Konten dari Pengguna

Mengenal Validation Seeking, Ketika Pengakuan Orang Lain Terasa Sangat Penting

fida

fida

mahasiswa ilmu komunikasi universitas pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari fida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Source: shutterstock

Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap "haus validasi" karena sering membagikan pencapaian, penampilan, atau aktivitasnya demi mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Namun, benarkah setiap orang yang mencari pengakuan dapat disebut mengalami validation seeking? Secara umum, validation seeking adalah kecenderungan seseorang untuk mencari pengakuan, persetujuan, atau penilaian positif dari orang lain agar merasa lebih yakin terhadap dirinya sendiri. Dalam kadar tertentu, kebutuhan akan validasi merupakan hal yang wajar karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan penerimaan dari lingkungan. Meski begitu, kondisi ini menjadi perhatian ketika rasa percaya diri seseorang mulai bergantung sepenuhnya pada respons orang lain. Misalnya, seseorang merasa tidak puas dengan pencapaiannya jika tidak mendapat pujian, terus-menerus mengecek jumlah likes atau komentar di media sosial, atau merasa kecewa ketika unggahannya tidak memperoleh perhatian seperti yang diharapkan. Perlu dipahami bahwa validation seeking berbeda dengan keinginan untuk mendapatkan apresiasi. Apresiasi merupakan bentuk penghargaan yang wajar atas usaha atau pencapaian seseorang. Sementara itu, validation seeking lebih mengarah pada kebutuhan yang terus-menerus akan pengakuan untuk merasa berharga. Dengan kata lain, apresiasi dapat menjadi pelengkap, sedangkan validasi eksternal menjadi kebutuhan utama bagi sebagian orang. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti sering meminta pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan, merasa cemas jika tidak mendapat respons positif, atau terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Namun, perilaku tersebut tidak selalu menunjukkan adanya validation seeking. Setiap orang bisa saja mencari dukungan atau pengakuan pada situasi tertentu, terutama ketika menghadapi tantangan atau ketidakpastian. Beberapa ahli juga menjelaskan bahwa kebutuhan akan validasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa kecil, lingkungan sosial, serta tingkat kepercayaan diri seseorang. Oleh karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung diberi label "haus validasi" hanya berdasarkan perilaku yang terlihat di media sosial atau dalam kehidupan sehari-hari. Membangun rasa percaya diri yang sehat berarti mampu menghargai diri sendiri tanpa harus selalu bergantung pada penilaian orang lain. Pengakuan dan apresiasi tentu dapat memberikan semangat, tetapi keduanya sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan nilai diri. Pada akhirnya, mencari validasi bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana kebutuhan tersebut memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika penghargaan terhadap diri dapat tumbuh dari dalam, pengakuan dari orang lain akan menjadi bonus, bukan lagi kebutuhan yang harus selalu dipenuhi.