AS vs China Perang Dagang, Indonesia Harus Memilih : Jadi Pasar atau Pemain

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Naufal Majid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China sering terasa seperti konflik ekonomi yang terjadi jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi sebagian orang, perang tarif mungkin hanya terdengar seperti urusan pemerintah, perusahaan multinasional, atau para ekonom. Padahal, dampaknya bisa sampai ke hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: harga barang, peluang kerja, investasi, industri, bahkan masa depan ekonomi generasi muda.
Memasuki September 2026, hubungan dagang AS dan China memang terlihat lebih tenang dibanding fase eskalasi sebelumnya. Keduanya tengah mempertahankan gencatan perdagangan dan membicarakan kemungkinan pengurangan tarif. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping juga dijadwalkan bertemu pada 24 September 2026. Namun, meredanya tensi bukan berarti persoalan selesai. Ekspor China justru melonjak 25 persen secara tahunan pada Agustus 2026, dengan pertumbuhan kuat pada produk teknologi tinggi, semikonduktor, dan kendaraan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persaingan ekonomi AS dan China telah berubah. Ini bukan sekadar persoalan siapa mengenakan tarif lebih tinggi kepada siapa, melainkan tentang siapa yang mampu menguasai teknologi, manufaktur, pasar, dan rantai pasok global.
Di tengah persaingan dua raksasa ekonomi tersebut, Indonesia berada pada posisi yang unik sekaligus rentan.
Indonesia Berdiri di Antara Dua Kekuatan.
Data perdagangan terbaru memperlihatkan betapa pentingnya AS dan China bagi perekonomian Indonesia. Pada Januari-Juli 2026, AS menjadi negara penyumbang surplus perdagangan nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$12,81 miliar. Sebaliknya, China menjadi sumber defisit nonmigas terbesar, mencapai US$17,67 miliar. Pada periode yang sama, China juga menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia dengan pangsa 42,38 persen.
Angka tersebut memperlihatkan sebuah paradoks. Indonesia membutuhkan AS sebagai pasar ekspor, tetapi pada saat yang sama Indonesia sangat bergantung kepada China untuk berbagai kebutuhan impor dan rantai produksi. Artinya, ketika Washington dan Beijing berseteru, Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk sekadar memihak salah satunya.
Masalahnya bukan tentang memilih AS atau China. Masalah sebenarnya adalah apakah Indonesia mampu memilih kepentingannya sendiri. Selama ini, posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global masih sering berada di tengah: memiliki sumber daya, memiliki pasar domestik yang besar, tetapi belum sepenuhnya menjadi negara yang menentukan arah rantai nilai global.
Di sinilah perang dagang AS-China seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai momentum.
Ketika China Kehilangan Pasar, Indonesia Bisa Mendapat Peluang. Ketegangan perdagangan antara AS dan China dapat membuat perusahaan global mempertimbangkan kembali lokasi produksi dan rantai pasoknya. Negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi menjadi alternatif karena perusahaan berupaya mengurangi konsentrasi produksi pada satu negara.
Peluang semacam ini bukan sekadar teori. Indonesia memiliki pasar domestik besar, sumber daya alam strategis, dan sektor manufaktur yang terus berkembang.
Namun, ada satu pertanyaan penting: apakah Indonesia akan menjadi basis produksi baru, atau hanya menjadi pasar baru?
Pertanyaan ini penting karena China juga sedang memperbesar penetrasi ekspornya ke kawasan Asia Tenggara. Pada 2026, negara-negara Asia Tenggara menjadi salah satu pasar penting bagi ekspor teknologi bersih China, termasuk kendaraan listrik, baterai, panel surya, dan komponen jaringan listrik. Nilai pembelian produk energi bersih China oleh Asia Tenggara diperkirakan telah melampaui US$20 miliar.
Jika Indonesia hanya meningkatkan konsumsi terhadap produk impor tanpa memperkuat industri domestik, maka perang dagang AS-China justru berpotensi menghasilkan situasi ironis: ketika dua negara besar bersaing menguasai pasar global, Indonesia hanya menjadi tempat mereka menjual produk. Kita menjadi pasar bukan pemain.
Surplus Perdagangan Tidak Cukup. Indonesia sebenarnya memiliki modal untuk naik kelas. Pada Januari-Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar dan tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor industri pengolahan bahkan tumbuh 7,16 persen dan berkontribusi sekitar 82 persen terhadap total ekspor.
Data ini memberi alasan untuk optimistis. Tetapi kita juga perlu bertanya lebih jauh: produk apa yang kita ekspor dan seberapa besar nilai tambah yang kita ciptakan?
Menjadi negara dengan komoditas unggulan saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan ekonomi global. Negara yang memiliki kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tinggi akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dibanding negara yang hanya menjadi pemasok komoditas.
