Ternyata Busa Latex Bukan Jaminan Jok Motor Nyaman

Beberapa tahun terakhir, ramai pengendara yang melakukan modifikasi pada jok motor dengan busa latex karena dinilai lebih nyaman. Bahan tersebut dikenal memiliki karakter lebih kenyal dan padat dibandingkan dengan busa standar.
Faktanya penggunaan busa latex tidak serta-merta membuat jok motor menjadi lebih nyaman. Zain, pemilik usaha modifikasi jok motor, mengatakan bahwa kenyamanan jok tetap bergantung pada postur pengendara dan karakter busa bawaan motor.
"Kalau busa latex itu ngelihat tinggi badan juga ya. Kalau tinggi di atas 180 cm dan berat lebih dari 80 kg itu lebih baik pakai busa ori pabrikan. Kalau tinggi badannya standar (sekitar 165 cm) lebih enak pakai latex," ungkapnya saat ditemui di Pondok Ranggon, Jakarta Timur.
Selain pemilihan material, teknik pemasangan juga turut menentukan ketahanan dan kenyamanan jok. Zain mengatakan penggunaan latex sebaiknya dikombinasikan dengan busa baru sebagai lapisan di bagian atas.
Ia menyebut jok yang dikerjakan dengan metode tersebut dapat tetap nyaman digunakan hingga satu sampai dua tahun. Sebaliknya, penggunaan latex tanpa lapisan busa tambahan justru membuat jok lebih cepat ambles.
“Kalau cuma sekadar pakai latex, dipakai sebulan juga nanti langsung ambles. Walaupun mau dua lapis, mau tiga lapis, itu langsung ambles kalau tidak ditumpuk pakai busa baru lagi,” jelasnya.
Dia bilang, pemasangan busa latex di jok motor memiliki cara khusus dan tidak bisa asal. Bila busa bekas atau bertekstur keras ditumpuk ke busa latex, maka akan mengurangi kenyamanan dan juga keempukannya.
Zain juga menegaskan bahwa tidak semua motor cocok menggunakan busa latex. Karakter busa bawaan jok menjadi salah satu pertimbangan.
Motor dengan busa bawaan yang sudah empuk dinilai tidak membutuhkan tambahan latex. Sebaliknya, beberapa motor dengan karakter jok lebih keras lebih cocok menggunakan material tersebut.
Kenali Ciri Busa Latex Palsu
Di sisi lain, pria yang sudah memulai usaha modifikasi jok motor sejak 2011 itu mengingatkan konsumen untuk memperhatikan kualitas latex yang digunakan. Menurutnya, material latex berkualitas rendah memiliki karakter berbeda ketika disentuh dan lebih cepat kehilangan kepadatannya.
“Kalau yang palsu, dipegang itu agak kasar. Bahannya gampang rusak sama gampang banget kempes,” kata Zain singkat.
Ia menambahkan, perbedaan antara latex asli dan palsu tidak selalu terlihat secara kasat mata. Konsumen yang belum terbiasa akan lebih sulit membedakannya hanya dengan melihat bentuk material.
“Kalau dari kasat mata dilihat, sebenarnya gak ada perbedaan. Cuma pas dipegang, kita yang biasa pegang tahu persis mana yang palsu dan mana yang asli,” tuturnya.
Bicara harga, Zain memasang tarif pemasangan busa latex mulai Rp 170-280 ribuan untuk motor sedang seperti Honda Vario dan Beat. Sementara motor besar seperti Honda PCX, ADV, Yamaha NMAX, dan Aerox dibanderol sekitar Rp 350 ribuan.
Penggunaan busa latex pada jok motor tidak bisa dianggap sebagai solusi universal untuk meningkatkan kenyamanan. Pemilihan material, teknik pemasangan, karakter jok bawaan, sampai postur pengendara perlu disesuaikan agar hasil modifikasi lebih maksimal dalam meningkatkan kenyamanan berkendara.
