Lumpy Skin Disease, Ancaman Nyata Setelah Penyakit Mulut dan Kuku

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga angkatan 2022 yang memiliki ketertarikan di sektor peternakan. Merupakan Pengurus Besar Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (PB IMAKAHI) 2023/2024 bidang Pengabdian Masyarakat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alvian Robby Wibisono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah sempat dihebohkan dengan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang sektor peternakan sehingga membuat rugi peternak. Kini sektor peternakan mulai menghadapi tantangan baru dengan munculnya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang tidak kalah merugikan dan membuat pusing peternak.
Lumpy Skin Disease (LSD),atau bisa juga disebut Pseudo-urticaria, Neethling virus disease, exanthema nodularis bovis, knopvelsiekte (Abutarbush, 2017) adalah penyakit yang umumnya terjadi pada sapi, yang disebabkan akibat virus pox dengan dengan dugaan penularan utama melalui vektor.
Penyakit ini dapat menginfeksi sapi dan kerbau, dan apabila dibiarkan begitu saja maka situasi ini akan semakin meresahkan para peternak karena penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi yang disebabkan adanya kematian ternak, tingginya angka kesakitan, adanya hambatan perdagangan, serta gangguan terhadap aspek sosial budaya dan keresahan masyarakat.
Lumpy Skin Disease disebabkan oleh virus LSD dari genus Capripox, famili Poxviridae (Lojkic et al. 2018). Genus Capripox terdiri dari virus sheep pox (SP), virus goat pox (GP) dan virus LSD. Namun, virus ini tidak ditemukan pada domba dan kambing.
Gejala Lumpy Skin Disease (LSD)
Sapi atau kerbau yang terinfeksi virus LSD maka akan mengalami masa inkubasi yang umumnya berjarak 4-14 hari atau ada beberapa kasus tercatat lebih lama 3-4 minggu.
Setelah terinfeksi virus, biasanya sapi akan menunjukkan gejala-gejala klinis dimulai dari peningkatan suhu 40,5°C-41,5°C yang mengakibatkan demam tinggi, ingusan, konjungtivitis, hipersalivasi, depresi, peradangan limfoglandula, dan penurun kualitas dan kuantitas produksi susu.
Gejala klinis yang sangat terlihat dan bisa di identifikasi yaitu adanya nodul-nodul atau benjolan yang berkembang diseluruh tubuh sapi berdiameter 0,5-5,0 cm.
Penularan dan Penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD)
Penyakit ini muncul pada tahun 1929 di Zambia dan menjadi endemik di Benua Afrika. Pada tahun 2022 tepatnya di bulan Februari LSD terdeteksi di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 242/KPTS/PK.320/M/3/2022.
Penularan Lumpy Skin Disease dapat menular melalui vektor ataupun tanpa melalui vektor.
Untuk penularan melalui vektor, yaitu:
Lalat
Caplak
Gigitan nyamuk
Sedangkan penularan tanpa melalui vektor, yaitu:
Jarum suntik
Makan di wadah yang sama
Pakaian dokter hewan atau peternak yang tidak disterilkan setelah beraktivitas khususnya aktivitas di kandang
Peralatan dokter hewan atau peternak yang tidak disterilkan setelah beraktivitas khususnya aktivitas di kandang
Berbagai macam hasil sekresi tubuh
Intrauterine (Anak yang tertular dari induknya)
Bahaya antara LSD dan PMK?
Lumpy Skin Disease (LSD)
Demam
Penurunan kuantitas dan kualitas susu
Penurunan kualitas nutrisi daging
Depresi
Peradangan limfoglandula
Risiko zoonosis kecil
Nodul-nodul (benjolan) pada seluruh tubuh
Penyakit Mulut dan Kuku
Demam
Penurunan kuantitas dan kualitas susu
Hewan muda mati mendadak
Rentan Aborsi
Lumpuh
Produksi air liur sangat banyak
Pendarahan pada kuku
Lepuh atau Lesi pada kuku, lidah, gusi, atau hidung
Dari pernyataan-pernyataan yang telah disampaikan, dapat diinterpretasikan PMK dan LSD sama-sama berbahaya bagi ternak dan hewan ternak Hal ini juga dapat berdampak pada perekonomian peternak. Tapi, karena LSD dapat menyebar melalui vektor, sehingga pengobatan lebih lambat dan memakan banyak tenaga.