Karena itu, isu perang dagang seharusnya menjadi pengingat bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada membangun pabrik. Hilirisasi harus menghasilkan kemampuan teknologi, inovasi, tenaga kerja berkualitas, riset, dan perusahaan lokal yang mampu masuk ke rantai pasok internasional. Kalau tidak, kita hanya memindahkan posisi dari “penjual bahan mentah” menjadi “pemasok bahan setengah jadi”.
Gen Z Akan Menanggung Konsekuensinya Pembicaraan tentang perang dagang sering menggunakan istilah yang terdengar jauh dari Gen Z: tarif, neraca perdagangan, investasi, supply chain, atau proteksionisme. Padahal konsekuensinya sangat dekat.
Ketika perusahaan global memindahkan pabrik, yang berubah bukan hanya angka investasi. Yang berubah juga adalah jumlah lapangan pekerjaan, jenis keterampilan yang dibutuhkan, dan peluang karier generasi muda.
Ketika produk China semakin agresif memasuki pasar Asia Tenggara, konsumen memang mendapatkan lebih banyak pilihan dengan harga yang kompetitif. Tetapi produsen lokal juga menghadapi tekanan yang lebih besar.
Ketika AS dan negara-negara lain memperketat akses perdagangan, perusahaan Indonesia harus beradaptasi dengan standar, tarif, dan persyaratan baru. Artinya, kompetisi global pada akhirnya juga menjadi kompetisi terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Bagi Gen Z, persoalannya bukan lagi sekadar “akan bekerja di perusahaan mana”.
Pertanyaannya adalah: apakah kita memiliki kompetensi yang dibutuhkan ketika perusahaan-perusahaan global mengubah lokasi produksinya dan cara mereka bekerja?
Jangan Sampai Indonesia Hanya Diperebutkan. Indonesia sebenarnya sedang berada pada persimpangan penting.
Di satu sisi, persaingan AS-China membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Di sisi lain, derasnya produk dan modal asing juga bisa memperbesar ketergantungan apabila Indonesia tidak memiliki strategi industri yang kuat.
Karena itu, strategi Indonesia seharusnya bukan memilih kubu. Indonesia harus memilih kepentingannya sendiri. Hubungan ekonomi dengan AS perlu diperkuat karena AS merupakan pasar penting bagi produk Indonesia. Hubungan dengan China juga tetap strategis karena China merupakan mitra perdagangan dan sumber impor terbesar Indonesia. Tetapi keduanya harus ditempatkan dalam kerangka diversifikasi, bukan ketergantungan.
Pemerintah perlu memperluas pasar ekspor ke negara lain, meningkatkan kapasitas industri nasional, memperkuat UMKM agar mampu masuk ke rantai pasok global, dan memastikan investasi asing menghasilkan transfer teknologi serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Kementerian Perdagangan sendiri menekankan pentingnya diversifikasi pasar dan komoditas ekspor, sementara sebagian besar impor Indonesia masih berupa bahan baku, bahan penolong, dan barang modal yang dibutuhkan untuk produksi domestik.
Artinya, pekerjaan rumah Indonesia bukan sekadar meningkatkan ekspor. Kita harus meningkatkan kualitas ekspor sekaligus mengurangi kerentanan terhadap perubahan rantai pasok global.
Menjadi Pemain, Bukan Sekadar Penonton. Perang dagang AS-China pada akhirnya memberikan satu pelajaran penting: ekonomi global bukan arena yang netral. Negara dengan industri kuat, teknologi maju, dan daya tawar besar akan lebih mudah menentukan aturan permainan. Indonesia tidak harus menjadi AS atau China, indonesia harus menjadi Indonesia yang lebih kuat.
Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya alam strategis, posisi geografis yang penting, dan bonus demografi, Indonesia memiliki modal untuk menjadi salah satu pemain penting dalam ekonomi global. Namun modal tersebut tidak akan berarti banyak apabila kita hanya mengandalkan besarnya konsumsi domestik dan kekayaan sumber daya. Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukan siapa yang memenangkan perang dagang AS-China. Pertanyaannya adalah apa yang Indonesia menangkan dari perang tersebut.
Apakah kita mendapatkan investasi, teknologi, lapangan kerja, dan pasar baru? Atau justru hanya mendapatkan barang impor yang lebih murah dan ketergantungan yang semakin besar?
Di tengah persaingan dua raksasa ekonomi dunia, Indonesia memiliki kesempatan untuk naik kelas. Tetapi kesempatan tidak otomatis berubah menjadi keuntungan.
Indonesia harus memastikan bahwa ketika AS dan China sibuk berebut pengaruh ekonomi global, kita tidak hanya sibuk menjadi penonton. Kita harus masuk ke dalam permainan. Bukan sekadar sebagai pasar, tetapi sebagai pemain.
