Berani Mempertanyakan Tuhan, Haruskah Seseorang Disebut Atheis?

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Altaliza Zahira Shofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita berpikir bahwa seseorang yang mempertanyakan agama pasti sudah kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan? Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaan semacam ini terkadang dianggap sensitif. Orang yang memiliki pandangan berbeda bisa dengan mudah diberi label tertentu, bahkan sebelum pendapatnya benar-benar dipahami. Padahal, persoalan keyakinan tidak selalu sesederhana membedakan antara percaya dan tidak percaya. Ada pengalaman, pemikiran, dan pergaulan yang dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan. Persoalan inilah yang membuat novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja menarik untuk dibaca, terutama ketika para tokohnya memperdebatkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan kemajuan.
Ketika Keyakinan Berhadapan dengan Pemikiran yang Berbeda
Novel Atheis pertama kali diterbitkan pada 1949 oleh Balai Pustaka. Ceritanya berpusat pada Hasan, seorang pemuda yang tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Perjalanan hidup Hasan berubah ketika ia berhubungan dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda mengenai agama dan kehidupan. Pertemuan tersebut membuatnya berhadapan dengan pemikiran yang sebelumnya tidak begitu dekat dengannya. Melalui pengalaman Hasan, pembaca diajak melihat bagaimana keyakinan seseorang dapat mengalami pergulatan ketika berhadapan dengan lingkungan dan gagasan baru. Namun, menurut saya, hal yang menarik dari novel ini bukan hanya perubahan yang dialami Hasan, melainkan juga perdebatan yang memperlihatkan bagaimana para tokohnya memahami Tuhan dari sudut pandang masing-masing.
“Tuhan Itu Tidak Ada”: Perdebatan Keyakinan dalam Novel Atheis
Salah satu bagian yang menarik terdapat dalam percakapan Bung Parta dan Anwar mengenai Tuhan dan teknik. Bung Parta menyampaikan pandangannya dengan tegas:
“Tuhan itu tidak ada. Yang ada ialah teknik. Dan itulah Tuhan kita!"
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Anwar yang mengatakan:
“Tidak! Teknik itu cuma alat.”
Perdebatan ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai hal yang dianggap penting bagi kehidupan manusia. Bung Parta menekankan teknik sebagai sesuatu yang konkret dan dapat membantu manusia mencapai kemajuan, sedangkan Anwar mempertanyakan arti teknik apabila tidak ada manusia yang menggunakannya. Menurut saya, dialog ini menarik karena pembicaraan tentang Tuhan tidak disajikan hanya sebagai persoalan benar atau salah, tetapi dihubungkan dengan cara manusia memahami kehidupan dan menentukan hal yang dianggap bernilai. Pembaca pun diajak untuk memikirkan kembali hubungan antara keyakinan, akal, dan kemajuan.
Hasan dan Pergulatan Batin di Tengah Perbedaan Keyakinan
Perdebatan tersebut berlanjut ketika Anwar mengemukakan pandangannya tentang manusia. Ia mengatakan bahwa Tuhan, dalam pandangannya, adalah dirinya sendiri sebagai manusia, bukan teknik atau mesin. Bung Parta kemudian menjelaskan bahwa bagi kelompoknya, teknik merupakan alat yang lebih nyata untuk mencapai kesempurnaan hidup. Perbedaan ini menunjukkan bahwa para tokoh tidak sekadar bertukar pendapat, tetapi juga memperlihatkan dasar pemikiran yang berbeda. Menurut saya, bagian tersebut menjadi kekuatan novel karena pembaca tidak hanya diberi tahu bahwa terdapat perbedaan pandangan, tetapi dapat menyaksikan bagaimana perbedaan itu muncul melalui percakapan. Dialog yang demikian membuat pembaca memiliki ruang untuk menilai argumen setiap tokoh, sekaligus menyadari bahwa suatu perdebatan dapat melibatkan persoalan yang lebih luas daripada perbedaan pendapat semata.
