MENGALAH BUKANLAH KEKALAHAN
Tulisan dari Alvein Damar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mengalah seringkali menjadi suatu pilihan yang harus diambil. Keputusan untuk mengalah sulit diambil ketika pihak yang menjadi lawan terlihat merasa paling benar. Tak terlihat sadar akan kesalahannya. Ketika sikap mengalah diambil maka pihak lawan menjadikannya sebagai klaim kemenangan. Bukan persoalan mudah tentunya. Bahkan pergulatan batin untuk mengambil sikap ini terkadang lebih keras dibanding pertarungan fisik sekalipun. Sering kali pula, mengalah dijadikan alasan untuk berhenti berupaya. Berhenti untuk peduli lagi.
Mengalah memang sebuah pilihan tetapi bukanlah sikap akhir. Apapun alasannya, mengalah bukanlah pernyataan sikap kalah. Mengalah bukan stasiun terakhir. Mengalah hanyalah sebuah stasiun sementara. Tempat berhenti sejenak. Mengambil jarak. Ini adalah sebuah fase untuk mengendalikan amarah, kebuntuan berpikir, ataupun kebencian. Fase mengalah menjadi peluang untuk dialog dengan diri. Membuka ruang batin.
Pada fase ini, ketika berdamai dengan sang Ego dalam diri, terbuka ruang dialog dengan Ilahi. Membuka hadirnya ingatan ajaran-ajaran suci. Inilah pencerahan dari sang maha SUCI. Pencerahan ini menjadi pembuka terjadinya kolaborasi Ilahi. Ketika sang hamba bergerak dengan bimbingan dan pengetahuan yang lebih jernih dan komprehensif. Lepas dari ego, kemarahan dan keinginan untuk merusak. Bergerak dengan pengetahuan bahwa kebenaran hanyalah milik Ilahi
Mudah? Tentu saja tidak.
Inilah jalannya sang pecinta.
Maka untuk memenuhi undangan Allah ini, gerbang ilmu adalah gerbang pertama yang harus dimasuki. Mencari ilmu tentang bagaimana hukum Allah berjalan adalah sebuah kolaborasi Ilahi,. Pahami tentang kesadaran manusia hadir dalam banyak bentuk. Keinsyafan seseorang muncul dnegan cara yang begitu variatif. Bahkan, hukuman Allah pun tak pernah seragam. Genggam pengetahuan bahwa segala sesuatu di muka bumi ini memiliki konsekuensi. Selain yang terlihat kasat mata, ada Istidraj sebagai salah satu hukum Allah yang berlaku. Istidraj adalah ketika seorang hamba tersesat dalam ketaksadaran. Berjalan dalam kegelapan tanpa menyadarinya.
Dengan mengetahui hukum-hukum Allah seorang hamba akan menjadi sadar bahwa Allah yang Maha Meliputi dan Maha berkehendak.

