Tekan Balap Liar, Malaysia Mau Naikkan Batas Usia SIM Motor

Malaysian Institute of Road Safety Research (MIROS) mengusulkan batas usia minimum SIM motor di Malaysia naik dari 16 menjadi 18 tahun. Usulan ini bertujuan untuk menekan balap liar yang sering melibatkan anak di bawah umur.
Ketua MIROS, Wong Shaw Voon, mengatakan bahwa di Malaysia sudah ada anak berusia 12 tahun yang mengendarai motor. Pengendara di bawah umur itu berasal dari siswa sekolah dasar sampai menengah dan semuanya terpapar risiko kecelakaan serta balap liar.
“Banyak anak di bawah umur tidak peduli batas usia dinaikkan atau tidak, karena mereka memang sudah berkendara secara ilegal. Kalau kelompok ini tidak ditangani lebih dulu, perubahan batas usia tidak akan memberi hasil berarti,” kata Wong dalam laporan Paultan.
Menurutnya, anak-anak yang dibiarkan melanggar hukum sejak dini juga bisa kehilangan rasa hormat pada hukum dan aparat. Orang tua dan pemangku kepentingan lainnya dinilai harus ikut bertanggung jawab, bukan hanya pemerintah.
Usulan ini muncul setelah amendemen Undang-Undang Angkutan Jalan 1987 (Act 333) berlaku. Lewat Undang-Undang Transportasi Jalan (Amandemen) 2026, pelaku balap liar dan berkendara ugal-ugalan bisa didenda hingga RM 10.000 (sekitar Rp 44 jutaan).
Aturan baru itu juga memperkuat penindakan terhadap sindikat tonto, yakni pengintai operasi penegakan hukum, serta mempercepat digitalisasi layanan Departemen Angkutan Jalan (JPJ).
Sementara itu, Presiden Malaysian Institute of Transport and Logistics Charter (CILTM), Muhammad Zaly Shah Muhammad Hussein, mengatakan kenaikan batas usia bisa mengurangi paparan risiko jalan bagi pengendara muda, asalkan mereka mematuhi hukum.
“Kami butuh data para pelanggar sebelum menentukan seberapa jauh langkah ini membantu. Saat ini bukti kami belum cukup untuk menjanjikan persentase penurunan tertentu,” ujarnya.
Zaly menyebut penurunan kecelakaan dan penekanan balap liar adalah dua hasil berbeda yang harus dinilai terpisah. Kenaikan batas usia juga perlu didukung bukti bahwa manfaat keselamatannya lebih besar daripada dampak terhadap akses pendidikan.
Di sisi lain, Menteri Perhubungan Malaysia, Anthony Loke, sedang mengkaji usulan tersebut. Menurutnya, masalah ini perlu dipertimbangkan secara serius dan sampai saat ini belum ada keputusan yang dibuat mengenai perubahan usia minimum untuk mendapatkan SIM sepeda motor.
“Usulan itu telah dibahas bertahun-tahun yang lalu, tapi pro dan kontra. Jika batas usia dinaikkan, siswa sekolah menengah tidak bisa mendapatkan SIM. Ini juga akan menjadi masalah karena siswa akan mengendarai sepeda motor tanpa SIM yang sah,” kata Loke dalam laporan Malaysia Mail.