Hal lain yang menarik adalah reaksi Hasan ketika mendengarkan perdebatan tersebut. Dalam narasi cerita, Hasan mengakui bahwa ia ingin membantah, tetapi pengalaman pahit dalam perdebatan sebelumnya membuatnya memilih diam. Ia juga mempertanyakan sikap orang-orang yang menganggap kalangan beragama dogmatis, sementara ucapan tokoh-tokoh lain tidak selalu diperiksa secara kritis. Bagian ini penting karena memperlihatkan konflik yang berlangsung bukan hanya di antara para tokoh, tetapi juga di dalam pikiran Hasan sendiri. Menurut saya, sikap Hasan tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca: ketika mendengar pendapat yang bertentangan dengan keyakinan kita, apakah kita benar-benar mempertimbangkan argumennya, atau justru diam karena takut, ragu, dan tidak siap menghadapi perdebatan? Novel ini memperlihatkan bahwa pergulatan pemikiran dapat berlangsung dalam diam, meskipun seseorang belum mampu mengungkapkan semua pertanyaannya.
Novel Atheis: Memahami Perbedaan Keyakinan tanpa Menghakimi
Menariknya, dalam percakapan tersebut, Rusli dan Kartini tampak menyetujui ucapan Bung Parta. Namun, apakah itu berarti mereka sepenuhnya sepakat dengan semua pemikirannya? Menurut saya, bagian ini mengingatkan kita untuk tidak asal menyimpulkan sesuatu saat membaca. Kita perlu membedakan apa yang benar-benar diucapkan tokoh dan apa yang hanya kita tafsirkan sebagai pembaca.
Hal ini juga dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita pasti pernah bertemu orang yang punya pandangan berbeda tentang agama, ilmu pengetahuan, atau cara menjalani hidup. Perbedaan itu sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk saling belajar, bukan alasan untuk saling menjatuhkan. Melalui Atheis, kita diajak untuk tidak langsung menghakimi seseorang hanya karena pemikirannya berbeda. Sebab, memahami pendapat orang lain bukan berarti kita harus menyetujuinya.
Pesan Kehidupan dalam Novel Atheis: Memahami Tanpa Menghakimi
Pada akhirnya, Atheis bukan hanya menghadirkan perdebatan tentang Tuhan dan keyakinan, tetapi juga mengajak pembaca melihat bagaimana perbedaan pemikiran dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan. Melalui tokoh-tokohnya, pembaca diajak menyadari bahwa setiap orang bisa memiliki cara berpikir dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan itu tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran atau saling merendahkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu dengan orang yang pendapatnya berbeda dari kita, termasuk dalam hal agama, prinsip hidup, atau cara mengambil keputusan. Terkadang, kita terlalu cepat memberikan penilaian tanpa benar-benar memahami alasan di balik pendapat orang tersebut. Padahal, mendengarkan bukan berarti harus menyetujui. Kita tetap bisa mempertahankan keyakinan sendiri sambil menghargai orang lain yang memiliki pandangan berbeda.
Salah satu makna yang dapat dipetik dari novel ini adalah pentingnya berpikir kritis tanpa kehilangan sikap saling menghormati. Pembaca tidak harus menyetujui semua pemikiran tokoh-tokohnya, tetapi dapat menjadikan perdebatan di dalam cerita sebagai bahan untuk merenungkan kembali pandangan dan keyakinan masing-masing. Di sinilah novel tidak sekadar menjadi bacaan, melainkan juga ruang untuk memahami persoalan manusia dengan lebih luas.
Membaca Atheis pada akhirnya mengingatkan kita bahwa memahami seseorang membutuhkan lebih dari sekadar mendengar pendapatnya. Kita juga perlu melihat alasan, pengalaman, dan pergulatan yang mungkin melatarbelakanginya. Sebab, berbeda pendapat tidak selalu berarti harus bermusuhan. Dari novel ini, kita bisa belajar bahwa sebelum menghakimi pemikiran orang lain, ada baiknya kita terlebih dahulu berusaha memahaminya.
