Konten dari Pengguna

Pernah Bertemu Orang yang Selalu Merasa Benar? Kenali Fenomena Superior Complex

fida

fida

mahasiswa ilmu komunikasi universitas pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari fida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Source: shutterstock

Belakangan ini, istilah superior complex semakin sering muncul di media sosial. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang merasa dirinya lebih pintar, lebih hebat, atau lebih benar dibanding orang lain. Tak jarang, orang dengan sikap seperti ini juga cenderung sulit menerima kritik dan menganggap pendapatnya selalu yang paling tepat. Secara umum, superior complex adalah kecenderungan seseorang untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dari orang lain. Sikap ini dapat terlihat dari kebiasaan meremehkan pendapat orang lain, enggan mengakui kesalahan, hingga selalu ingin menjadi sosok yang paling menonjol dalam berbagai situasi. Meski begitu, superior complex bukan merupakan diagnosis gangguan mental, melainkan istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola perilaku tertentu. Sekilas, superior complex mungkin tampak seperti rasa percaya diri yang tinggi. Namun, keduanya memiliki perbedaan. Orang yang percaya diri tetap mampu menghargai kemampuan orang lain dan terbuka terhadap kritik. Sebaliknya, seseorang dengan kecenderungan superior complex lebih sering merasa dirinya selalu benar dan sulit menerima sudut pandang yang berbeda. Dalam beberapa kasus, sikap tersebut juga dapat menjadi cara seseorang menutupi rasa tidak aman atau rendah diri. Dengan terus menunjukkan bahwa dirinya lebih baik, ia berusaha mempertahankan citra yang diinginkan di hadapan orang lain. Karena itu, perilaku yang terlihat arogan belum tentu selalu berawal dari rasa percaya diri yang kuat. Di media sosial, superior complex sering dikaitkan dengan perilaku seperti gemar mencari kesalahan orang lain, merasa paling pintar, membutuhkan pengakuan, atau enggan meminta maaf. Meski perilaku tersebut bisa menjadi tanda adanya kecenderungan superior complex, tidak semua orang yang pernah bersikap demikian dapat langsung diberi label tersebut. Setiap orang dapat menunjukkan perilaku serupa dalam situasi tertentu. Pada akhirnya, memiliki rasa percaya diri merupakan hal yang positif. Namun, ketika seseorang mulai merasa dirinya selalu lebih unggul dan menganggap orang lain lebih rendah, hal tersebut dapat memengaruhi cara membangun hubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Memahami perbedaan antara percaya diri dan superior complex dapat membantu kita lebih bijak dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.