Cerita Rakhmad Awalnya Berburu Kijang Diesel Lawas, Malah Boyong Proton Exora

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proton Exora 2009 Blue Haze. Foto: Dok. Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Proton Exora 2009 Blue Haze. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Memilih mobil bekas tidak selalu soal mencari harga yang paling murah. Kebutuhan penggunaan sehari-hari, konsumsi bahan bakar, hingga kemampuan membawa penumpang dan barang juga menjadi pertimbangan sebelum seseorang menentukan pilihan.

Bagi Rakhmad Hamira, kebutuhan tersebut membuatnya sempat berpindah dari satu mobil ke mobil lain. Pengalaman itu bermula ketika Rakhmad masih menggunakan Toyota Kijang lansiran tahun 1993. Mobil tersebut memang terasa tangguh, tetapi konsumsi bahan bakarnya membuat ia mulai mempertimbangkan kendaraan lain.

"Awal saya mau mencoba Proton Exora, saat itu pertama kali pakai mobil Kijang Grand tahun 1993 itu agak boros, ya walaupun muat banyak. Konsumsi BBM-nya sekitar 8 sampai 11 kilometer per liter," ujarnya kepada kumparan saat dihubungi, Rabu (9/9).

Dari situ, pencarian Rakhmad mengarah ke mobil bermesin diesel. Selain dikenal lebih irit bahan bakar, ia tertarik pada karakter torsi mesin diesel yang dianggap lebih cocok untuk membawa banyak muatan.

Proton Exora Executive Tahun 2009. Foto: Dok. Rakhmad Amira

Rakhmad pun mulai mencari mobil diesel bekas melalui iklan dan beberapa kali mendatangi langsung unit yang ditawarkan. Salah satu yang ia temui berada di kawasan Kartosuro, Jawa Tengah, tetapi kondisinya justru membuatnya mengurungkan niat.

"Saya dua kali coba mencari mobil diesel. Salah satu mobil kondisinya mengkhawatirkan karena bekas mobil operasional. Kedua saya cek Kijang Diesel tahun 1997 di daerah Bantul. Saya cobain baru pertama coba mobil diesel kok terasa lemot sekali dan kondisi juga kurang bagus," terangnya.

Dua pengalaman tersebut membuat Rakhmad kembali mencari alternatif lain di pasar mobil bekas. Saat itulah ia menemukan sebuah iklan Proton Exora di Facebook yang menarik perhatiannya.

Iklan tersebut menawarkan Exora sebagai mobil yang nyaman seperti Toyota Innova, tetapi memiliki harga lebih terjangkau dan konsumsi BBM seperti Avanza. Klaim tersebut membuat Rakhmad penasaran dan mulai mencari informasi lebih jauh sebelum mengambil keputusan.

Tampilan interior Proton Exora Executive Tahun 2009. Foto: Dok. Rakhmad Amira

"Ketemu iklan di Facebook. Dapat unit dengan kilometer 88 ribu itu tidak sengaja ya. Awalnya itu mobil atas nama pemilik pertama orang Jakarta karena butuh uang dibeli saudaranya di Karangnyar, Jawa Tengah. Mungkin jarang dipakai ya karena orang itu juga ada mobil lain," tambah Rakhmad.

Setelah melakukan riset, Rakhmad akhirnya menemukan unit Exora Executive tahun 2009 berwarna hitam dengan transmisi manual. Sebagian besar komponen masih dalam kondisi orisinal sehingga tidak perlu banyak perbaikan.

Rakhmad akhirnya memutuskan membeli Exora tersebut pada 2018 dengan harga Rp 64 juta. Pada masa awal penggunaan, ia mulai menemukan beberapa bagian yang perlu diperbaiki.

Proton Exora Executive Tahun 2009. Foto: Dok. Rakhmad Amira

"Dalam satu sampai dua tahun pertama baru tahu apa saja yang butuh perbaikan, tapi beberapa bagian saja. Di radiator pernah upper tank dan pipa bypass-nya keropos, mungkin korosi karena penggunaan air biasa. Saat itu diservis sampai sekarang aman tanpa kebocoran, paling dibersihkan saja biayanya sekitar Rp 350-400 ribu,"lanjutnya.

Exora kemudian tidak hanya digunakan sebagai kendaraan keluarga, tetapi juga ikut menunjang aktivitas usaha Rakhmad. Dirinya pernah menggunakan mobil tersebut untuk muatan 8 penumpang dan 30 gas LPG. Ada pula pengalaman mengangkut motor Honda BeAT sampai meja dan kursi berukuran besar.

Berbagai pengalaman tersebut membuat Rakhmad merasa pilihannya meninggalkan Kijang 1993 dan beralih ke Exora bukan sekadar soal mencari mobil yang lebih irit. MPV tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan transportasi keluarga sekaligus mendukung aktivitasnya sehari-hari.