Konten dari Pengguna

Gelar Sarjana Filsafat Sudah Mati, Mari Kita Kubur Baik-baik

Alvin Hardian

Alvin Hardian

Penelaah Teknis Kebijakan di Kementerian UMKM. Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Manajemen Keuangan Mikro Terpadu di Universitas Padjadjaran.

·waktu baca 5 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alvin Hardian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi patung seorang Filsuf (Sumber: https://unsplash.com/@samtakespictures).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi patung seorang Filsuf (Sumber: https://unsplash.com/@samtakespictures).

Mari kita jujur: di tengah hiruk pikuk kecerdasan buatan, tuntutan ekonomi yang serba cepat, dan masyarakat yang gandrung pada hasil instan, gelar Sarjana Filsafat (S.Fil.) adalah sebuah anakronisme. Ia bagai relik agung di museum peradaban; indah untuk dipandang, penting secara historis, tapi terputus dari realitas fungsional dunia modern. Debat publik seperti yang digagas Ferry Irwandi baru-baru ini bukanlah pemicu, melainkan gejala dari kematian yang sudah lama terjadi. Sudah saatnya kita berhenti menyangkal dan mulai merancang upacara pemakaman yang layak, bukan untuk membunuh filsafat, tapi justru untuk melepaskan ruhnya dari jasad institusional yang kaku dan tak lagi relevan.

Diagnosis Psikologis: Masyarakat Pragmatis Alergi Abstraksi

Masalahnya bukan pada filsafat itu sendiri. Menyalahkan filsafat karena tidak menghasilkan uang adalah seperti menyalahkan fondasi karena tidak terlihat seindah arsitektur di atasnya. Masalah sesungguhnya terletak pada benturan psikologis antara kemasan Jurusan Filsafat dengan kondisi kejiwaan masyarakat kontemporer.

Secara psikologis, masyarakat modern Indonesia beroperasi dalam mode "pragmatisme bertahan hidup". Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 menunjukkan bahwa dari 153,05 juta angkatan kerja, tingkat pengangguran terbuka masih di angka 4,76%. Dalam kondisi ini, pikiran kolektif kita secara alami terkalibrasi untuk mencari jalur tercepat menuju stabilitas finansial dan relevansi profesi. Pendidikan dilihat sebagai investasi dengan ekspektasi Return on Investment (ROI) yang jelas dan terukur.

Jurusan Filsafat, dengan metodologinya yang dekonstruktif, penuh keraguan, dan mengawang pada tataran meta-abstraksi, secara fundamental bertentangan dengan kebutuhan psikologis ini. Ia meminta mahasiswa untuk menunda kepastian, sementara dunia di luar kampus menuntut keahlian spesifik. Ini menciptakan disonansi kognitif massal: masyarakat memandang lulusan filsafat sebagai produk "gagal" atau "tidak praktis", bukan karena mereka bodoh, tetapi karena keahlian mereka tidak terkonversi langsung menjadi mata uang fungsional di pasar kerja yang brutal. Stereotip "lulusan filsafat jadi pengangguran" bukanlah fitnah, melainkan persepsi logis dari kacamata psikologi-ekonomi masyarakat.

Ilusi Relevansi: Ibu yang Tak Lagi Menyusui Anaknya

Para pembela Jurusan Filsafat—seperti yang terdengar dalam diskusi publik dan tercermin dalam berbagai literatur—akan segera menyajikan argumen klasik: filsafat adalah mater scientiarum, ibu dari segala ilmu. Ia mengajarkan berpikir kritis, etika, dan logika—kemampuan yang justru krusial di era disrupsi teknologi. Argumen ini 100% benar secara teoretis, namun 90% gagal dalam implementasi praktisnya.

