawa dioksin dapat masuk dan mencemari bahan pangan melalui berbagai reaksi kimia dan proses lingkungan, sehingga menjadi ancaman serius terhadap keamanan pangan. Dioksin merupakan kontaminan hidrofobik dan terakumulasi di dalam lemak, dapat berupa polychlorinated dibenzo-p-dioxins (PCDDs), polychlorinated dibenzofurans (PCDFs) dan dioxin-like polychlorinated biphenyls (dl-PCBs). Dioksin dan furan, secara kolektif dikenal sebagai PCDD/F, adalah kelas zat beracun yang dicirikan oleh struktur kimia yang serupa. Dioksin dapat terbentuk dari pembakaran tidak sempurna pada suatu material, salah satunya plastic (Baca et al., 2023).
Pemabakaran sampah sebagai penghasil dioksin (sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/tempat-pembuangan-sampah-liar-gm1784537468-547224092?searchscope=image%2Cfilm)
zoom-in-whitePerbesar
Pemabakaran sampah sebagai penghasil dioksin (sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/tempat-pembuangan-sampah-liar-gm1784537468-547224092?searchscope=image%2Cfilm)
Jenis plastik bermacam-macam, terdiri dari Polipropilena (PP), Polietilena Densitas Rendah (LDPE), Polietilena Densitas Tinggi (HDPE), Polietilena Densitas Rendah Linear (LLDPE), dan Poli Vinil Klorida (PVC), Polietilena Tereftalat (PET), Poliuretana (PUR), Polistirena (PS), dan polimer lainnya. Jenis plastik tersebut jika dibakar dalam pembakaran tidak sempurna akan meningkatkan produksi dioksin, furan, dan zat lainnya secara signifikanan. Hal tersebut disebabkan plastik tersebut mengandung klorin atau klor yang jika dibakar pada suhu rendah dan tanpa kontrol emisi yang tepat, senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan akan terbentuk.
ADVERTISEMENT

Apa itu pembakaran sempurna dan tidak sempurna dan bagaiamana pembakaran dapat menghasilkan senyawa berbahaya?

Pembakaran sempurna yaitu mengubah hidrokarbon menjadi karbon dioksida dan air. Pembakaran sempurna adalah proses pembakaran ketika seluruh bahan bakar teroksidasi secara total sehingga produk akhirnya hanya berupa gas karbon dioksida (CO₂) dan uap air (H₂O), tanpa menyisakan bahan yang belum terbakar. Pembakaran tidak sempurna merupakan proses pembakaran yang berlangsung ketika oksidasi tidak terjadi secara penuh, menghasilkan gas karbon monoksida (CO) dan senyawa lain. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh keterbatasan suplai oksigen selama pembakaran. Pembakaran tidak sempurna dapat menghasilkan beragam senyawa. Beberapa senyawa lebih beracun daripada senyawa awal yang dioksidasi, seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), CO, furan, dan dioksin (Letcher, 2020).
ADVERTISEMENT
Karbon dioksida (CO2) merupakan gas hasil oksidasi sempurna karbon pada pembakaran dengan oksigen yang cukup. Karbon dioksida tidak beracun dalam keadaan normal, tetapi dalam konsentrasi tinggi menyebabkan sesak napas.
Hidrokarbon Aromatik Polisiklik (PAH) merupakan kelompok senyawa organik beraroma yang tersusun dari dua atau lebih cincin benzena yang terfusi dan bersifat persisten dan toksik. Akibat paparan PAH akan meneybabkan iritasi kulit, gangguan paru, dan kerusakan DNA. PAH yang terikat partikel dianggap sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang tidak berwarna, tidak mengiritasi, tidak berbau, dan tidak berasa. Gas ini dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna bahan bakar karbon seperti kayu, bensin, batu bara, gas alam, dan minyak tanah. Efek kesehatan dari papran CO yang paling sering ditunjukkan yaitu hipoksia akibat pengikatan karbon monoksida pada hemoglobin, yang mengurangi kapasitas darah dalam membawa oksigen serta mengurangi disosiasi oksigen ke jaringan ekstravaskular.
ADVERTISEMENT
Furan merupakan kelompok senyawa aromatik heterosiklik yang mirip dengan dioksin tetapi memiliki struktur berbeda. Sama-sama persisten dan beracun. Furan dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan manusia dan hewan melalui beberapa cara, termasuk: mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan reproduksi. menyebabkan cacat lahir. mempengaruhi perkembangan neurobehavioral (WHO, 2010).
Dioksin termasuk ke dalam kelompok persistent organic pollutants (POP), yaitu senyawa kimia yang sangat stabil dan sulit terurai di lingkungan. Setelah terbentuk, dioksin dapat menyebar melalui udara dan mengendap kembali ke tanah, air, dan permukaan tumbuhan.

Bagaimana saat dioksin mengendap dalam lingkungan?

