Mengapa Kita Baru Peduli Saat Asap Sudah Menutup Langit?
Tulisan dari Muhammad Ali Shodiqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Muhammad Ali Shodiqin
Setiap tahun, ketika musim kemarau mencapai puncaknya, langit di beberapa wilayah Indonesia perlahan berubah warna. Kabut asap mulai menyelimuti jalan, aroma terbakar memenuhi udara, jarak pandang berkurang, dan masyarakat mulai mengenakan masker. Saat itulah perhatian publik tiba-tiba tertuju pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Media ramai memberitakan titik api. Pemerintah menggelar rapat darurat. Petugas berjibaku di lapangan. Masyarakat mulai bertanya, mengapa kebakaran bisa terjadi?
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.
Mengapa kita baru peduli saat asap sudah menutup langit?
Karhutla bukanlah bencana yang datang tanpa tanda. Sebelum api membesar, selalu ada musim kemarau yang dapat diprediksi, lahan yang mulai mengering, vegetasi yang kehilangan kelembapan, hingga aktivitas manusia yang berpotensi menjadi pemicu. Dengan kata lain, ancaman itu sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum kepulan asap muncul.
Sayangnya, perhatian kita sering kali terlambat.
Mitigasi belum menjadi budaya. Kita lebih mudah mengumpulkan bantuan setelah kebakaran meluas daripada membangun kesadaran sebelum musim kemarau tiba. Kita lebih antusias membahas helikopter pengebom air dibandingkan pentingnya patroli rutin, edukasi masyarakat, atau pengawasan kawasan rawan.
Padahal, kebakaran besar hampir selalu berawal dari api yang kecil.
Satu puntung rokok yang dibuang sembarangan, pembakaran lahan yang dianggap aman, atau bara api yang tidak benar-benar dipadamkan dapat berkembang menjadi bencana ketika kondisi cuaca mendukung. Dalam hitungan jam, api mampu melahap hektare demi hektare lahan, terutama di kawasan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Ketika itu terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar memadamkan api. Asap mengganggu aktivitas masyarakat, kualitas udara menurun, sekolah dapat diliburkan, transportasi terganggu, hingga kesehatan kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia ikut terancam.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk memadamkan kebakaran juga jauh lebih besar dibandingkan biaya yang diperlukan untuk mencegahnya.
Inilah paradoks yang terus kita hadapi. Pencegahan sering dianggap mahal karena hasilnya tidak langsung terlihat. Sebaliknya, penanganan darurat mendapat perhatian besar karena dampaknya nyata di depan mata.
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kebencanaan, saya melihat bahwa keberhasilan terbesar justru terjadi ketika masyarakat tidak pernah merasakan bencana itu sendiri. Ketika patroli berhasil menemukan titik api sebelum meluas, ketika masyarakat memilih tidak membuka lahan dengan cara membakar, atau ketika laporan cepat memungkinkan petugas segera melakukan pemadaman. Sayangnya, keberhasilan-keberhasilan seperti ini jarang menjadi berita.
Kita perlu mengubah cara berpikir.
Karhutla bukan hanya persoalan petugas pemadam, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, atau pemerintah daerah. Karhutla adalah persoalan bersama. Setiap orang memiliki peran, mulai dari tidak membakar lahan, melaporkan titik api sejak dini, hingga mengingatkan lingkungan sekitar tentang bahaya api di musim kemarau.
Lebih dari itu, pembangunan juga harus mulai memperhitungkan risiko. Pengelolaan lahan gambut, perlindungan kawasan hutan, tata ruang yang berkelanjutan, dan penguatan edukasi masyarakat tidak boleh hanya menjadi agenda ketika bencana terjadi.
Kita sering berkata bahwa lebih baik mencegah daripada mengobati. Namun dalam penanggulangan bencana, ungkapan itu bukan sekadar nasihat. Ia adalah strategi yang dapat menyelamatkan lingkungan, kesehatan, ekonomi, bahkan kehidupan.
Karena ketika asap sudah menutup langit, sesungguhnya kita telah kehilangan waktu yang sangat berharga.
Mungkin sudah saatnya perhatian kita dimulai bukan ketika udara berubah kelabu, melainkan ketika langit masih biru.
Sebab keberhasilan mitigasi tidak diukur dari seberapa cepat kita memadamkan api, tetapi dari seberapa sedikit api yang berhasil muncul.
Langit yang tetap biru adalah bukti bahwa pencegahan telah bekerja. Dan mungkin, itulah keberhasilan yang paling sering luput kita syukuri.

