“Golden Time”: Mengapa Kejadian Darurat Harus Segera Dilaporkan
Tulisan dari Muhammad Ali Shodiqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Muhammad Ali Shodiqin
Dalam setiap kejadian darurat, ada satu hal yang sering luput dari perhatian masyarakat: waktu.
Kita sering menganggap bahwa beberapa menit keterlambatan tidak akan membawa perbedaan berarti. Padahal, dalam dunia penanggulangan bencana dan penyelamatan, hitungan menit justru dapat menentukan apakah seseorang berhasil diselamatkan atau tidak. Inilah yang dikenal sebagai golden time, yaitu periode paling krusial ketika tindakan cepat mampu memberikan peluang terbaik untuk menyelamatkan jiwa, mengurangi kerusakan, dan mencegah keadaan menjadi lebih buruk.
Sayangnya, masih banyak kejadian darurat yang baru dilaporkan setelah situasi membesar.
Ada warga yang memilih merekam video terlebih dahulu sebelum menghubungi petugas. Ada pula yang menganggap api kecil akan padam dengan sendirinya, genangan air akan segera surut, atau pohon tumbang bukanlah sesuatu yang mendesak. Ketika laporan akhirnya diterima, kondisi di lapangan sering kali telah berubah menjadi lebih sulit ditangani.
Dalam pekerjaan penanggulangan bencana, kami sering mengatakan bahwa informasi pertama sama berharganya dengan peralatan penyelamatan.
Tim di lapangan tidak mungkin bergerak jika tidak mengetahui bahwa telah terjadi keadaan darurat. Mobil pemadam tidak akan berangkat jika tidak ada laporan kebakaran. Tim evakuasi tidak dapat mencari korban jika tidak mengetahui lokasi kejadian. Ambulans tidak akan meluncur apabila tidak ada informasi mengenai kondisi korban.
Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula sumber daya dapat dikerahkan.
Pada kebakaran lahan misalnya, selisih waktu lima belas hingga tiga puluh menit dapat menentukan apakah api masih dapat dipadamkan dalam luasan beberapa meter atau telah meluas menjadi beberapa hektare. Pada banjir, informasi kenaikan muka air yang cepat memungkinkan petugas memberikan peringatan dini kepada masyarakat sebelum kondisi menjadi berbahaya. Pada kecelakaan lalu lintas, beberapa menit pertama sering menjadi kesempatan terbaik untuk memberikan pertolongan kepada korban sebelum kondisinya memburuk.
Itulah sebabnya laporan masyarakat bukan sekadar formalitas. Ia adalah bagian dari rantai penyelamatan.
Namun, melapor dengan cepat saja tidak cukup. Laporan juga harus jelas dan akurat. Informasi mengenai lokasi, jenis kejadian, perkiraan kondisi di lapangan, serta nomor kontak pelapor akan sangat membantu petugas menentukan respons yang tepat. Laporan yang lengkap dapat mengurangi waktu pencarian lokasi dan mempercepat pengambilan keputusan.
Di era media sosial, kita juga perlu mengubah kebiasaan. Jangan sampai unggahan pertama justru muncul di Facebook, Instagram, atau grup percakapan, sementara petugas belum menerima informasi apa pun. Dokumentasi memang penting, tetapi keselamatan manusia jauh lebih penting.
Ada satu prinsip sederhana yang perlu kita ingat: laporkan dulu, dokumentasikan kemudian.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kebencanaan, saya percaya bahwa masyarakat bukan hanya objek yang harus dilindungi, tetapi juga mitra utama dalam penanggulangan bencana. Petugas tidak mungkin berada di setiap sudut wilayah setiap saat. Mata dan telinga pertama di lapangan adalah masyarakat itu sendiri.
Karena itu, keberhasilan penanganan keadaan darurat tidak hanya ditentukan oleh kecepatan petugas, tetapi juga oleh kecepatan masyarakat dalam memberikan informasi.
Sering kali kita mengukur kesiapsiagaan dari jumlah kendaraan operasional, alat pemadam, atau personel yang dimiliki. Padahal, kesiapsiagaan juga dimulai dari budaya untuk tidak menunda melapor ketika melihat sesuatu yang berpotensi membahayakan.
Pada akhirnya, golden time bukan hanya milik petugas penyelamat. Golden time adalah tanggung jawab kita bersama.
Satu panggilan telepon yang dilakukan tepat waktu mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik panggilan itu bisa terselamatkan sebuah rumah, sebuah lingkungan, atau bahkan sebuah nyawa.
Karena dalam keadaan darurat, waktu bukan sekadar angka pada jam. Waktu adalah kesempatan yang tidak akan pernah kembali.

