Konten dari Pengguna

Bahaya Self-Diagnosis Kesehatan Mental di Jakarta

allyssa pradipta

allyssa pradipta

Mahasiswa Universitas Brawijaya, Jurusan Sosiologi

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari allyssa pradipta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Seseorang Depresi (Sumber: https://pixabay.com/id/images/search/mental%20health/?manual_search=1)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Seseorang Depresi (Sumber: https://pixabay.com/id/images/search/mental%20health/?manual_search=1)

Pada saat ini, informasi dapat dengan mudah diterima oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tidak hanya itu, informasi yang terdapat di internet terkadang sulit untuk disaring yang berdampak semua orang dapat dengan mudah mengakses seluruh informasi tanpa mengetahui validitas atau kebenaran dari informasi tersebut. Hal tersebut, banyak dari masyarakat yang termakan dengan informasi atau berita palsu (hoax). Di Indonesia, terdapat sekitar 800.000 situs yang terindikasi melakukan penyebaran informasi palsu (Diandra, 2017). Alasannya untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok dengan menyebarkan informasi yang tidak benar. Selain itu, sosial media juga menjadi salah satu tempat di mana berita palsu beredar.

Jakarta menjadi suatu kota yang sangat sibuk di Indonesia. Dapat dilihat dari tingkat penduduknya yang tinggi dan didorong oleh aktivitas setiap masyarakatnya yang tinggi. Hal tersebut membuat Jakarta menjadi salah satu kota dengan tingkat stres tinggi di dunia. Berdasarkan data dari Savy Sleeper pada tahun 2019, Jakarta termasuk dalam sepuluh besar kota dengan tingkat stres mencapai 7,84 dari 10. Faktor dari tingginya angka stres di Jakarta dapat dipengaruhi karena waktu hari libur yang terbatas, kurangnya jam tidur, dan perjalanan sehari-hari ditempuh dengan waktu yang cukup lama akibat dari kemacetan. Selain itu, juga dapat disebabkan karena Jakarta terdiri dari gedung-gedung yang tinggi perkantoran dan kurangnya fasilitas hiburan yang dapat menyebabkan kejenuhan hingga stres.

Banyak orang yang khususnya tinggal di perkotaan merasa dirinya tidak stabil atau sedang banyak pikiran. Hal tersebut dapat timbulnya asumsi-asumsi mengenai dirinya sendiri dan langsung menyatakan bahwa dirinya sedang sakit atau memiliki gangguan mental. Istilah tersebut dapat disebut dengan self-diagnosis atau mendiagnosis terhadap diri sendiri dengan mengidap suatu gangguan. Self-diagnosis dapat disebabkan karena adanya informasi yang diperoleh dari internet atau teman, setelah itu disesuaikan dengan kondisi yang sedang dialami.

Selain itu, seseorang cenderung untuk mencari tahu melalui informasi teman atau internet dibandingkan konsultasi langsung dengan dokter atau para ahli. Fenomena ini lebih banyak muncul di daerah perkotaan karena masyarakat lebih memiliki tekanan dari luar seperti pekerjaan, pertemanan, dan lainnya. Namun, pada kenyataanya fenomena ini dapat membahayakan dan membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan mental seseorang.

Self-diagnosis merupakan penentuan terhadap suatu jenis penyakit (mental atau fisik) dengan cara meneliti atau mencari tahu berdasarkan informasi yang diperoleh dari diri sendiri. Mendiagnosis terhadap diri sendiri juga memiliki arti sebagai seseorang memutuskan suatu penyakit terhadap dirinya berdasarkan informasi yang sesuai dengan keluhan atau apa yang sedang dirasakan. Orang yang sering kali melakukan self-diagnosis secara berlebihan disebut sebagai cyberchondria (White & Horvitz, 2009). Hal tersebut dapat terjadi karena muncul rasa kecemasan meskipun sudah tidak mengakses informasi. Timbulnya suatu gejala yang dirasakan cenderung dapat mengkhawatirkan diri sendiri dan orang lain sehingga memutuskan untuk mencari informasi sendiri yang belum tentu informasi tersebut teruji kebenarannya.

