Konten dari Pengguna

Mengapa Karhutla Selalu Terulang Meski Teknologi Semakin Canggih?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ali Shodiqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Karhutla Selalu Terulang
zoom-in-whitePerbesar
Mengapa Karhutla Selalu Terulang

Setiap musim kemarau tiba, pertanyaan yang sama selalu muncul: mengapa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang, padahal teknologi semakin canggih?

Kita telah memiliki satelit yang mampu mendeteksi titik panas dalam hitungan menit. Drone dapat memantau kawasan yang sulit dijangkau. Informasi cuaca dapat diprediksi jauh hari. Sistem peringatan dini terus dikembangkan, bahkan kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan untuk menganalisis potensi kebakaran.

Namun, setiap tahun kita masih melihat kepulan asap membumbung di langit.

Lalu, apakah teknologinya yang gagal?

Menurut saya, jawabannya bukan di sana.

Teknologi hanyalah alat. Ia tidak akan pernah menggantikan kesadaran manusia.

Karhutla pada dasarnya bukan persoalan kurangnya inovasi, melainkan persoalan bagaimana manusia mengelola alam. Api tidak muncul begitu saja. Di balik setiap kebakaran selalu ada kombinasi antara cuaca yang kering, kondisi lahan yang rentan, dan aktivitas manusia yang menjadi pemicu.

Suasana Pemadaman Karhutla 6 Agustus 2026, Desa Kalahien, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Foto: Alsod/BPBD Barsel

Satelit mampu menunjukkan lokasi titik api, tetapi satelit tidak dapat mencegah seseorang membakar lahan.

Drone mampu memantau kawasan hutan, tetapi drone tidak bisa menggantikan kepedulian masyarakat untuk melaporkan kebakaran sejak dini.

Begitu pula dengan kecerdasan buatan. Ia mampu memprediksi risiko, tetapi keputusan untuk mencegah tetap berada di tangan manusia.

Inilah ironi yang kita hadapi.

Kita berlomba menciptakan teknologi baru, tetapi sering kali lupa membangun budaya pencegahan.

Dalam banyak kasus, perhatian masyarakat baru muncul ketika asap mulai mengganggu aktivitas. Padahal, sebelum api membesar, selalu ada tanda-tanda yang bisa dikenali. Curah hujan menurun, vegetasi mengering, suhu meningkat, dan lahan gambut kehilangan kelembapannya. Semua itu merupakan sinyal bahwa risiko kebakaran sedang meningkat.

Sayangnya, sinyal tersebut sering diabaikan.

Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kebencanaan, saya melihat bahwa keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan peralatan, tetapi juga oleh kecepatan respons dan kesadaran masyarakat.

Laporan dini dari warga sering kali lebih berharga daripada teknologi yang datang terlambat.

Api yang baru membakar beberapa meter persegi dapat dipadamkan dalam waktu singkat. Sebaliknya, ketika api telah menjalar ke lahan gambut, proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga memerlukan tenaga, waktu, dan biaya yang jauh lebih besar.

Di sinilah pentingnya mengubah cara berpikir.

Selama ini, keberhasilan sering diukur dari banyaknya helikopter water bombing yang diterbangkan, jumlah personel yang dikerahkan, atau luas lahan yang berhasil dipadamkan.

Padahal, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah berapa banyak titik api yang tidak pernah sempat menjadi kebakaran besar.

Keberhasilan mitigasi memang tidak spektakuler. Tidak ada kepulan asap yang menjadi sorotan media. Tidak ada drama evakuasi. Tidak ada gambar petugas yang berjibaku memadamkan api.

Namun justru itulah tujuan mitigasi: membuat bencana tidak pernah terjadi.

Teknologi seharusnya menjadi pendukung, bukan tumpuan utama. Yang lebih penting adalah membangun budaya menjaga lingkungan, memperkuat patroli terpadu, meningkatkan edukasi masyarakat, menegakkan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta memastikan tata kelola lahan dilakukan secara berkelanjutan.

Karhutla juga mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peran. Pemerintah dapat menyediakan sistem peringatan dini, petugas dapat meningkatkan kesiapsiagaan, tetapi tanpa dukungan masyarakat, upaya tersebut tidak akan pernah cukup.

Karena itu, solusi karhutla tidak hanya berada di laboratorium teknologi, tetapi juga di ruang kelas, ruang keluarga, kantor pemerintahan, hingga kebiasaan sederhana masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Pada akhirnya, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi “Seberapa canggih teknologi yang kita miliki?”, melainkan “Seberapa besar kemauan kita untuk mencegah kebakaran sebelum api muncul?”

Sebab secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, ia tidak akan pernah mampu menggantikan satu hal yang paling menentukan: kesadaran manusia untuk menjaga alam.

Potret Satgas Darat Barito Selatan. Inframe : Riky, Hasan & Denny. Foto: Alsod/BPBD Barsel