Toyota Terapkan Prinsip AMAP, Lebih dari 200 Wanita Bekerja di Lini Produksi

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif di fasilitas perakitan kendaraan mereka. Langkah ini diwujudkan dengan meningkatkan jumlah pekerja wanita di lini produksi pabrik.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, I Nyoman Winaya, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pekerja perempuan ini didasari oleh penerapan prinsip kesetaraan yang profesional. Kebijakan tersebut dirancang agar seluruh elemen pekerja dapat berkontribusi aktif dalam merakit mobil Toyota.
"Saat ini kami menerapkan prinsip All Member All Process (AMAP). Artinya, setiap anggota tim dengan berbagai kondisi dan latar belakang, termasuk usia, gender, maupun kondisi fisik tertentu, memiliki kesempatan untuk bekerja di berbagai proses sesuai dengan kompetensinya," jelasnya di Karawang, Jawa Barat, Selasa (29/9).
Penerapan prinsip ini juga didukung oleh penyediaan berbagai fasilitas yang memanfaatkan teknologi untuk meringankan beban kerja di area perakitan yang membutuhkan tenaga ekstra.
"Kami juga menyesuaikan pekerjaan dengan kebutuhan masing-masing individu, antara lain melalui penggunaan alat bantu seperti karakuri. Saat ini, jumlah pekerja wanita di fasilitas produksi TMMIN telah mencapai lebih dari 200 orang," tambahnya.
Selain fokus pada inklusivitas gender, TMMIN terus menjalankan program otomatisasi mesin secara bertahap di beberapa sektor produksi. Langkah modernisasi ini diimbangi dengan peningkatan keahlian para pekerja.
"Di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa kemampuan dan kompetensi karyawan terus dikembangkan untuk menyesuaikan keterampilan dengan kebutuhan proses produksi yang terus berkembang termasuk dalam pemrograman dan kompetensi bidang teknologi," terang Nyoman.
Mengenai isu stabilitas industri otomotif nasional, TMMIN berupaya keras untuk menjaga kinerja ekspor ke berbagai negara tujuan demi mengimbangi pasar domestik. Strategi ini sangat penting untuk menjaga kestabilan operasional perusahaan di tengah dinamika ekonomi global.
Langkah penyelamatan bisnis ini juga berdampak langsung pada keberlangsungan hidup ratusan perusahaan pemasok komponen lokal yang bermitra dengan Toyota. Sinergi yang kuat di dalam ekosistem ini menjadi kunci utama untuk menghindari kebijakan pengurangan karyawan atau PHK.
"Prioritas kami adalah menjaga agar ekosistem otomotif tetap berjalan dengan baik. Kami berkomitmen untuk memastikan keberlangsungan tenaga kerja di dalamnya tetap terjaga," tutupnya.