Ciri-ciri dari cyberchondria yaitu, seseorang menghabiskan waktunya sekitar satu hingga tiga jam untuk mencari tahu gejala-gejala yang sesuai dari internet. Selain itu, pada saat melakukan pencarian informasi, timbul rasa cemas dan rasa tertekan dari diri seseorang. Rasa cemas dan tertekan tersebut dapat datang dari pikiran sendiri dari hasil informasi yang diperoleh dan takut akan mengidap penyakit. Namun, banyak orang yang cyberchondria tidak mengenali atau menyadari bahwa dirinya termasuk cyberchondria (Tim, 2022). Sebab, kecemasan datang dan mempengaruhi pola pikir individu, sehingga dapat memikirkan hal yang belum tentu benar.

Kesehatan mental mental merupakan suatu keharmonisan dalam kehidupan yang terdiri dari fungsi-fungsi jiwa, kemampuan menghadapi suatu permasalahan, serta dapat merasakan kebahagiaan atau berpikir secara positif (Fakhiriyani, 2019). Pada awalnya, kesehatan mental hanya sebatas suatu individu yang memiliki gangguan kejiwaan dan dianggap berbeda dengan individu lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu pandangan tersebut tidak relevan karena kesehatan mental tidak hanya terjadi pada individu yang memiliki gangguan kejiwaan, tetapi juga diperuntukkan untuk seseorang yang mentalnya sehat seperti untuk menggali dirinya terhadap kehidupan berinteraksi dengan sekitar.

Menurut Kementrian Kesehatan, kesehatan mental yang baik yaitu ketika kondisi batin (mental) berada di dalam keadaan yang tenang, sehingga individu dapat menjalani dan menikmati aktivitas sehari-hari dengan pemikiran yang positif seperti menghargai orang sekitar (Kemenkes, n.d.). Seseorang dengan mental yang sehat dapat mengeluarkan potensi yang ada dalam dirinya secara maksimal untuk menghadapi kehidupan yang tidak selalu berjalan apa yang diinginkan.

Self-diagnosis dapat menimbulkan beberapa dampak yang buruk bagi seseorang yang melakukannya (Videbeck, 2008). Pertama, yaitu dapat terjadi salah diagnosis karena gejala-gejala yang dirasakan tidak dapat menjadi suatu kesimpulan seseorang mengidap penyakit tertentu dengan hanya mencocokkan gejala berdasarkan informasi yang didapat tanpa pemeriksaan langsung dari ahli. Kedua, self-diagnosis dapat menyebabkan kemungkinan penanganan yang diambil menjadi keliru atau salah, seperti mengonsumsi obat tanpa konsultasi dari dokter atau dipengaruhi oleh media dengan mempromosikan penanganan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan seseorang. Selain itu, self-diagnosis dapat membuat gangguan kesehatan mental lebih memburuk karena jika salah mengonsumsi obat dapat menimbulkan komplikasi dan dapat merambat ke penyakit lainnya.

Banyak orang yang melakukan self-diagnosis berupa gangguan kesehatan mental atau mental yang cenderung tidak stabil. Gangguan kesehatan mental merupakan perubahan pada fungsi jiwa yang dapat menimbulkan penderitaan seseorang yang dapat menyebabkan terhambatnya dalam melakukan aktivitas sosial. Berdasarkan American Psychiatric Association, gangguan kesehatan mental didefinisikan sebagai sifat kejiwaan yang terjadi pada individu yang dikaitkan dengan stres atau kerusakan pada area yang penting (Videbeck, 2008). Gangguan kesehatan mental disebabkan oleh beberapa faktor seperti, adanya keturunan atau genetika, cacat kongenital yaitu kecacatan yang dipengaruhi sejak lahir dan dapat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak, sikap temperamen atau emosi yang berlebihan, adanya permasalahan hubungan dengan keluarga atau lingkungan sekitar.

