Konten dari Pengguna

Kurma Fermentasi Solusi Pengawet Alami yang Revolusioner

allya putri adryani

allya putri adryani

Mahasiswi Jurusan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari allya putri adryani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penelitian terbaru dari Universiti Putra Malaysia mengungkap potensi luar biasa kurma fermentasi sebagai pengawet alami yang mampu memperpanjang umur simpan makanan hingga 58%

Buah Kurma (Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/kurma-medjool-organik-mentah-gm516816754-89167343?searchscope=image%2Cfilm)
zoom-in-whitePerbesar
Buah Kurma (Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/kurma-medjool-organik-mentah-gm516816754-89167343?searchscope=image%2Cfilm)

Siapa sangka buah kurma yang sudah difermentasi ternyata memiliki kekuatan luar biasa sebagai pengawet alami? Penelitian groundbreaking dari tim ilmuwan Universitas Putra Malaysia baru-baru ini mengungkap bahwa kurma fermentasi tidak hanya lezat, tetapi juga mampu melawan bakteri dan jamur berbahaya dengan efektivitas mencapai 92%.

Ketika Tradisi Bertemu Sains Modern

Kurma (Phoenix dactylifera) memang sudah lama dikenal sebagai buah bergizi tinggi dengan kandungan gula alami yang melimpah. Namun, para peneliti kini menemukan cara untuk "mengupgrade" manfaat kurma melalui proses fermentasi menggunakan bakteri baik Lactobacillus plantarum.

"Kami tidak hanya mencari cara untuk mengawetkan makanan secara alami, tetapi juga ingin menggali potensi bahan-bahan tradisional yang selama ini mungkin belum dioptimalkan," ungkap tim peneliti dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal Biotechnology & Biotechnological Equipment.

Kekuatan Super Melawan Mikroba Jahat

Hasil penelitian menunjukkan fakta mengejutkan:

• 92,86% efektif melawan jamur Aspergillus flavus (penyebab kerusakan makanan)

• 90,85% efektif melawan jamur Aspergillus niger

• Mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan Staphylococcus aureus

Rahasia kekuatan super ini terletak pada 20 senyawa bioaktif yang dihasilkan selama proses fermentasi, termasuk asam laktat, asam asetat, dan gamma-Aminobutyric acid (GABA) yang bekerja sinergis melawan mikroorganisme perusak.

Uji Coba pada Dodol: Hasil Mencengangkan

Olahan Dodol Kurma (Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/dodol-gm1476624159-505656814?searchscope=image%2Cfilm)

Para peneliti menguji keampuhan kurma fermentasi pada dodol, makanan tradisional Asia Tenggara yang populer di Malaysia, Indonesia, dan negara sekitarnya. Hasilnya? Dodol dengan tambahan kurma fermentasi mampu bertahan hingga 19 hari tanpa busuk, dibandingkan dodol biasa yang hanya tahan 12 hari.

Lebih mengejutkan lagi, ketika dodol sengaja "diserang" dengan jamur berbahaya, versi tradisional langsung kalah dalam 7 hari, sementara dodol dengan kurma fermentasi masih kuat bertahan hingga 18 hari!

Bukan Hanya Awet, Tapi Juga Tetap Lezat

Kekhawatiran bahwa pengawet alami akan mengurangi cita rasa ternyata tidak terbukti. Uji coba pada 116 konsumen menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam hal rasa, aroma, dan tingkat kesukaan antara dodol tradisional dengan dodol yang diperkaya kurma fermentasi.

"Konsumen bahkan memberikan skor tinggi untuk warna dan penampilan produk yang menggunakan kurma fermentasi," tambah peneliti.

Revolusi Industri Makanan di Depan Mata?

Temuan ini membuka peluang besar bagi industri makanan Indonesia. Bayangkan jika kue-kue tradisional seperti wingko, lemper, atau klepon bisa tahan lebih lama tanpa bahan pengawet kimia berbahaya.

Dr. Belal J. Muhialdin, ketua tim peneliti, menegaskan bahwa kurma fermentasi memiliki potensi aplikasi yang sangat luas: "Ini bukan hanya tentang dodol. Kita berbicara tentang revolusi pengawetan makanan yang ramah lingkungan dan aman untuk kesehatan."

Mengapa Ini Penting untuk Indonesia?

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan kuliner tradisional yang luar biasa bisa sangat diuntungkan dari temuan ini:

1. Ekspor Produk Tradisional: Makanan tradisional dengan daya tahan lebih lama akan lebih mudah diekspor

2. Pengurangan Food Waste: Umur simpan yang lebih panjang berarti lebih sedikit makanan terbuang

3. Kesehatan Konsumen: Pengawet alami jauh lebih aman dibanding bahan kimia sintetis

4. Peluang Bisnis Baru: Potensi pengembangan industri kurma fermentasi sebagai bahan baku

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meski hasil penelitian sangat menjanjikan, masih ada beberapa hal yang perlu dioptimalkan:

• Standarisasi proses fermentasi untuk produksi skala besar

• Analisis ekonomi untuk memastikan cost-effectiveness

• Uji coba pada berbagai jenis makanan tradisional Indonesia

Para peneliti juga merekomendasikan studi lanjutan untuk mengoptimalkan kondisi fermentasi dan menguji aplikasi pada produk pangan lainnya.

Masa Depan Pengawetan Makanan

Penelitian ini menandai awal era baru dalam teknologi pengawetan makanan. Kurma fermentasi bukan hanya solusi untuk memperpanjang umur simpan, tetapi juga menjawab kebutuhan konsumen modern akan produk yang alami, aman, dan berkualitas.

Dengan Indonesia sebagai salah satu produsen kurma (meski dalam skala kecil) dan memiliki tradisi fermentasi yang kaya, peluang untuk mengadopsi dan mengembangkan teknologi ini sangat terbuka lebar.

Siap kah industri makanan Indonesia memanfaatkan revolusi pengawet alami ini untuk membawa kuliner Nusantara ke tingkat yang lebih tinggi?

Referensi

"Metabolomics profiling and antimicrobial activity of fermented date fruit (Khastawi) used as functional ingredients for making Asian confectionary (Dodol)" telah dipublikasikan dalam jurnal Biotechnology & Biotechnological Equipment pada 2021.