Perempuan Bicara Consent, Namun Kenapa Pelecehan kepada Laki Laki Dinormalisasi?

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Naufal Majid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial hari ini sering dipenuhi diskusi tentang consent, pelecehan verbal, dan pentingnya menghormati tubuh orang lain. Banyak perempuan dengan berani menyuarakan keresahan mereka terhadap objektifikasi yang selama ini mereka alami, baik di dunia nyata maupun di internet. Fenomena catcalling, komentar vulgar, dan seksualisasi tubuh perempuan memang sudah terlalu sering dinormalisasi. Karena itu, tuntutan untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat sebenarnya sangat masuk akal.
Namun ironinya, di saat yang sama, sebagian perempuan justru melakukan hal serupa kepada laki-laki dan menganggapnya sebagai candaan biasa.
Fenomena ini semakin terlihat di media sosial, terutama pada postingan laki-laki berbadan atletis atau berpenampilan menarik. Kolom komentar sering dipenuhi kalimat seperti “rahimku anget”, “ga hujan tapi kok becek”, “pengen dipake”, hingga “izin salin DNA”. Komentar seperti itu bukan hanya dianggap normal, tetapi juga dirayakan. Semakin vulgar komentarnya, semakin banyak likes dan respons tertawa yang didapatkan.
Yang menarik bukan hanya isi komentarnya, tetapi bagaimana masyarakat bereaksi terhadapnya. Tidak ada kemarahan massal, tidak ada narasi besar tentang pelecehan verbal, tidak ada tuntutan menjaga etika digital. Sebaliknya, semuanya dianggap lucu dan menghibur.
Padahal kalau situasinya dibalik, respons publik kemungkinan besar akan sangat berbeda. Bayangkan seorang perempuan mengunggah foto dirinya, lalu laki-laki memenuhi kolom komentar dengan kalimat seksual bernada vulgar. Publik hampir pasti langsung menyebut itu objektifikasi dan pelecehan. Orang-orang akan menganggap perilaku tersebut menjijikkan dan melewati batas.
Tetapi ketika perempuan melakukan hal yang sama kepada laki-laki, semuanya mendadak dianggap harmless.Di sinilah letak standar ganda yang jarang dibahas secara jujur.
Sebagian perempuan hari ini terlihat ingin dihormati, tetapi tidak selalu mau belajar menghormati. Mereka menuntut laki-laki memahami batas personal dan consent, tetapi ketika melihat laki-laki yang dianggap menarik, batas itu mendadak hilang. Tubuh laki-laki berubah menjadi bahan fantasi publik dan semua dibungkus atas nama humor internet.
Yang lebih ironis, sebagian pelaku justru berasal dari kelompok yang paling keras berbicara soal penghormatan terhadap tubuh perempuan.
Mereka marah ketika perempuan dikomentari secara seksual, mereka menolak dijadikan objek visual.Tetapi mereka sendiri tanpa sadar melakukan hal yang sama kepada laki-laki.
Hal ini memperlihatkan bahwa empati sebagian orang ternyata masih sangat selektif. Sensitivitas terhadap pelecehan muncul ketika korbannya perempuan, tetapi perlahan menghilang ketika korbannya laki-laki. Padahal rasa tidak nyaman tidak mengenal gender.
Laki-laki tetap manusia yang memiliki batas personal. Tidak semua laki-laki nyaman tubuhnya dijadikan objek komentar seksual oleh orang asing di internet. Tidak semua laki-laki menikmati ketika dirinya direduksi hanya menjadi tubuh dan bahan fantasi publik. Namun karena budaya sosial kita terlalu sering menganggap laki-laki harus selalu kuat, santai, dan menikmati perhatian seksual, rasa tidak nyaman mereka sering diremehkan.
Ketika ada laki-laki yang merasa terganggu lalu mencoba menegur, respons yang muncul justru sering merendahkan.
“Cowok kok baper.”
“Harusnya bangga dong.”
“Namanya juga bercanda.”
Kalimat seperti ini sebenarnya menunjukkan masalah yang lebih besar: sebagian orang hanya peduli pada pelecehan ketika kelompoknya sendiri menjadi korban. Ketika posisi berubah, standar moral pun ikut berubah.
Padahal sesuatu tidak menjadi benar hanya karena pelakunya perempuan. Komentar vulgar tetap vulgar, objektifikasi tetap objektifikasi, dan pelecehan verbal tetap pelecehan, siapa pun pelakunya.
Sayangnya, media sosial hari ini justru mendorong budaya yang semakin kehilangan sensitivitas terhadap batas personal. Komentar seksual dianggap cara tercepat mencari perhatian dan engagement. Semakin liar kalimatnya, semakin dianggap lucu. Akhirnya banyak orang berlomba-lomba membuat komentar paling vulgar demi mendapatkan likes dan validasi sosial.
Yang hilang adalah kesadaran bahwa ada manusia nyata di balik layar, tubuh seseorang berubah menjadi konten, komentar seksual berubah menjadi hiburan, dan batas etika perlahan dianggap tidak penting.
Fenomena “rahimku anget” sebenarnya bukan sekadar soal candaan receh di internet. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebagian masyarakat masih gagal memahami makna consent secara utuh. Consent seolah hanya berlaku untuk perempuan, sementara laki-laki dianggap pasti nyaman menerima semua bentuk perhatian seksual.
Padahal menghormati orang lain seharusnya tidak bergantung pada gender.
Kalau perempuan ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan objek, maka laki-laki juga seharusnya diperlakukan sama. Tidak bisa di satu sisi menuntut penghormatan terhadap perempuan, tetapi di sisi lain merasa bebas mengomentari tubuh laki-laki secara vulgar.
Karena kalau standar moral berubah tergantung siapa pelakunya, maka yang diperjuangkan sebenarnya bukan keadilan, melainkan privilese sosial.
Tentu saja kritik ini bukan berarti semua perempuan seperti itu. Tidak semua perempuan membuat komentar vulgar, dan tidak semua perempuan mendukung budaya tersebut. Tetapi fakta bahwa perilaku seperti ini terus dinormalisasi menunjukkan bahwa masih banyak orang yang menganggap pelecehan terhadap laki-laki hanyalah candaan.
Padahal candaan tetap bisa melewati batas.
Dulu body shaming juga sering dianggap bercanda.
Dulu catcalling juga sering dianggap pujian.
Namun seiring waktu masyarakat mulai sadar bahwa tidak semua humor itu sehat.
Hal yang sama seharusnya juga berlaku pada komentar seksual terhadap laki-laki.
Karena pada akhirnya, inti dari penghormatan bukan soal siapa yang menjadi korban, tetapi soal konsistensi dalam memperlakukan manusia dengan layak.
Kalau kita benar-benar ingin menciptakan ruang digital yang sehat, maka semua pihak harus mau dikoreksi, termasuk perempuan. Tidak bisa hanya laki-laki yang terus diminta menjaga ucapan dan perilaku, sementara perempuan bebas melewati batas tanpa kritik sosial.
Kesetaraan bukan berarti memberi semua gender hak untuk saling melecehkan secara bebas. Kesetaraan berarti menerapkan standar etika yang sama kepada semua orang.
Dan mungkin sudah waktunya sebagian perempuan di media sosial mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah mereka benar-benar memperjuangkan penghormatan terhadap manusia, atau hanya ingin dihormati ketika diri mereka sendiri yang menjadi korban?