Salah satu penyebab dari gangguan kesehatan yang terjadi di daerah perkotaan yaitu lingkungan. Lingkungan menjadi suatu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Manusia sebagai makhluk sosial menghabiskan waktunya di dalam lingkungan sosial. Lingkungan yang kurang baik dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan lainnya. Faktor lingkungan yang mempengaruhi gangguan kesehatan mental yaitu adanya stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat perkotaan secara ekonomi maupun sosial karena hidup di kota besar dan seperti Jakarta memiliki gaya hidup yang cenderung konsumerisme sehingga menimbulkan gengsi. Selain itu, lingkungan pekerjaan dalam hal bersosialisasi atau berinteraksi dengan rekan kerja yang memiliki hubungan kurang baik, memiliki tekanan dalam pekerjaan, dan kurangnya jadwal libur atau istirahat dalam bekerja juga dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Stres merupakan suatu perasaan yang dapat dirasakan ketika sedang berada dibawah tekanan atau merasa kesulitan menghadapi suatu situasi (Unichef, 2022). Stres dapat disebabkan dari pikiran atau prasangka negatif dan dari lingkungan. Menurut Vaay (merek asal Jerman), mereka membandingkan 100 dari 500 kota yang ada di dunia untuk melihat kota berdasarkan tingkat stres masyarakatnya dilihat dari empat faktor penilaian yaitu pemerintahan, kota, perekonomian, dan akses kesehatan. Berdasarkan data yang diperoleh, Jakarta berada di urutan kesembilan menjadi kota membuat stres di dunia (Prakoso, 2021).

Hal tersebut disebabkan karena lalu lintas di Jakarta dengan situasi macet berdasarkan pertimbangan jumlah kendaraan bermotor perkapita, kualitas jalan, pilihan transportasi umum, kecelakaan lalu lintas pertahun, dan kepadatan kota. Selain itu, polusi udara, pencemaran lingkungan, tingkat pengangguran, jaminan kesehatan, dan biaya hidup yang tinggi juga merupakan faktor dari stres dan dapat menjadikan asumsi yang dapat mengarah ke self-diagnosis bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan mental.

Pada dasarnya, stres merupakan suatu bentuk untuk melindungi diri dari bahaya dan membuat seseorang untuk tetap fokus dan selalu waspada. Stres dengan batas tertentu dapat berdampak positif karena untuk memberikan motivasi untuk mencapai suatu tujuan dan sebagai refleksi diri terhadap sesuatu yang dialami. Namun, stres yang berlebihan hingga sulit untuk dikendalikan dapat berdampak negatif hingga mengganggu kesehatan fisik dan mental. Tidak dipungkiri, banyak orang yang merasa stres, tetapi langsung mendiagnosis dirinya memiliki gangguan kesehatan mental karena konstruksi sosial dengan adanya informasi di internet. Banyak informasi yang beredar di media sosial seperti Tiktok, Instagram, Youtube, dan lainnya berupa vidio atau foto yang dapat mempengaruhi seseorang mendiagnosis dirinya sendiri. Stres yang dapat mengganggu kesehatan mental yaitu ketika sudah stres berkepanjangan.

Pemikiran setiap individu sehingga mendiagnosis dirinya dengan beberapa penyakit juga didukung dengan lingkungan sekitar. Di Jakarta merupakan kota yang cukup padat dan terdiri dari gedung-gedung yang bertingkat. Selain itu, banyak orang yang bekerja kantoran yang menghadapi kemacetan. Kurangnya fasilitas hiburan atau ruang terbuka hijau untuk masyarakat yang ingin meluangkan waktunya untuk bersantai dapat berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.

Cara untuk menghilangkan stres yaitu dengan liburan, berolahraga, melakukan kegiatan yang digemari, dan lainnya. Hal tersebut dapat terwujud jika di daerah perkotaan khususnya Jakarta menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang untuk mengurangi kepenatan masyarakat sekitar. Pada saat ini, fasilitas hiburan di Jakarta lebih banyak ruang tertutup (indoor). Berdasarkan data dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terdapat 80 mal yang beroperasi di Ibu kota (Akbar, 2022).

Ruang terbuka hijau dapat mempengaruhi dan menjaga kesehatan mental setiap individu. Sebab, seseorang dapat melakukan berbagai aktivitas fisik (olahraga), berinteraksi dengan masyarakat lain, dan mengurangi kepenatan hingga stres akibat permasalahan yang sedang dihadapi. Menurut Kepala Dinas Cipta Karya Tata Ruang Pertahanan DKI Jakarta, Heru Hermawanto mengatakan bahwa saat ini ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta baru mencapai 9 persen (Azzahra, 2022). Angka tersebut masih terbilang sangat kurang untuk kebutuhan masyarakat maupun untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Akses ruang terbuka hijau merupakan suatu area yang berada di dalam kota yang bersifat terbuka yang berfungsi untuk manusia dan alam.