Faktanya, Jurusan Filsafat telah gagal menjadi "ibu" yang efektif. Ia mengisolasi diri di menara gading, melahirkan para pemikir yang fasih berdebat tentang "hakikat keadilan" tetapi gagap ketika harus menerapkannya dalam algoritma fintech atau kebijakan publik. Sementara itu, "anak-anaknya"—para mahasiswa teknik, kedokteran, ekonomi—yang justru paling membutuhkan ASI (Air Susu Ibu) berupa etika dan pemikiran kritis, dibiarkan kelaparan atau hanya diberi suplemen dangkal berupa satu-dua mata kuliah dasar umum (MKDU) Filsafat Ilmu yang sering kali dianggap sebagai beban SKS.

Hasilnya? Kita punya para insinyur yang bisa membangun kecerdasan buatan canggih tanpa memahami implikasi etisnya. Kita punya para ekonom yang merancang produk keuangan predator. Saya sebagai mahasiswa di bidang Keuangan Mikro, melihat langsung bagaimana inovasi tanpa nurani bisa menghancurkan kehidupan masyarakat rentan.

Sebuah mata kuliah Filsafat Ekonomi saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah integrasi pemikiran filosofis yang mendalam tentang keadilan dan etika modal ke dalam setiap sendi kurikulum ekonomi.

Solusi Radikal: Eutanasia Institusional dan Reinkarnasi Fungsional

Maka dari itu, usulannya bukanlah membakar buku-buku Plato. Sebaliknya, ini adalah proposal untuk melakukan "eutanasia" terhadap Jurusan Filsafat sebagai sebuah entitas yang terisolasi, dan mereinkarnasikan ruhnya ke dalam setiap disiplin ilmu yang relevan.

Langkah konkretnya:

  1. Hapuskan Program Studi S1 Filsafat Murni. Hentikan penerimaan mahasiswa baru untuk program yang menghasilkan gelar "Sarjana Filsafat". Ini adalah langkah paling provokatif namun paling perlu. Sumber daya yang ada (dosen, fasilitas) tidak dihilangkan, tetapi dialihkan.

  2. Integrasikan Filsafat sebagai "Jalur Peminatan Wajib" di Fakultas Lain. Ciptakan konsentrasi atau stream filsafat terapan yang wajib diambil oleh mahasiswa di bidang masing-masing. Bukan lagi sekadar mata kuliah pilihan, melainkan serangkaian mata kuliah mendalam yang terstruktur.

  • Fakultas Teknik & Ilmu Komputer: Wajib mengambil jalur "Filsafat Teknologi & Etika AI". Mereka akan belajar mulai dari etika drone otonom hingga bias dalam algoritma machine learning.

  • Fakultas Kedokteran & Biologi: Wajib menempuh jalur "Bioetika dan Filsafat Kehidupan". Mereka akan bergulat dengan isu kloning, rekayasa genetika, dan hakikat hidup-mati.

  • Fakultas Ekonomi & Bisnis: Wajib mendalami "Filsafat Ekonomi & Keadilan Distributif". Mereka akan membedah etika kapitalisme, keadilan pajak, hingga moralitas di balik microfinance.

  • Fakultas Hukum: Memperkuat "Filsafat Hukum" dari sekadar teori menjadi studi kasus tentang bagaimana hukum dibentuk dan seringkali gagal mencapai keadilan substantif.

Dengan model ini, filsafat tidak lagi menjadi produk akhir yang canggung, melainkan menjadi sistem operasi yang berjalan di latar belakang setiap profesional. Ia menjadi relevan secara kontekstual. Seorang insinyur tidak hanya belajar bagaimana membangun jembatan, tetapi juga mengapa dan untuk siapa jembatan itu dibangun.

Ini bukan pembunuhan, ini adalah evolusi. Mengubur jasad institusional Jurusan Filsafat adalah satu-satunya cara agar ruh filsafat bisa bangkit kembali, lebih kuat, lebih relevan, dan merasuki setiap sendi kemajuan peradaban, khususnya Indonesia. Sudah waktunya kita berhenti meromantisasi masa lalu dan mulai merekayasa masa depan intelektual yang lebih fungsional.