Konten dari Pengguna

Musim Buah Langsat Telah Tiba, Si Kecil Manis yang Kaya Manfaat

alvionita

alvionita

MAHASISWA D3 FARMASI UNIVERSITAS AL- IRSYAD CILACAP

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alvionita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Langsat : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto Langsat : Dokumen Pribadi

Di antara deretan buah tropis khas Indonesia, langsat punya tempat tersendiri di hati banyak orang. Buah kecil berwarna kuning kecokelatan ini kerap hadir musiman dan selalu berhasil mencuri perhatian di pasar tradisional. Sekilas tampilannya mirip duku, tapi bagi pencinta buah lokal, langsat punya karakter rasa dan tekstur yang berbeda.

Langsat biasanya tumbuh bergerombol pada tangkai panjang. Kulitnya tipis, agak bergetah, dan memiliki bintik-bintik kecil di permukaannya. Saat dibuka, terlihat daging buah berwarna putih bening yang terasa lembut di mulut. Rasanya manis dengan sedikit sentuhan asam, memberikan sensasi segar yang pas untuk dinikmati di siang hari. Di balik dagingnya, terdapat biji kecil yang pahit sehingga tidak dikonsumsi.

Buah ini banyak tumbuh di wilayah beriklim tropis seperti Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Jawa. Saat musim panen tiba, harga langsat relatif terjangkau dan mudah ditemukan. Tak heran, buah ini sering menjadi pilihan camilan alami yang praktis tanpa perlu diolah terlebih dahulu.

Selain rasanya yang menyegarkan, langsat juga memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Buah ini mengandung vitamin C yang berperan sebagai antioksidan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Kandungan seratnya juga cukup baik untuk melancarkan sistem pencernaan. Bagi sebagian orang, mengonsumsi langsat menjadi cara sederhana untuk menambah asupan buah harian.

Menariknya, pemanfaatan langsat tidak hanya terbatas pada daging buahnya. Dalam pengobatan tradisional, kulit buah langsat yang dikeringkan kerap digunakan sebagai ramuan untuk mengatasi diare. Sementara itu, bijinya dikenal pahit dan secara tradisional dipercaya memiliki khasiat tertentu, meski penggunaannya perlu kehati-hatian.

Dari sisi budidaya, pohon langsat membutuhkan waktu beberapa tahun hingga siap berbuah. Namun, sekali berbuah, hasilnya bisa cukup melimpah. Pohon ini cocok ditanam di tanah gembur dengan curah hujan yang cukup, sehingga sangat sesuai dengan kondisi alam Indonesia.

Di tengah gempuran buah impor, keberadaan langsat menjadi pengingat akan kekayaan buah lokal Nusantara. Rasanya yang manis, tampilannya yang khas, serta nilai gizinya menjadikan langsat layak untuk terus dikonsumsi dan dilestarikan. Saat musimnya tiba, menikmati langsat bukan sekadar soal rasa, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap hasil alam negeri sendiri.