Setelah mengendap di lingkungan, dioksin dapat masuk ke dalam rantai makanan. Tanaman yang terpapar deposit dioksin dapat menyerapnya melalui permukaan daun atau tanah tempat mereka tumbuh. Hewan ternak seperti sapi, kambing, atau ayam kemudian memakan pakan atau minum air yang telah terkontaminasi, sehingga dioksin terakumulasi dalam jaringan lemak mereka. Proses bioakumulasi dan biomagnifikasi membuat konsentrasi dioksin semakin tinggi di organisme yang berada pada tingkat tropik lebih atas, termasuk manusia yang mengonsumsi produk hewani.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya dari hewan, bahan pangan nabati seperti sayuran berdaun, buah-buahan, dan umbi-umbian juga berisiko tercemar jika ditanam di wilayah dekat area pembakaran sampah. Butiran dioksin yang menempel pada permukaan daun dapat bertahan lama, bahkan tidak hilang hanya dengan pencucian biasa. Selain itu, jika pembakaran sampah terjadi dekat area pengolahan atau penyimpanan makanan, partikel dioksin dapat langsung turun dan mencemari permukaan makanan siap santap.
Pabrik produksi tahu dengan bahan bakar sampah (Sumber: https://www.youtube.com/@Andrew_Fraser)
Salah satu contoh kasus pencemaran dioksin yang paling populer ialah produksi di pabrik tahu yang menggunkan plastik untuk bahan bakarnyan yang dimuat pada artikel merdeka dan jatimtimes. Dimana pada proses produksi tahu dalam pabrik tersebut dari awal pegolahan bahan bakar yang digunakan adalah sampah plastik. Karena hal tersebut, dioksin dapat terakumulasi di udara dan menempel pada tahu yang diproduksi. Selain itu, daerah disekitar pabrik tahu tersebut berdampak dari pencemaran dioksin tadi. Dimana saat pembakaran sampah plastik tersebut tidak sempurna atau tidak terbakar pada suhu yang sesuai akan menghasilkan pencemaran udara yang terlihat yaitu abu hitam dan tidak terlihat adalah senyawa klor yang dapat menjadi dioksin tadi. Setelah dioksin terakumulasi di udara, dioksin akan terserap juga ke tanah. Pada daerah disekitar pabarik tersebut terdapat pertenakan ayam dan beberapa rumah warga.
Ayam yang hidup dan mencari makan di sekitar pabrik tahu (Sumber: https://www.youtube.com/@Andrew_Fraser)
Ada salah satu kasus lain yaitu, telur ayam kampung yang terkontaminasi dioksin yang dimuat pada artikel bbc. Hal tersebut dapat terjadi karena ayam yang hidup di sekitar pabrik tersebut mencari makan di dekat daerah tersebut yang mana tanah pada daerah tersebut sudah terkontaminasi dioksin sehingga kandungan dioksin dapat masuk ke pencernaan ayam tersebut dan menghasilkan telur yang mengandung dioksin. Ketika dioksin menempel pada tanaman, hewan ternak yang memakan tanaman tersebut dapat menyerap senyawa ini, lalu menumpuknya di dalam jaringan lemak mereka. Akibatnya, produk pangan seperti daging, telur, ikan, dan susu dari hewan-hewan tersebut berpotensi terkontaminasi dioksin.
ADVERTISEMENT
Ketika manusia mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, dioksin masuk ke tubuh dan kembali terakumulasi dalam jaringan lemak. Paparan jangka panjang terhadap dioksin dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem imun, gangguan hormon, gangguan reproduksi, kerusakan hati, serta peningkatan risiko kanker. Badan internasional seperti WHO dan FAO telah menetapkan dioksin sebagai salah satu kontaminan paling berbahaya dalam keamanan pangan.

Lalu bagaimana kita dapat mencegah paparan dioksin tersebut?

Salah satu caranya yaitu dengan menghindari atau meminimalisir pembakaran sampah plastik yang dapat menjadi sumber dioksin. Selain itu, dalam sebuah jurnal milik Efrizal (2022) dijelaskan bahwa cara pencegahan dan penanggulangan akibat kontaminasi dioksin dapat dengan mengkonsumsi makanan fungsional yang banyak mengandung antioksidan. Antioksidan ini dapat membantu meningkatkan pertahanan tubuh. Komponen bioaktif yang terdapat dalam makanan fungsional sumber nabati, seperti serat pangan, inulin, fruktooligosakarida (FOS) dan antioksidan atau sumber hewani seperti eicosapentanoic acid (EPA), docosahexanoic acid (DHA) dan conjugated linoleic acids (CLA) dipercaya mempunyai aspek fisiologis yang berdampak pada kesehatan (Efrizal, 2022).
ADVERTISEMENT

Referensi

https://www.merdeka.com/sehat/ancaman-kontaminasi-dioksin-dan-mikroplastik-dari-pembakaran-sampah-plastik-di-industri-tahu-berbahan-bakar-sampah-393808-mvk.html
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-50408544
https://jatimtimes.com/baca/336507/20250502/063500/heboh-tahu-di-surabaya-diproduksi-dengan-bakar-sampah-plastik-ini-bahayanya-menurut-dokter
Baca, D., Monroy, R., Castillo, M., Elkhazraji, A., Farooq, A., & Ahmad, R. (2023). Dioxins and plastic waste : A scientometric analysis and systematic literature review of the detection methods. Environmental Advances, 13(July), 100439. https://doi.org/10.1016/j.envadv.2023.100439
Efrizal, W. (2022). Dampak cemaran dioksin bagi keadaan gizi dan kesehatan: LITERATURE REVIEW. 19(1), 23–30.
Letcher, T. M. (2020). Future energy: Improved, sustainable and clean options for our planet. In Future Energy: Improved, Sustainable and Clean Options for Our Planet. https://doi.org/10.1016/C2018-0-01500-5
WHO. (2010). World Health Organization- WHO guidelines for indoor air quality: selected pollutants. WHO Guidelines.