Dari segi alam, ruang terbuka hijau di area perkotaan berfungsi untuk membantu menyeimbangkan kondisi ekologis kota sebab tanaman dapat membantu menyerap karbon dioksida dan untuk menyimpan air. Selain itu, masyarakat juga dapat memiliki hiburan selain gedung-gedung tinggi di Jakarta. Ruang terbuka hijau menjadi salah satu tempat masyarakat untuk melepaskan kepenatan dari padatnya ibu kota. Namun, berbalik dengan kenyataan, penduduk yang ada di Jakarta yang ingin meluangkan waktunya untuk menikmati alam harus keluar kota terlebih dahulu di mana membutuhkan biaya dan waktu lebih banyak di tengah kesibukan yang mereka hadapi.

Pada era digital ini, banyak masyarakat yang menyuarakan mengenai pentingnya memelihara kesehatan. Sebab, banyak stigma dalam masyarakat bahwa gangguan kesehatan mental dipandang sebelah mata, seperti orang yang mengalami depresi dianggap ‘gila’. Berbagai stigma yang beredar tersebut membuat seseorang yang benar-benar sedang mengalami gangguan kesehatan mental merasa terasingkan atau menarik diri dari masyarakat dan dapat berujung melakukan hal-hal negatif hingga bunuh diri. Stigma dapat menyebar ke berbagai kelompok dan dapat menimbulkan suatu pembagian ruang antara orang yang percaya stigma tersebut dengan orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Hal tersebut dapat menyebabkan segregasi spasial atau pengelompokan di dalam masyarakat.

Pada lingkungan perkotaan, khususnya Jakarta terdapat pengelompokan di lingkungan pekerjaan. Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental cenderung dianggap tidak kompeten dalam mengerjakan pekerjaan atau dianggap lemah. Stigma terhadap gangguan kesehatan mental disebabkan karena kurangnya pengetahuan informasi sehingga mudah terbawa dengan pernyataan yang telah ada. Selain itu, dari prasangka yang menyebabkan reaksi emosional dan dapat disebabkan karena perilaku seseorang yang mendiskriminasi terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Self-diagnosis yang terjadi oleh penduduk Jakarta memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, hal tersebut juga dapat menimbulkan dampak buruk bagi diri setiap individu yang melakukan self-diagnosis. Terdapat beberapa cara untuk menghindari self-diagnosis dalam kesehatan mental. Pertama, hindari untuk mencari tahu suatu penyakit berdasarkan gejala yang dialami dan disamakan melalui informasi yang ada di internet karena terdapat kemungkinan penanganan yang diberikan tidak sesuai dengan yang dirasakan oleh diri sendiri.

Selain itu, jangan menjadikan influencer di media sosial menjadi rujukan dalam kesehatan mental. Sebab, pada saat ini banyak dari influencer yang mengalami gangguan kesehatan mental sehingga masyarakat menjadi ikut terbawa. Hal yang sangat penting untuk dilakukan yaitu, jika sudah merasa kesehatan mental terganggu langsung melakukan pemeriksaan kepada dokter untuk kesembuhan dan mendapatkan penanganan yang tepat. Hal penting lainnya yaitu jangan mudah terbawa stigma yang dapat merugikan diri sendiri.

Pada saat ini banyak sekali campaign yang menyuarakan mengenai pentingnya kesehatan mental dijaga dan didukung oleh berbagai artikel dan informasi mengenai ciri-ciri atau tanda-tanda yang mengarah pada gangguan kesehatan mental. Akibatnya, banyak orang yang langsung mendiagnosis dirinya terkena gangguan mental seperti depresi berat, bipolar, insomnia, dan lainnya. Namun, seseorang yang melakukan diagnosis pada dirinya sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terlebih penduduk yang tinggal di perkotaan khususnya Jakarta yang sedikit ruang terbuka hijau.

Hal tersebut dapat menyebabkan kepenatan bagi penduduk Jakarta karena kurangnya ruang terbuka hijau yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan menjadi salah satu tempat untuk relaksasi dari hal-hal yang membuat pikirannya terganggu seperti bekerja di perkantoran dan harus menghadapi kemacetan, dan lainnya. Dengan adanya ruang terbuka hijau seperti taman, penduduk dapat menggunakannya untuk berinteraksi, berolahraga, atau melakukan aktivitas menarik lainnya.

***

Allyssa Pradipta, mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya