Konten dari Pengguna

Boleh Berpikir Kritis, tapi Ada Rambunya: Cara Hadis Memandang Filsafat

A Almas Khuzaini

A Almas Khuzaini

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Almas Khuzaini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hasil generasi AI yang menggambarkan seseorang sedang berpikir di depan papan tulis dengan berbagai rumus
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hasil generasi AI yang menggambarkan seseorang sedang berpikir di depan papan tulis dengan berbagai rumus

Pernah baca kolom komentar yang tiba-tiba panas gara-gara satu pertanyaan: "Kalau Tuhan menciptakan segalanya, siapa yang menciptakan Tuhan?"

Biasanya ada dua kubu. Yang satu bilang, "Udah, jangan kebanyakan mikir, nanti sesat." Yang satu lagi bilang, "Kalau nggak boleh ditanya, berarti nggak bisa dijawab dong."

Jadi, sebenarnya Islam, lewat hadis, melarang kita berpikir kritis dan berfilsafat? Jawabannya: tidak. Tapi memang ada aturan mainnya.

Berpikir Itu Tidak Dilarang

Ada kisah terkenal soal penyerbukan kurma (diriwayatkan Muslim). Saat Nabi memberi saran soal urusan kebun, hasilnya kurang baik. Beliau lalu berkata bahwa para sahabat lebih tahu urusan dunia mereka. Banyak ulama membaca ini sebagai pengakuan bahwa manusia punya ruang untuk memakai pengalaman dan akalnya.

Ada juga hadis yang mengajarkan agar kita tidak asal percaya. Dalam riwayat Muslim, seseorang disebut cukup berdosa sebagai pendusta kalau ia menceritakan semua yang ia dengar tanpa disaring. Dari semangat inilah lahir ilmu sanad, yaitu cara para ulama memeriksa siapa pembawa kabar dan layak dipercaya atau tidak. Itu mirip cek fakta/tabayyun, tapi sudah dilakukan berabad-abad lalu.

Ijtihad: Boleh Berpendapat, tapi Bukan untuk Semua Orang

Ada hadis (Bukhari-Muslim) yang menyebut: orang yang berijtihad lalu benar mendapat dua pahala, kalau keliru tetap mendapat satu pahala. Kedengarannya seperti "silakan berpendapat apa saja", kan?

Bukan begitu. Hadis ini bicara tentang orang yang memang ahli di bidangnya, dan hasil ijtihadnya tidak boleh melanggar syariat. Jadi bukan izin untuk siapa pun menafsirkan sesukanya. Ibaratnya, kita percaya dokter menganalisis penyakit, bukan sembarang orang yang baru nonton video kesehatan.

Pahala untuk yang keliru itu bentuk kasih sayang Allah: orang yang sudah berusaha sungguh-sungguh dengan ilmu yang memadai tetap dihargai, meski hasilnya belum tepat.

Lalu, Batasnya di Mana?

Ada dua batas.

Pertama, soal wilayah. Ada hadis (Bukhari-Muslim) tentang bisikan pertanyaan "siapa yang menciptakan Allah?" Nabi mengajarkan agar orang yang mengalaminya berhenti memikirkannya dan memohon perlindungan kepada Allah. Pesannya, ada wilayah gaib yang memang tidak terjangkau akal manusia, jadi memaksakan diri ke sana hanya bikin kita berputar-putar.

Kedua, soal adab. Ada larangan qila wa qala, yaitu sibuk berdebat soal kabar tanpa dasar, serta banyak bertanya yang tidak membawa manfaat. Ada juga peringatan untuk orang yang berlebihan dan memberat-beratkan diri (Muslim). Jadi yang dikritik bukan bertanya, tapi bertanya hanya demi menang debat.

Pelajaran dari Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd

Perdebatan ini sudah lama terjadi, salah satunya antara dua ulama besar, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

Al-Ghazali (wafat 1111) mengkritik para filsuf yang terlalu percaya akal bisa membuktikan segalanya. Ia memberi contoh api dan kapas. Kita memang selalu melihat kapas terbakar saat dekat api, tapi menurutnya kita tidak bisa membuktikan bahwa apinya sendiri yang membakar.

Kalau dipikir-pikir, pandangan ini bisa kita baca sebagai kekeliruan yang wajar. Bidang utama Al-Ghazali adalah teologi dan tasawuf, bukan ilmu alam. Selain itu, setiap ulama dipengaruhi lingkungan dan masalah di zamannya.

Lalu Ibnu Rusyd (wafat 1198) hadir menjawab. Ia menegaskan bahwa hukum sebab-akibat itu nyata di alam, dan agama sendiri mengajak manusia merenungi ciptaan Allah. Jawabannya terasa seperti penyeimbang.

Dari sini kita belajar bahwa setiap ulama punya sudut pandang yang berbeda, dan itu wajar. Karena itu, jangan berhenti pada satu suara saja. Bacalah pendapat ulama lain, bandingkan, lalu cari jalan tengahnya. Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd tidak harus dianggap musuh. Keduanya justru saling melengkapi.

Kebenaran Mutlak Cuma Milik Allah

Kebenaran yang benar-benar benar hanya milik Al-Haqq, yaitu Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha mencarinya.

Di sinilah hadis ijtihad tadi terasa hangat. Yang benar diberi dua pahala, yang keliru tetap dihargai. Seolah Allah berkata, "Yang penting kamu sungguh-sungguh berusaha."

Lalu kenapa Allah tidak langsung memberi semua jawaban? Mungkin karena proses mencari itu sendiri adalah ibadah. Allah ingin melihat hamba-Nya bertanya, belajar, dan berusaha dengan penuh adab. Kalau dipikir, betapa indahnya skenario ini: kebenaran dijadikan perjalanan, bukan sekadar hadiah yang diterima begitu saja.

Mungkin yang kita butuhkan di zaman media sosial ini bukan larangan bertanya, tapi kemampuan bertanya dengan benar.

---

Ringkasnya

Boleh berpikir kritis? Boleh. Hadis memberi ruang pada akal dan mendorong kita memeriksa kabar.

Ijtihad: hanya untuk yang ahli dan tidak melanggar syariat. Pahala bagi yang keliru adalah wujud kasih sayang Allah.

Batas berpikir: wilayah (Dzat Allah dan hal gaib) dan adab (tidak berdebat hanya demi menang).

Perbedaan ulama: pandangan mereka dipengaruhi lingkungan dan keahlian, jadi kita perlu membandingkan beberapa pendapat, seperti Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

Penutup: kebenaran mutlak milik Allah. Kita berikhtiar mencarinya, dan ikhtiar itu sendiri adalah ibadah..