AI dan Mahasiswa di 2026: Membantu atau Jadi Bergantung?

Mahasiswa Universitas Pamulang dengan program studi Sistem Informasi yang menggemari dunia wewangian, khususnya parfum.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Althaf Fahri Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI) merupakan hal yang akan banyak kita jumpai sekarang dikalangan mahasiswa, ada mahasiswa yang menjadikan AI seperti mentor atau teman belajar yang berart mahasiswa tersebut menganggap AI tersebut sebagai teman yang menemaninya belajar, seperti belajar bersama. Tetapi, masih ada saja mahasiswa yang menggunakan AI malah seperti alat untuk mengerjakan semua aktivitasnya, dengan arti mengerjakan semua aktivitas kampus, seperti analisis, mencari jawaban tanpa membacanya kembali, serta membuatkan gambar otomatis.
Dengan itu muncullah kekhawatiran mengenai AI, sebenarnya AI itu membantu kita, atau membuat kita berketergantungan dengan AI tersebut.
Sebetulnya kekhawatiran ini bukanlah tanpa alasan, di dunia pendidikan penggunaan AI secara berlebihan dapat menimbulkan masalah ketika mahasiswa itu hanya menangkap mentah jawaban dari AI dan tidak melakukan checking ulang atas jawaban dari AI-Nya.
Padahal AI juga sebetulnya bisa sekali melakukan kesalahan atau keliru dalam memberi jawaban, termasuk data yang diberikan AI suka tidak sesuai dengan sumber aslinya.
Perdebatan mengenai AI dalam karya ilmiah juga sempat menjadi sorotan. Pada tahum 2025, akademisi mengingatkan bahwasannya ketergantungan terhadap GenAI dapat menimbulkan penumpulan terhadap daya pikir kreatif dan kritis pada pikiran mahasiswa.
Jadi apakah AI itu Negatif untuk Mahasiswa?
Sebetulnya sangat amat banyak manfaat atau dampak positif dari teknologi AI, apalagi untuk mahasiswa seperti kita. Tetapi, kembali lagi kepada individu masing-masing orang, bagaimana cara mengoperasikan AI itu sendiri. Karena sudah pasti AI memerlukan bantuan kita juga untuk meng-Input prompt agar AI tersebut dapat bekerja dengan baik.
Dan prompter yang baik juga dapat menciptakan AI yang berdampak positif.
Bagaimana Menjadi Prompter yang Positif?
Sebenarnya menjadi seorang promter itu hal yang tidak mudah, dalam artian sebagai promter kita harus bertanggung jawab atas arahan yang kita berikan kepada AI, bukannya malah mengarahkan AI secara acak tanpa tau risiko atas prompt acak tersebut.
Sebagai mahasiswa, kita dapat membantu dalam mencari ide (bukan asal copy-paste ide), memahami materi yang menurut kita sangat sulit (buka hanya mencari jawaban untuk materi tersebut) dan membantu dalam mengembangkan suatu gagasan yang kita bangun (bangun secara bersama, bukan hanya mengandalkan ai-Nya saja).
Menurut saya, pada akhirnya AI bisa sangat berdampak positif, tapi bisa juga berdampak negatif bagi mahasiswa. Kenapa? Karena akhirnya semuanya kembali kepada individu kita yang menggunakan AI-Nya itu baik atau tidak. Jadi marilah kita menggunakan teknologi ini dengan bijaksana dan selalu untuk hal yang positif
