Bencana Tidak Selalu soal Alam
Tulisan dari Muhammad Ali Shodiqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar kata bencana, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau kebakaran hutan. Alam sering menjadi pihak yang pertama kali disalahkan. Padahal, jika dicermati lebih dalam, banyak bencana yang terjadi bukan semata-mata karena alam bekerja, melainkan karena manusia gagal memahami dan mengelola risiko.
Alam hanya menjalankan hukumnya. Hujan akan tetap turun, sungai akan tetap mengalir, dan bumi akan terus bergerak. Persoalannya adalah bagaimana manusia memilih untuk hidup berdampingan dengan proses alam tersebut.
Banjir, misalnya, sering dianggap sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Namun, apakah hujan deras selalu berujung banjir? Tidak. Banyak kota di dunia mampu menghadapi hujan dengan intensitas tinggi tanpa mengalami genangan yang berarti. Perbedaannya terletak pada tata ruang, sistem drainase, kawasan resapan air, hingga kepatuhan terhadap aturan pembangunan.
Begitu pula dengan tanah longsor. Curah hujan memang menjadi pemicu, tetapi pembukaan lahan tanpa mempertimbangkan kondisi lereng, penebangan hutan, dan pembangunan di kawasan rawan sering kali menjadi faktor yang memperbesar risikonya.
Dalam banyak kasus, bencana terjadi ketika bahaya bertemu dengan kerentanan. Bahaya (hazard) mungkin berasal dari alam, tetapi tingkat kerugian sangat dipengaruhi oleh keputusan manusia. Ketika permukiman dibangun di bantaran sungai, ketika rawa dan lahan gambut dikeringkan tanpa perencanaan yang matang, atau ketika tata ruang diabaikan demi kepentingan jangka pendek, risiko perlahan sedang dibangun.
Ironisnya, kerusakan tersebut tidak langsung terasa. Dampaknya baru muncul bertahun-tahun kemudian, ketika hujan ekstrem datang atau musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya. Saat itulah alam sering dijadikan kambing hitam, padahal sebagian persoalan telah diciptakan oleh manusia sendiri.
Perubahan iklim semakin memperbesar tantangan ini. Cuaca ekstrem kini menjadi lebih sering terjadi, sementara kapasitas lingkungan untuk menyerap dampaknya justru terus menurun. Artinya, kita tidak cukup hanya meningkatkan kemampuan tanggap darurat. Kita harus memperkuat kemampuan mencegah dan mengurangi risiko sejak awal.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang terhadap bencana. Penanggulangan bencana bukan hanya tugas BPBD, Basarnas, TNI, Polri, atau relawan. Ia juga merupakan tanggung jawab para perencana kota, pengembang kawasan, pelaku usaha, akademisi, media, hingga masyarakat yang setiap hari mengambil keputusan sederhana, seperti menjaga saluran air tetap bersih atau tidak membangun di kawasan rawan.
Kita juga perlu menyadari bahwa investasi terbesar dalam penanggulangan bencana bukanlah membeli lebih banyak peralatan penyelamatan, melainkan membangun budaya sadar risiko. Pendidikan kebencanaan, tata ruang yang disiplin, perlindungan lingkungan, dan kebijakan berbasis data merupakan fondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang tangguh.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kebencanaan, saya belajar bahwa keberhasilan sering kali tidak terlihat. Tidak ada berita utama ketika sebuah desa berhasil menghindari banjir karena sistem drainasenya berfungsi baik. Tidak ada sorotan ketika masyarakat mampu mengevakuasi diri dengan tertib karena sebelumnya telah mengikuti simulasi. Padahal, keberhasilan seperti itulah yang sesungguhnya menjadi tujuan mitigasi.
Sudah saatnya kita berhenti melihat bencana sebagai sekadar peristiwa alam. Bencana adalah cermin dari bagaimana kita memperlakukan lingkungan, merencanakan pembangunan, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi risiko.
Alam mungkin menghadirkan ancaman, tetapi besarnya dampak sering kali ditentukan oleh pilihan yang kita ambil.
Karena itu, jika ingin mengurangi bencana di masa depan, jangan hanya bertanya “mengapa alam begitu ganas?” Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Sudahkah kita membangun dengan bijak, menjaga lingkungan dengan sungguh-sungguh, dan mempersiapkan masyarakat sebelum bencana datang?”
Sebab pada akhirnya, bencana tidak selalu soal alam. Sering kali, bencana adalah cerminan dari keputusan manusia sendiri.

