Konten dari Pengguna

Tourism Supply Chain, Kertajati Butuh Kolaborasi.

Alrdi Samsa

Alrdi Samsa

Penulis Lepas Pascasarjana Ilmu Politik DPP UGM.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alrdi Samsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandara Kertajati/Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Bandara Kertajati/Istimewa

Sejak Oktober 2023 dengan momentum pengalihan penerbangan jet dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati dan beroperasinya Tol Cisumdawu secara penuh pada Juli 2023.

Kertajati terus menunjukan geliat pertumbuhan ekonominya.

Mulai dari pembangunan pabrik yang tersentralisasi di Kawasan Industrial Estate Majalengka hingga pembangunan property yang terus digencarkan oleh Metland Group.

Ini semakin menunjukan bahwa Kertajati perlahan menjadi simpul baru konektivitas di Jawa Barat. Terlebih Kertajati memiliki Bandara Kertajati yang sangat potensial, dengan rute Singapura yang hadir Bandara Kertajati dapat menjadi gerbang bagi konektivitas bisnis dan pariwisata.

Oleh karenanya, momentum ini seharusnya dapat di orkestrasi menjadi sebuah rantai pasok (supply chain) pariwisata yang terintegrasi antar lintas sektor.

Mengapa Tourism Supply Chain?

Supply chain pariwisata adalah sebuah konsep dimana arus integrasi bisnis tercipta dengan melibatkan semua pihak. Mencakup aliran layanan mulai dari Transportasi, Akomodasi, Kuliner, Atraksi Wisata dan juga potensi UMKM yang dapat ditumbuhkan serta para travel agent.

Telah banyak literatur yang menegaskan bahwa jika konsep ini dijalankan dengan mengedepankan kolaborasi dan integrasi antar sektor kepentingan, maka akan berpengaruh langsung pada kinerja destinasi pariwisata.

Melihat Asia Tenggara, seharusnya peningkatan transportasi udara berhubungan positif dengan perumbuhan ekonomi jangka panjang, dengan kanal utama transmisinya adalah sektor pariwisata (Nguyen et al., 2024). Desain rute penerbangan yang dihadirkan oleh Asia tenggara juga dapat memengaruhi permintaan wisatawan inbound.

Oleh karenanya, apabila Supply Chain Pariwisata di Kertajati ini dikelola dengan baik, maka yang hadir adalah peningkatan kinerja sektor pariwisata yang semakin besar.

Syarat utama yang harus hadir adalah, komitmen dari pengelola dan pemilik Bandara Kertajati untuk mengorkestrasi seluruh stakeholder yang terlibat.

Ini membutuhkan komitmen internal yang mana kolaborasi menjadi prinsip utama.

Yang Seharusnya Terjadi

Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka & Kuningan) adalah catcment area potensial yang harus ditangkap oleh Kertajati sebagai potensi pusat pertumbuhan kawasan. Diluar itu, Subang, Sumedang, Purwakarta, Tegal & Brebesa juga menjadi area yang sangat potensial untuk bekerja sama dengan Kertajati.

Sayangnya, studi terkait Kertajati telah banyak ditemukan fakta bahwa daya tarik penumpang sangat bergantung pada aksesibilitas dan kualitas layanan bandara (Ricardiantor et al., 2021).

Berkaitan dengan layanan Bandara, sudah tidak menjadi perdebatan bahwa Bandara Kertajati ini menjadi Bandara Internasional terbesar kedua dan kemegahan serta layanan di dalam Bandara, tidak perlu kemudian diragukan karena dikelola langsung oleh operator terbesar di Indonesia, yakni Angkasa Pura Indonesia.

Namun di sisi aksesibilitas, terjadi ketimpangan yang cukup signifikan, Bandara Kertajati masih belum cukup sentral menjadi penghubung karena terbatasnya rute yang disediakan.

Selain itu Whoosh (kereta cepat) yang menghubungkan ke Bandara Halim, menjadi tantangan tersendiri terkait dengan aksesibilitas.

Fakta-fakta ini, seharusnya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk berkomitmen menjadikan Bandara Ketajati sebagai hub utama.

Dengan komitmen bersama antar sektor, tidak akan ada isu lagi yang liar yang menjadikan Bandara Kertajati posisinya semakin lemah.

Pemerintah harus serius untuk menjadikan Bandara Kertajati sebagai hub utama di Jawa Barat, bukan hal yang sulit rasanya jika pada akhirnya Bandara Kertajati akan menjadi Gerbang Pariwisata Jawa Barat jika semua elemen berkomitmen.

Peran Penting Pemerintah

Menjadi krusial langkah yang akan diambil oleh pemerintah terkait dengan upaya optimalisasi Bandara Kertajati, menjadi penting dan akan disorot apapun yang akan pemerintah lakukan terkait sikapnya untuk menghadirkan keberpihakan bagi Bandara Kertajati.

Setidaknya, peran pemerintah seharusnya berpusar pada beberapa hal. Pertama, penguatan konektivitas multimoda. Kedua, pemberdayaan rute penerbangan berbasis pasar prioritas yang rutenya harus diberdayakan. Ketiga, pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif. Terakhir, membangun resiliensi rantai pasok pariwisata.

Penguatan Konektivitas Multimoda menjadi penting, karena menjadi sektor penghubung. Selain itu, empowering rute juga menjadi penting, sedikit rute namun dapat ber-impact pada pertumbuhan ekonomi. Dimana adanya pemberdayaan rute yang hari ini hadir, dengan berkolaborasi meingkatkan okupansi dan load factornya bersama-sama. Paralel kemudian nantinya akan ada pengembangan rute domestik yang hadir.

Pada akhirnya, momentum pasca Oktober 2023 ini akan menjadi sebuah peluang untuk menjadikan Bandara Kertajati sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat bagian timur.

Ketahanan Rantai pasok pariwisata yang terintegrasi akan hadir, jika peran aktif seluruh pemerintah daerah potensial hadir untuk memperkuat konektivitas, pemberdayaan UMKM dan orkestrasi aktrasi pariwisata.

Ini semua akan berjalan optimal, jika berjalan bersama dengan visi yang sama. Kertajati akan menjadi pintu gerbang utama wisatawan dan penggerak ekonomi daerah.