Konten dari Pengguna

Kemajuan yang Tidak Selalu Membawa Keadilan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Almaida Rohimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jalan yang semakin lebar, gedung yang terus bertambah, hingga proyek pembangunan yang berdiri di berbagai sudut kota sering dianggap sebagai tanda kemajuan. Banyak orang percaya bahwa pembangunan akan membawa kehidupan yang lebih baik. Namun, di balik kemajuan itu, masih ada kelompok masyarakat yang justru kehilangan ruang hidupnya. Pertanyaan sederhana pun muncul, benarkah kemajuan selalu menghadirkan keadilan?

Pertanyaan tersebut terasa dekat dengan isi cerpen Tepi Kota yang Hilang. Cerpen ini mengangkat kehidupan keluarga Pak Amir yang harus menghadapi relokasi akibat pembangunan jalan tol. Kisah yang ditawarkan bukan sekadar tentang kehilangan rumah, tetapi juga tentang perjuangan mempertahankan harapan ketika ruang hidup perlahan dirampas oleh perubahan.

Dalam kajian Burhan Nurgiyantoro, tema dipahami sebagai gagasan utama yang menjadi dasar berkembangnya seluruh peristiwa dalam cerita. Gagasan itulah yang menjadi pengikat antara tokoh, konflik, latar, dan alur. Jika dicermati lebih jauh, cerpen Tepi Kota yang Hilang membawa satu persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan saat ini, yaitu kemajuan yang tidak selalu membawa keadilan.

Kemajuan yang Mengorbankan Kehidupan Sederhana

Setiap hari Pak Amir mengayuh becak, sementara Bu Sari menyiapkan nasi uduk untuk dijual keesokan pagi. Di tengah keterbatasan itu, Rani tetap belajar menggunakan buku pinjaman sekolah dan menyimpan cita-cita menjadi guru. Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi masih berjalan dengan tenang. Keadaan mulai berubah ketika pembangunan memasuki lingkungan tempat tinggal mereka.

"Kemajuan," pikirnya, terdengar manis, tapi sering kali ada kehidupan yang harus dikorbankan

Kata kemajuan tidak lagi dimaknai sebagai sesuatu yang sepenuhnya membawa manfaat. Bagi Pak Amir, pembangunan justru menjadi awal dari hilangnya rumah yang selama ini menjadi tempat keluarganya berteduh. Jalan tol memang akan berdiri megah, tetapi di saat yang sama ada kehidupan sederhana yang harus tersingkir. Pandangan seperti ini mengajak kita melihat bahwa pembangunan sering kali memiliki dua wajah. Di satu sisi membawa perubahan, tetapi di sisi lain meninggalkan luka bagi mereka yang tidak memiliki kuasa untuk mempertahankan ruang hidupnya. Kegelisahan itu semakin terasa ketika warga menerima pemberitahuan relokasi.

"Wilayah ini akan segera direlokasi untuk proyek pembangunan jalan tol. Kami minta kerja sama semua warga untuk segera mengosongkan area dalam dua minggu ke depan."

Kalimat tersebut terdengar biasa jika hanya dibaca sebagai pengumuman. Akan tetapi, bagi warga kampung, dua minggu bukan sekadar batas waktu. Dua minggu berarti harus mencari tempat tinggal baru, memikirkan biaya hidup, serta menghadapi masa depan yang belum jelas arahnya. Tidak mengherankan jika relokasi yang disebut sebagai bagian dari pembangunan justru melahirkan rasa takut.

Ketika Kemajuan Menyisakan Kehilangan

Pembangunan sering dihitung dari panjang jalan yang berhasil dibangun atau banyaknya gedung yang berdiri. Padahal, ada hal lain yang sering luput dari perhatian, yaitu kehidupan orang-orang yang harus meninggalkan tempat tinggalnya. Cerpen Tepi Kota yang Hilang memperlihatkan keadaan itu melalui satu pertanyaan sederhana.

"Kalau rumah ini dibongkar, kita tinggal di mana, Pak?"

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar singkat, tetapi menyimpan kegelisahan yang besar. Rumah bukan hanya tempat berteduh, melainkan ruang untuk membangun kehidupan. Di sanalah keluarga Pak Amir bekerja, beristirahat, dan menumbuhkan harapan bagi masa depan Rani.

Ilustrasi Dampak Pembangunan terhadap Kehidupan Masyarakat Kecil_Hasil Pengeditan Pribadi dengan Aplikasi Canva

Ketika rumah itu harus ditinggalkan, yang hilang bukan hanya bangunan, tetapi juga rasa aman yang selama ini mereka miliki. Pembangunan memang terus berjalan, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hasilnya. Ada kelompok yang memperoleh manfaat, sementara kelompok lain justru harus memulai hidup dari awal.

Harapan yang Tidak Pernah Tergusur

Rumah memang telah hilang, tetapi harapan tetap bertahan. Itulah yang membuat Tepi Kota yang Hilang tidak hanya berbicara tentang ketidakadilan, tetapi juga tentang kekuatan untuk bangkit.

"Mungkin dunia ini memang terus berlari, Nak. Tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Karena kalau kita berhenti, kita benar-benar akan tertinggal."

Ucapan Pak Amir menunjukkan bahwa harapan tidak selalu lahir ketika keadaan sedang baik. Justru dalam kondisi paling sulit, harapan menjadi alasan untuk tetap melangkah. Kehilangan tempat tinggal tidak membuatnya berhenti bekerja, begitu pula Rani yang tetap bersekolah dan mempertahankan cita-citanya menjadi guru.

Bagian akhir cerita memberi kesan bahwa pembangunan memang dapat mengubah bentuk sebuah kota, tetapi tidak seharusnya menghilangkan martabat orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kemajuan akan memiliki makna jika berjalan berdampingan dengan rasa kemanusiaan. Tanpa itu, pembangunan hanya akan meninggalkan gedung-gedung tinggi, sementara sebagian orang masih sibuk mencari tempat untuk memulai hidup kembali.

Pada akhirnya, Tepi Kota yang Hilang mengingatkan bahwa kemajuan bukan sekadar soal jalan yang semakin lebar atau bangunan yang semakin megah. Kemajuan juga perlu diukur dari kemampuan sebuah pembangunan menjaga kehidupan orang-orang yang paling rentan. Sebab, pembangunan yang baik bukan hanya membangun kota, tetapi juga tetap memberi ruang bagi setiap orang untuk hidup dengan layak.

Daftar Pustaka

Putri, W. A. (2026). Tepi Kota yang Hilang. Kompas.id. 14 Februari.

Nurgiantoro, Burhan. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.