Konten dari Pengguna

Kenapa Gen Z Kalap Belanja Padahal Tabungan Tipis?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alvin Adrian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alvin Adriansyah Malik

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Seorang wanita muda yang membawa barang belanjaan banyak sedang membayar barang yang baru Ia beli | Foto: Generated by Gemini (AI)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita muda yang membawa barang belanjaan banyak sedang membayar barang yang baru Ia beli | Foto: Generated by Gemini (AI)

​Pernah gak sih kamu melihat saldo rekening yang tinggal sedikit, merasa pusing karena tabungan gak nambah-nambah, tapi anehnya tanganmu malah refleks checkout barang branded atau tiket konser seharga jutaan rupiah?

​Kalau jawabannya iya, tenang aja, kamu gak sendirian kok. Fenomena unik tapi agak seram ini punya istilah sendiri, namanya Doom Spending.

​Sederhananya, doom spending adalah kebiasaan belanja impulsif demi menghibur diri sendiri, justru di saat kondisi keuangan kita lagi seret atau pas ekonomi lagi susah. Bukannya malah berhemat karena mikirin masa depan, anak muda zaman sekarang justru punya prinsip "yang penting happy hari ini".

​Ilusi Beli Kebahagiaan Sekarang

Seorang pria sedang melihat barang-barang di Online Shop | Foto: Generated by Gemini (AI)

​Ini adalah kondisi di mana kita memakai kegiatan belanja sebagai obat atau pelarian dari rasa cemas. Ketika kita merasa impian besar seperti beli rumah atau tanah sudah gak masuk akal lagi karena harganya selangit, otak kita secara otomatis bakal mencari jalan pintas untuk mencari kebahagiaan instan.

​Jalan pintas itu wujudnya adalah kesenangan-kesenangan kecil yang bisa langsung dinikmati saat ini juga. Karena merasa gak bakal mampu beli rumah, uangnya dialihkan buat beli hal lain: ngopi susu kekinian tiap hari, baju baru yang lagi tren, sampai jalan-jalan singkat di akhir pekan. Belanja akhirnya berubah fungsi, bukan lagi buat memenuhi kebutuhan fisik, tapi jadi tameng pelindung alias coping mechanism biar kita gak stres.

​Jebakan Validasi Media Sosial

​Pas kita lagi cemas mikirin masa depan, algoritma media sosial malah sering menyuguhkan konten orang lain yang kelihatan lagi bersenang-senang. Ujung-ujungnya, muncul rasa takut ketinggalan tren atau yang biasa kita sebut FOMO (Fear of Missing Out). Kita pun mulai ikutan beli barang-barang mahal yang sebenarnya di luar batas kemampuan dompet kita, cuma demi dibilang keren atau biar merasa "nyambung" sama lingkaran pertemanan.

​Mengubah Cara Pandang: Bahagia Gak Harus Bikin Kantong Jebol

​Menghibur diri setelah lelah kerja atau kuliah itu sah-sah saja dan sangat manusiawi. Tapi, kalau menjadikan belanja sebagai satu-satunya obat penenang setiap kali stres, hal ini bisa jadi bom waktu yang bakal merusak keuangan kita ke depannya.

​Kunci utama buat keluar dari lingkaran setan ini adalah dengan mulai belajar sadar penuh saat mengonsumsi sesuatu. Sebelum mengklik tombol bayar buat barang-barang yang sifatnya impulsif, coba berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri: "Gua beneran pengen barang ini, atau gua cuma lagi stres dan butuh pelarian aja?"

​Masa depan mungkin kelihatan penuh ketidakpastian. Tapi, menghabiskan seluruh isi dompet untuk kesenangan sekejap juga bukan jalan keluar yang pas. Menemukan cara bahagia yang lebih sehat tanpa harus menguras tabungan adalah bentuk rasa sayang terbaik untuk diri kita di masa depan nanti.