Konten dari Pengguna

Pelajaran dari Sungai Barito

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ali Shodiqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelajaran Dari Sungai Barito. Dok. Ilustrasi menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Pelajaran Dari Sungai Barito. Dok. Ilustrasi menggunakan AI

Bagi sebagian orang, Sungai Barito mungkin hanya terlihat sebagai bentang alam yang membelah Kalimantan. Namun bagi masyarakat yang hidup di sepanjang alirannya, sungai ini adalah sumber kehidupan. Ia menjadi jalur transportasi, sumber mata pencaharian, tempat mencari ikan, penyedia air, hingga bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saya berkesempatan melihat Sungai Barito bukan hanya sebagai pemandangan, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Dari sana saya belajar bahwa sungai tidak pernah sekadar mengalir. Ia menyimpan cerita tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.

Setiap musim hujan, tinggi muka air Sungai Barito menjadi perhatian banyak pihak. Ketika debit air meningkat, masyarakat mulai waspada terhadap kemungkinan banjir. Sebaliknya, saat musim kemarau datang, penurunan debit air juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi aktivitas pelayaran, pertanian, hingga potensi kebakaran lahan di kawasan sekitarnya.

Kondisi tersebut mengajarkan satu hal penting: alam selalu memberikan tanda. Persoalannya bukan apakah tanda itu ada, melainkan apakah kita mau memperhatikannya.

Suasana di Pasar Terapung, Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Foto: Ema Fitriyani/kumparan

Sayangnya, perhatian terhadap sungai sering kali muncul hanya ketika bencana terjadi. Ketika banjir merendam permukiman, ketika tebing sungai mengalami erosi, atau ketika aktivitas masyarakat terganggu akibat perubahan kondisi air. Setelah keadaan kembali normal, perhatian itu perlahan menghilang. Sungai kembali diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, menjaga sungai tidak cukup dilakukan saat musim hujan. Menjaga sungai berarti menjaga daerah resapan air, mengendalikan pembangunan di kawasan sempadan sungai, mengurangi pencemaran, serta memastikan tata ruang tetap menghormati fungsi alami sungai.

Sebagai seseorang yang bekerja di bidang kebencanaan, saya menyadari bahwa sungai bukanlah penyebab utama bencana. Sungai hanya mengikuti hukum alam. Air akan selalu mencari tempat yang lebih rendah. Ketika ruang alaminya dipersempit oleh bangunan, ketika daerah resapan berkurang, atau ketika sedimentasi terus meningkat, maka sungai akan mencari jalannya sendiri. Sayangnya, jalur itu sering kali melewati permukiman yang dibangun terlalu dekat dengan aliran air.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa pengelolaan sungai bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat. Informasi tinggi muka air, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, hingga disiplin dalam penataan ruang merupakan investasi yang jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan setelah bencana terjadi.

Sungai Barito juga mengajarkan tentang keseimbangan. Ia memberikan kehidupan ketika dijaga, tetapi dapat menghadirkan risiko ketika keseimbangan alam mulai terganggu. Hubungan manusia dengan sungai seharusnya bukan hubungan untuk saling menguasai, melainkan saling menghormati.

Di tengah pesatnya pembangunan, kita sering berfokus pada apa yang dapat dibangun di sekitar sungai. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pembangunan tersebut tetap memberi ruang bagi sungai untuk menjalankan fungsinya?

Pelajaran terbesar yang saya peroleh dari Sungai Barito bukan hanya tentang air yang mengalir. Sungai mengajarkan bahwa setiap keputusan yang kita ambil hari ini—membuka lahan, membangun permukiman, membuang sampah, atau mengabaikan tata ruang—akan kembali kepada kita di masa depan.

Karena itu, menjaga Sungai Barito bukan hanya tentang menjaga sebuah sungai. Kita sedang menjaga kehidupan, menjaga lingkungan, dan menjaga keselamatan generasi yang akan datang.

Sungai tidak pernah meminta banyak. Ia hanya membutuhkan ruang untuk tetap mengalir. Dan mungkin, dari situlah kita belajar bahwa hidup yang selaras dengan alam adalah bentuk mitigasi terbaik yang dapat kita lakukan.