5 Kebiasaan yang Bikin AC Mobil Cepat Rusak, Sering Dilakukan Tanpa Sadar

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisi-kisi AC mobil listrik BYD Atto 3.  Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kisi-kisi AC mobil listrik BYD Atto 3. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

AC mobil menjadi salah satu fitur yang paling sering digunakan saat mengemudi untuk menjaga kabin tetap sejuk dan nyaman. Penggunaan yang kurang tepat bisa membuat komponen AC mobil bekerja lebih berat dan berisiko mengalami kerusakan lebih cepat.

Menurut Imam Taufik, pemilik Lazl Jaya AC mobil yang sudah menekuni bidang ini selama 34 tahun, menerangkan ada sejumlah kebiasaan pengemudi yang dapat membebani sistem pendingin mobil. Beberapa di antaranya bahkan masih sering dilakukan tanpa disadari.

Berikut rangkumannya:

Ilustrasi kaca mobil terbuka. Foto: Dok. Shutterstock

1. Membuka kaca saat AC menyala

Kebiasaan pertama adalah tetap menyalakan AC ketika kaca mobil dalam kondisi terbuka. Saat kaca dibuka, udara panas dari luar akan terus masuk ke dalam kabin, membuat suhu di dalam sulit mencapai temperatur yang stabil.

"Dia nyalain AC nih, terus kacanya dibuka, otomatis kan suhu di dalam mobil bercampur suhu ruang yang panas. Kedinginan AC-nya kan jadi berkurang," jelas Imam.

Akibatnya, thermostat tidak bisa bekerja secara optimal dan kompresor AC akan terus bekerja untuk mempertahankan suhu. Kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat membuat kompresor bekerja lebih keras dan mempercepat keausan komponen.

Namun apabila alasannya untuk membuang hawa panas terlebih dulu, tentu diperbolehkan apalagi setelah parkir di bawah terik matahari.

Ilustrasi vaping di dalam mobil. Foto: Dok. Daily Express

2. Vaping di dalam mobil

Menggunakan vape ketika AC menyala juga dapat berdampak pada sistem pendingin kabin. Uap yang dihasilkan dapat membuat permukaan di sekitar evaporator menjadi lebih lengket. Uap ini kemudian akan ikut tersedot oleh blower dan masuk ke area evaporator.

"Asap vape sebenarnya bisa bikin rusak juga, itu kan bikin lengket ya. Kotoran-kotorannya masuk ke evaporator, bikin bau juga. Rusaknya nggak jangka panjang sih, bukan yang satu sampai dua tahun langsung rusak," terang Imam.

Kondisi itu akan membuat kotoran lebih mudah menempel dan akhirnya mengganggu kinerja evaporator. Selain itu, kebiasaan ini juga bisa membuat kabin dan sistem AC lebih cepat berbau. Kerusakan akibat uap vape tidak terjadi secara langsung, melainkan dalam jangka panjang.

AC Mobil di KIA Grand Sedona Foto: Aditya Niagara/kumparan

3. Menyetel suhu AC paling dingin terus-menerus

Menyetel suhu AC mobil pada posisi paling dingin secara terus-menerus dapat membuat kompresor menerima beban kerja lebih tinggi. Kondisi ini juga membuat kompresor membutuhkan waktu lebih lama untuk berhenti bekerja setelah suhu kabin mencapai temperatur yang diinginkan.

Kebiasaan itu turut menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros, terutama pada mobil bermesin konvensional. Beban kerja kompresor yang meningkat membuat mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk mengoperasikan sistem AC.

"Kalau AC pake paling besar dampaknya satu boros bensin. Kemudian kompresor kerjanya terlalu dipaksa, mati-mati cuma kan lama. Kalau posisi mobil lagi jalan sih mendingan, kebantu sama arah angin," ujar Imam.

Pengaturan suhu AC sebaiknya tidak selalu dibuat pada posisi paling dingin dan dapat disesuaikan dengan kondisi kabin serta kebutuhan penumpang. Sementara itu, kecepatan angin juga dapat diatur sesuai jumlah orang di dalam mobil.

Komponen filter kabin pada sistem AC mobil. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

4. Tidak rutin membersihkan filter kabin

Filter kabin yang kotor ternyata bisa membuat kinerja AC menjadi lebih berat. Hal ini akan menghambat aliran udara dari blower. Akibatnya, hembusan AC menjadi lebih kecil meski sistem masih mampu menghasilkan udara dingin.

"Kalau mobil sudah pakai filter kabin, ya dijaga kebersihannya. Ada orang yang mobilnya bersih, ada yang mobilnya jarok makanan ditaruh. Lama-lama AC bau dan banyak hewan," tutur Imam.

Kondisi itu pada akhirnya dapat membuat kompresor bekerja lebih lama sebab suhu kabin sulit mencapai temperatur yang ideal. Filter kabin sebaiknya ikut diperiksa saat melakukan servis AC. Waktu penggantiannya sendiri bergantung pada tingkat kebersihan dan kondisi penggunaan mobil.

Ilustrasi AC mobil. Foto: macsradiator.com

5. AC langsung menyala saat mesin dihidupkan

Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah membiarkan AC dalam posisi menyala ketika mesin mobil dihidupkan atau lupa mematikan saat mesin dimatikan. Kondisi ini perlu diperhatikan terutama pada mobil yang sistem AC-nya sudah menggunakan banyak komponen elektrik.

Hal itu berisiko membebani komponen sebab tegangan listrik akan meningkat secara mendadak. Pengemudi disarankan mematikan AC sebelum mematikan mesin. Setelah mesin kembali hidup, AC dapat dinyalakan beberapa saat kemudian.

"Lupa matiin AC terus mesin hidup ngaruh ke elektrik seperti servo, humbly, dan relay, voltage-nya langsung naik," imbuh Imam singkat.

Selain lima kebiasaan tersebut, Imam menyarankan pemilik mobil melakukan pemeriksaan AC secara rutin, setidaknya satu tahun sekali. Pemeriksaan dapat mencakup tekanan freon, evaporator, blower, serta filter kabin.

Lewat perawatan rutin dan penggunaan yang tepat, kinerja AC dapat tetap optimal sekaligus membantu mencegah kerusakan komponen yang biaya perbaikannya tidak sedikit.