Konten dari Pengguna

Jangan Sekadar Minum, Pahami Adabnya: Membedah Makna Hadis Nabi Saw

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alwan Faraz Fachrial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan berbagai kebiasaan tanpa memikirkan makna di baliknya. Salah satunya adalah minum sambil berdiri. Kebiasaan ini kerap dijumpai di sekolah, tempat kerja, maupun tempat umum. Banyak orang melakukannya karena terburu-buru atau menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa kebiasaan sederhana tersebut juga dibahas dalam ajaran Islam?

Sebagai umat Islam, kita tentu mengetahui bahwa Hadis merupakan salah satu pedoman hidup setelah Al-Qur'an. Hadis berisi perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad saw. yang dapat menjadi tuntunan bagi umatnya. Salah satu hadis yang menarik untuk dikaji adalah sabda Nabi Muhammad saw. yang berbunyi “Lā yasyrobanna aḥadukum qā’iman”, yang berarti “Janganlah salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.” hadis ini diriwayatkan oleh Imam Sahih Muslim (Muttaqaun alaih)

Menurut pendapat saya, hadis tersebut bukan sekadar membahas posisi tubuh ketika minum, melainkan juga mengingatkan kita agar memperhatikan adab dalam kehidupan sehari-hari. Saya berpendapat bahwa ajaran agama tidak hanya berkaitan dengan ibadah besar, seperti salat dan puasa, tetapi juga mencakup kebiasaan sederhana yang sering kita lakukan. Oleh karena itu, memahami hadis ini merupakan salah satu cara untuk mengenal lebih jauh tuntunan Nabi Muhammad saw.

Bayangkan seorang siswa yang sedang beristirahat di sekolah. Karena waktu istirahat hampir selesai, ia segera mengambil botol minum dan meneguk air sambil berdiri. Baginya, tindakan tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Akan tetapi, setelah mempelajari hadis tentang larangan minum sambil berdiri, ia mulai menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari pun dapat menjadi bagian dari pembelajaran agama.

Sumber Sendiri

Menurut saya, peristiwa sederhana tersebut memberikan pelajaran bahwa memahami agama tidak cukup hanya dengan membaca atau menghafalkan teks hadis. Kita juga perlu merenungkan maknanya dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan. Meskipun demikian, memahami ajaran agama bukan berarti kita boleh langsung menyalahkan orang lain yang melakukan kebiasaan berbeda. Sebaliknya, kita perlu belajar dengan bijaksana sebelum memberikan penilaian.

Hal yang menarik adalah terdapat riwayat sahih lain yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. Pernah minum air zamzam sambil berdiri. Riwayat tersebut juga tercantum dalam Sahih Muslim. Jika diperhatikan, kedua riwayat ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai minum sambil berdiri tidak dapat disimpulkan hanya dengan membaca satu hadis secara terpisah.

Dalam pandangan saya, hal ini menjadi pengingat bahwa mempelajari hadis membutuhkan ketelitian dan pemahaman yang menyeluruh. Kita perlu mengetahui sumber hadis, memperhatikan riwayat lain yang berkaitan, serta mempelajari penjelasan para ulama. Para ulama sendiri membahas hukum minum sambil berdiri dengan mempertimbangkan berbagai riwayat tersebut. Oleh sebab itu, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang minum sambil berdiri pasti melakukan dosa.

Bagi saya, salah satu pelajaran penting dari hadis ini adalah pentingnya membiasakan diri untuk lebih memperhatikan adab. Ketika keadaan memungkinkan, kita dapat memilih untuk duduk terlebih dahulu sebelum minum sebagai bentuk kehati-hatian dalam mengikuti tuntunan yang dianjurkan dalam pembahasan adab makan dan minum. Namun, kebiasaan tersebut hendaknya disertai pemahaman yang benar, bukan sekadar mengikuti sesuatu tanpa mengetahui alasannya.

Selain itu, saya berpendapat bahwa mempelajari hadis juga dapat melatih kita agar tidak mudah menghakimi orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pemahaman agama terkadang menimbulkan perdebatan. Padahal, perbedaan tersebut dapat disikapi dengan saling menghormati dan belajar bersama. Menurut saya, sikap terbuka terhadap penjelasan ulama merupakan langkah penting agar kita tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan mengenai suatu ajaran.

Pada akhirnya, hadis tentang larangan minum sambil berdiri mengajarkan bahwa kebiasaan sederhana pun layak diperhatikan dalam kehidupan seorang muslim. Akan tetapi, pemahaman terhadap hadis harus disertai ketelitian agar kita tidak keliru dalam menafsirkan maksudnya. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang disampaikan dalam hadis, tetapi juga memahami bagaimana para ulama menjelaskannya.

Menurut pendapat saya, menjadi seorang muslim yang baik bukan berarti merasa paling benar dalam memahami agama, melainkan terus berusaha belajar, memperbaiki diri, dan menerapkan ajaran Islam dengan bijaksana. Dengan memahami hadis secara menyeluruh, kita dapat menjadikan ajaran Nabi Muhammad saw. sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menumbuhkan sikap rendah hati terhadap orang lain. Sebab, inti dari mempelajari agama bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih baik dalam perkataan, sikap, dan perbuatan.