Kisah Inspiratif, Bersyukur di Setiap Keadaan

Mahasiswa Jurnalistik, PNJ
Tulisan dari Alya Ramadhanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bertahan dengan kondisi seadanya, menyadarkannya bahwa hidup bukan sekedar tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, dan bukan tentang berapa kesenangan yang diperoleh. Banyak hal-hal kecil yang bisa dinikmati dan disyukuri.
Bu Ade, begitu sapaan orang-orang kepadanya. Seorang wanita paruh baya yang rela meninggalkan kenyamanan dan berjauhan dari pelukan orang tua serta saudara di kampung halamannya demi membangun dan mendalami sebuah makna kehidupan, bersama orang yang ia cintai.
Awal tahun 2017 ia menetap di desa terpencil di atas gunung, daerah Jawa Barat. Desa yang hanya ditinggali 20 keluarga. Sepi, sunyi, tentram, mungkin bisa menggambarkan suasana desa tersebut. Rumah warga pun berjauhan antar satu sama lain.
Ia memilih untuk mendirikan rumah di tengah hutan yang dikelilingi pohon-pohon besar. Bersama suami dan kedua anaknya ia tinggal di sebuah rumah berdinding dan beralaskan kayu yang sangat sederhana. Pekarangan rumah ia tanami bunga warna warni kesukaan putrinya. Halaman belakang rumah ia tanami sayur mayur dan buah-buahan untuk panganan sehari-hari.
Di bawah rumahnya terdapat kebun kopi dan sungai kecil, gemericik air jernih mengalir sehingga tampak bebatuan di dasar sungai. Suara kambing dan ayam yang ia pelihara menemani kesehariannya.
Cerita kehidupannya dan keluarga di atas gunung
Siang hari dirinya sedang memberantas tumbuhan-tumbuhan liar di kebun kopi, yang jaraknya tak jauh dari rumahnya, seseorang datang dan meneriakkan namanya, lantas ia segera menghampiri. Ia jamu tamu di sebuah bale bambu di teras rumah, dengan setoples keripik pisang yang ia olah dari hasil kebun di halaman belakang rumah serta seteko air putih menemani.
Ia bercerita tentang bagaimana perjuangannya hijrah dari kampung halamannya ke desa yang ia tinggali. Restu ibunya sudah ia kantongi, sanak saudara pun melepasnya dengan hati ikhlas. Sesampainya di desa, ia bersama suami sengaja membangun dan tinggal di rumah yang jaraknya berjauhan dengan tetangga lainnya. Alasannya karena ia ingin lebih mendekatkan diri dan memperbanyak ibadah kepada yang Maha Kuasa, dan tidak ingin terlalu banyak melakukan hal yang kurang bermanfaat.
Kebun kopi menjadi topangan mata pencahariannya dan suami. Desiran angin gunung dan teriknya matahari, terkadang pula turun hujan tak menghalangi semangatnya untuk mengurusi kebun kopi miliknya setiap hari. Ia harus menunggu satu tahun sekali untuk bisa memanen pohon kopinya. Hasil panennya pun tak seberapa, hanya cukup untuk biaya membeli bibit dan sisanya ditabung untuk keperluan sekolah anak-anaknya.
Sehari-hari ia hanya tinggal berdua dengan suami. Tetangga pun berjauhan, hanya seekor kucing bernama mili yang menemaninya di rumah saat suami pergi bekerja. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dan mensyukuri setiap hal yang ia lewati setiap harinya.
Anak-anaknya bersekolah di desa bawah, dan hanya pulang saat hari libur. Ia dan suami berjuang dan bekerja keras untuk bisa melihat kedua anaknya mendapatkan pembelajaran yang layak. "Saya mah bersyukur anak-anak mau sekolah di bawah sana. Nggak apa-apa jauh sama anak, biarin mereka belajar dan cari ilmu supaya sukses. Biar punya masa depan yang lebih baik," tuturnya. (AR)
